Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 75 GHIBAHIN ORANG TUA


__ADS_3

Setelah pekerjaan selesai Reina dan Gita langsung keluar dari lokasi pemotretan. Sejak ucapan asal Reina tadi juga membuat Gita dan Andi jadi salah tingkah jika mereka berdua berpapasan. Gita sendiri jadi sedikit menghindari Reina karena tidak mau terus di usili.


"Mbak Git, tolong antar aku pulang ke rumah ya mbak." Pinta Reina sambil fokus pada layar ponselnya.


"Iya bu. Tapi sekarang ibu tinggal dimana?"


"Setelah dari luar negeri aku ikut mas Hen. Antar aku ke rumah pak bos saja mbak."


"Siap bu." Gita terus fokus dengan kemudinya. Setiap waktu jalanan ibu kota selalu saja ramai dengan lali lalang kendaraan.


Setelah selesai berbalas pesan dengan sang suami, Reina langsung memasukkan ponsel pintarnya kedalam tasnya.


"Mbak Git, dapet Andi juga nggak apa-apa loh mbak." Tanpa basa-basi Reina kembali membahas hal yang membuatnya Gita dan Andi salah tingkah sendiri.


"Bu Reina. Tolong jangan bahas itu lagi ya bu. Saya malu." Pinta Gita terlihat memelas.


"Loh kenapa malu mbak?"


"Lagi pula mana mungkin saya sama Andi bu. Apalagi umur saya lebih tua."


"Itu artinya mbak tertarik kan sama Andi." Tebak Reina yang membuat wajah Gita memerah malu. "Hayo ngaku mbak."


"Nggak Bu. Bukan begitu." Elak Gita gelagapan.


"Lagian apa salahnya coba mbak sama Andi kalau memang kalian sama-sama tertarik."


"Aneh lah bu, masak yang perempuan lebih tua."

__ADS_1


"Mbak Git, artis Andika sama Ussy saja lebih tua yang perempuan buktinya bisa menikah dan terlihat bahagia. Siapa lagi yaaa... emmm... oh itu artis Darius sama Dona itu juga kalau nggak salah brondong tapi mereka ya harmonis. Siapa lagi coba yang mbak tahu."


"Tapi kan mereka Artis bu."


"Ini bukan masalah artis atau bukan artis mbak. Diluar sana aku yakin masih banyak orang yang menikah dengan brondong. Hanya saja karena nggak ke ekspos jadi mbak menganggapnya aneh."


"Tapi tetap saja bu, itu aneh buat saya."


"Kita nggak tahu takdir loh mbak. Kita ambil contoh saja itu pak bos dapat istri yang saat itu masih umur 20 tahun, seusia anaknya. Ibu Nissa itu kalau mau memilih seharusnya bisa saja dapat pasangan hidup yang seumuran, yang masih muda. Bukannya om om yang sudah tua beranak satu."


"Tapikan pak bos tuanya di umur bukan di wajah bu."


"Nah itu nasib baiknya pak bos. Coba saja kalau wajahnya benar-benar sudah tua, brengosan, gembrot, perut buncit. Aku yakin perempuan secantik bu Nissa tidak akan mau dengan duda seperti itu."


Reina dengan tingkat julidnya, ngeghibahin kedua orang tuanya. Membuat Gita ingin terkekeh namun ia tahan karena rasa sungkan.


"Ibu ini ada-ada saja. Kalau pun pak Yusuf tidak setampan dan sewibawa seperti yang kita tahu. Kalau namanya takdir siapa yang tahu."


"Iya bu saya tahu. Tapi ini kita sudah sampai bu."


"Lah kok moro-moro wes tekan omah." Ucap Reina sambil celingukan melihat area sekitar.


"Ibu sih terlalu semangat, ghibahin pak bos."


"Sssttt... ini rahasia kita berdua loh mbak. Kalau sampai gaji aku di potong. Itu artinya mbak yang bocorin ini semua." Ucap Reina. Ia langsung keluar dari mobil setelah melepas sabuk pengaman. "Hati-hati ya mbak. Dan terimakasih."


"Iya. sama-sama bu Reina." Gita langsung kembali melajukan mobilnya setelah Reina menurut pintu mobilnya.

__ADS_1


Dengan hati yang begitu senang, Reina berlarian kecil memasuki rumah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab beberapa asisten rumah tangga yang sedang melakukan pekerjaannya.


"Adek sama nda ada dirumah kan bi?" tanya Reina pada bi Darmi yang memang ada disana.


"Ada mbak. Ibu sedang membantu mas Zen mandi."


"Rere ke atas dulu ya bi."


Reina langsung lari menuju lift karena sangking rindu dengan adik laki-lakinya.


Reina melangkah cepat menuju kamar Zen setelah pintu lift terbuka tanda sampai dimana kamarnya dan Zen berada.


"Adeeekkk..." Teriak Reina.


"Astagfirullah kakak." Nissa jelas terkejut.


Zen yang baru akan melepas handuknya untuk berganti baju, tentu sangat terkejut. "Kakak..." Pekik Zen karena malu, ti*tit imutnya terlihat oleh Reina. Tangan kecil Zen dengan cepat meraih handuk untuk kembali ia lilitkan ditubuh kecilnya.


"Hiii... Adek jorok belum pake baju." Pekik Reina sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. Namun mata Reina masih mengintip Zen dari sela-sela jarinya.


Nissa hanya di buat geleng-geleng kepala karena melihat tingkah konyol kedua anaknya. Hati Nissa seketika merasa senang saat melihat wajah Zen yang tiba-tiba bersemu bahagia.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan galau ya kalau gak ada mas Hen.πŸ˜‚πŸ€­


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2