Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 116 MERESAPI NASIB


__ADS_3

"Suami aku mau cerai kan aku Bay." Ucapnya setelah puas menangis di pelukan lelaki yang selalu bisa memberikan ia kepu*asan. Menuruti segala kemampuannya sesuai dengan perjanjian yang mereka buat, sebelum akhirnya keduanya sepakat karena saling membutuhkan. "Semua fasilitas yang dia berikan ke aku, di ambil semua," perempuan itu mengusap wajahnya yang basah. "Aku bingung harus apa sekarang," bingung sendiri sekarang.


Ridwan memang royal terhadap sang istri, namun ia sepertinya belajar dari kesalahannya sendiri. Karena di pernikahan pertama, Ridwan bercerai dengan sang istri hingga habis-habisan karena banyak aset Ridwan yang menggunakan nama istri pertama.


"Gawat," batin Bayu. Otaknya seketika berputar untuk memikirkan nasib kedepannya.


"Kita sudah lumayan lama saling mengenal, kamu cinta kan sama aku?"


"Hah!" tentu saja Bayu terkejut mendengar penuturan perempuan yang duduk didekatnya.


"Aku nggak tahu mau tinggal dimana Bay. Aku boleh kan tinggal sama kamu disini," pinta perempuan yang nampak memohon.


"Enggak bisa," Bayu spontan berdiri. "Aku nggak bisa terima kamu di apartemen ini."


Perempuan itu menggenggam erat tangan Bayu. "Hubungan kita sudah sangat jauh Bayu. Aku bahkan menyimpan perasaan buat kamu. Perasaan ku bukan hanya untuk kesenangan ku diatas ranjang, tapi juga karena aku jatuh hati sama kamu." Ungkapnya dan berharap Bayu menerimanya.


Bayu menyempar kuat tangan perempuan yang kini sudah tidak akan menjadi sumber keuangannya. "Aku melakukan itu semua demi uang. Kamu tahu itu sejak awal. Jadi kalau kamu tidak bisa memberikan aku uang itu artinya aku tidak akan memua*skan mu lagi, dan perjanjian kita selesai."


"Aku pikir sikap lembut, perhatian dan kasih sayang kamu ke aku, karena kamu juga memiliki perasaan yang sama dengan ku, Bay."


Bayu tersenyum menyeringai. "Aku melakukan itu demi uang mu untuk memenuhi kebutuhan ku. Lagi pula mana mungkin aku jatuh hati dengan tante-tante seperti mu. Reina yang cantik dan seksi saja tidak meluluhkan hati ku apa lagi kamu perempuan yang sudah tua penggila se*ks." Ujar Bayi mengejek.


Sejujurnya, Bayu dibuat kewalahan dengan perempuan yang sudah berusia matang ini yang begitu menyukai se*ks dengan banyak gaya. Setiap kali mereka bertemu, Bayu tidak cukup memu*askan hanya dengan dua kali penyemprotan cairan milik Bayu. Kalau bukan karena uang, tentu saja Bayu sudah meninggalkan perempuan yang membuatnya kelelahan setiap kali bertemu.


Plak ...


Perempuan itu bangun dan langsung menampar kuat pipi Bayu. Ia benar-benar emosi dengan penghinaan yang di lontarkan Bayu barusan.


"Dasar lelaki kurang ajar. Haruskah kamu menyakiti aku sejauh ini dengan ucapan yang keluar dari mulut cabe mu itu?" ucapnya. "Dan jangan munafik Bayu, kamu bahkan melenguh puasa diatas tubuh ku yang kamu anggap sudah tante-tante ini."


Bayu mengusap pipinya yang memerah dan terasa panas. "Setidaknya aku berkata jujur untuk menyadarkan pantaskah diri mu buat aku."


"Kita ini sama-sama kotor. Jangan sok suci kamu Bay. Sekarang mungkin aku duluan yang jatuh dan terlunta-lunta, tapi bisa aku jamin. Tidak akan lama lagi kamu akan merasakan apa yang aku rasakan sekarang." Ucapnya. Ia kemudian menyeret kopernya untuk segera pergi dari sana.

