Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 51 PERMAINAN UTAMA 2


__ADS_3

Rasa tidak percaya saat menilai perlakuan sang istri kini di rasakan oleh Hendri.


Perempuan yang terlihat kalem dan anggun kini bertindak ganas tanpa di duga.


Perempuan yang biasanya bersikap kekanak-kanakan kini jauh dari kata polos. Bertingkah seperti perempuan yang pro player dalam segala hal termasuk pergerakan Reina yang membuat Hendri terus menganga karena desa*han yang terus keluar dari mulutnya.


Perempuan yang sebelumnya tidak peka dengan perasaan Hendri, kini tengah memberikan servis sebaik mungkin sesuai naluri yang keluar dari diri keduanya.


Ruangan kamar ini tidak hanya di penuhi dengan suara Hendri yang terus mende*sah keenakan dengan mata terpejam menikmati suasana.


Tapi juga suara Reina yang terus terpekik nikmat saat merasakan bagaimana dalamnya milik Hendri melesak masuk kedalam. Semakin lama semakin terasa penuh di dalam rongga surgawi Reina.


Sejak tadi kedua tangan Hendri mencengkram kuat pinggang Reina sambil membantu pergerakan Reina agar semakin cepat dan di hentakkan dengan sangat kuat. Walau kewalahan dengan ilmu amatiran, tapi Reina sangat suka hal ini.


Dan hal itu berhasil membuat mata Hendri yang baru terbuka menatap Reina, langsung berpindah pandang pada pergerakan dua lembah kembar yang bergerak karena mendapatkan goncangan yang sangat dahsyat.


Hendri tersenyum dan meremas lalu menarik pucuk mungilnya. Membuat Reina semakin terpekik apalagi Hendri melakukan hal itu secara bergantian.


"Ahhh... masss..."

__ADS_1


Tubuh Reina kembali mengejang. Siap akan meluncurkan sesuatu yang tertahan untuk kesekian kalinya.


"Tahan dulu sayang." Hendri sadar jika Reina akan sampai pada puncaknya. "Kita akhiri bersama-sama."


Hendri bergerak cepat dan membuat posisi mereka bergantian Lagi. Mengambil alih kendali untuk mendominasi Reina.


Hendri bergerak cepat kuat sampai Reina terus menjerit karena pergerakan yang jelas tidak terkendali. Kaki Reina spontan menbelit pinggang Hendri membuat sang empu semakin menjadi. Sampai pada akhirnya, mereka berdua berteriak puas sambil menyebut nama masing-masing, saat merasakan puncak yang membara.


Reina terkulai lemas namun detak jantungnya bekerja sangat aktif seolah sedang lari setelah sesuatu yang menahan dirinya keluar begitu saja.


Sedangkan Hendri kembali ambruk menimpa tubuh Reina setelah menyemburkan bibit bibit pilihan.


Hendri langsung menarik diri setelah nafas mereka berdua sudah kembali normal. Membuat cairan yang melimpah itu langsung tumpah begitu saja melewati kedua pa*ha Reina dan berhenti terserap ke seprai.


"Aku lelah mas." Tutur Reina pelan sambil memejamkan matanya. Saat Hendri mencium bergantian pucuk mungil dua lembah kembar dan kenyal.


"Aku tahu." Hendri mebelai wajah Reina sambil menyingkirkan anak rambut yang menempel memenuhi wajah Reina akibat dari banyaknya keringat yang mereka hasilkan.


Pelan-pelan Reina membuka matanya, menatap Hendri dengan wajah satunya.

__ADS_1


"Tidurlah."


"Aku mau peluk mas." Rengek Reina manja dengan suara yang jelas sangat pelan. Sikapnya sudah terasa berubah seketika.


"Tentu ratu ku."


Hendri langsung mengambil selimut yang sudah jatuh ke lantai akibat dari goncangan kuat mereka tadi. Hendri langsung menutupi tubuh tanpa benang yang sudah beraroma percintaan. Lalu meraih tubuh Reina agar Hendri peluk dengan erat.


"Kita tidur sekarang."


Tanpa memberikan tanggapan ucapan Hendri, Reina lebih memilih memeluk Hendri erat seolah tidak ingin kehilangan.


Mungkin karena terlalu lelah, Keduanya langsung hanyut kedalam alam mimpi yang begitu indah.


Bersambung...


Berdosa banget kamu jari laknut 😣😣😣


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2