__ADS_1


"Aku tidak akan bernasib seperti mu. Diluar sana, aku masih bisa menemukan perempuan yang lebih kaya dari kamu."


.


.


.


Sejak tadi, Nissa benar-benar di kuasai Reina. Ia bahkan tidak mau mengalah dengan Zen yang ingin bergantian tidur dipangkuan Nissa. Sedangkan Zen hanya bisa memainkan rambut panjang Kakaknya.


Setelah makan malam selesai, seperti biasa mereka semua berkumpul dan bercengkrama diruang keluarga. Hal wajib yang tidak boleh mereka tinggalkan saat berada di rumah.


"Kakak ini manja banget sama Nda. Kan seharusnya Zen yang manja Kak," ucap Zen sambil memainkan rambut panjang Reina yang tergerai.


"Anak laki-laki itu nggak boleh manja dek."


"Berarti kalau Zen sudah sebesar Ayah, Zen boleh dong manja-manja sama Nda?"


"Tuh Ayah dengerin kata Kak Re, Ayah itu sudah dewasa jadi nggak boleh manja ke Nda."


Nissa, Reina, dan Hendri sudah menahan kekehannya setelah mendengar ucapan Zen tadi.


"Loh kenapa jadi ke Ayah sih dek?" Yusuf ingin membela diri.


"Ya iyalah. Ayah kan biasanya juga manja ke Nda kaya Kak Re begini. Itu nggak boleh Ayah. Ayah kan sudah dewasa."


Tertawalah sudah mereka mendengar Yusuf yang sedang di nasehati anak laki-lakinya.


"Adek mau pegang perut Kakak enggak? Nih dedek bayinya gerak," tawar e.


"Mau dong Kak, mauuu ... " tentu saja tidak akan menolak.


Reina yang sejak tadi tidur miring menghadap perut Nissa, kini ia mengganti posisi tidurnya agar menghadap Zen.

__ADS_1


"Sini tangan Adek." Reina membawa tangan Zen agar merasakan pergerakan bayi yang di kandungnya.


"Wah dedeknya gerak kak." Meski ini bukan pertama kalinya bagi Zen, tapi ia selalu antusias dan sangat senang saat menyentuh perut Reina. "Kapan sih kak, dedek bayinya keluar. Zen kan sudah ingin punya dedek bayi seperti teman-teman Zen."


"Sabar dek, tiga bulanan lebih dedek bayinya akan lahir."


Nissa tersenyum dan mengusap puncak kepala Zen. "Makanya adek doakan kak Re dan dedek bayi agar sehat terus."


"Pasti dong Nda." Zen mengusap-usap perut Reina. "Dedek sehat terus sampai lahir ya. Nanti kalau sudah lahir, Om yang super ganteng dan baik hati ini pasti ajak dedek bayi main."


"Memangnya mau di ajak mainan apa dek?"


"Apa saja lah kak, yang penting dedeknya sama Zen."


.


.


.


Malam sudah semakin larut, tapi Hendri masih belum bisa memejamkan kedua matanya. Tangannya mengusap ranjang disisi sebelahnya yang jelas kosong tanpa ada Reina disana.


Hendri memeluk guling erat-erat. Sungguh tidak enak sekali karena tangannya tidak mendapatkan pekerjaan membelai tubuh istrinya yang biasanya tidur dalam dekapannya. Terlelap mengarungi mimpi sambil berpelukan.


"Kalau tahu akan fatal akibatnya setelah bertemu dengan mantan, akan lebih baik aku tidak bertemu lagi walau perpisahan dulu terjadi secara baik-baik," ucap Hendri frustasi. "Malam yang kelabu," gumamnya. "Semoga hanya malam ini saja aku disuruh tidur sendiri," Hendri begitu meresapi nasibnya. "Barusan juga tadi pagi melepas dahaga, kenapa sepertinya hilal puasa sudah mulai terlihat." gumam Hendri mulai menduga-duga akan nasibnya.


Bersambung...


Ada yang ngikutin novel aku yang ini ? Aku minta maaf karena belum bisa lanjutin ceritanya. Tapi insha Allah setelah novel ini selesai, aku akan lanjut kisah ReQaπŸ‘πŸ™ yang belum singgah yuk mampir 🀭



Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2