Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 40 HARI H


__ADS_3

Disebuah ballroom hotel, sudah sangat nampak jelas persiapan sudah rampung dengan sangat rapih. Ruangan itu juga sudah sangat indah dengan hiasan yang sudah di tata sesuai dengan keinginan gadis cantik yang akan menjadi ratu hari ini.


Hari yang di nantikan sudah tiba. Sejak semalam keluarga Yusuf sudah bermalam di hotel miliknya. Dimana acara akan di selenggarakan disana.


Semua keluarga sudah berpakaian seragam, sesuai yang sudah Nissa pesan untuk semua keluarganya. Nissa menggunakan kebaya seragam dengan Wati, Jumiasih, Luna, Amira, dan Qia.


Yusuf sudah nampak gagah dengan setelan yang ia kenakan. Tentunya seragam dengan Jaya, Adam, dan juga Zen.


Sedangkan Reina, sedang di rias sedemikian rupa agar wajahnya yang cantik semakin bersinar terang di hari spesialnya ini.


Keluarga Hendri dan rombongan sudah memasuki ruang acara dimana ijab qabul yang akan segera di laksanakan.


Acara yang awalnya akan di tayangkan secara live di semua channel DS Group itu kini di batalkan. Acara pernikahan ini benar-benar privat, bahkan tidak ada yang boleh mengabadikan momen sakral nanti kecuali kamera milik DS Group yang akan mendokumentasikan seluruh rangkaian acara hingga selesai.


Nissa menggenggam erat tangan Yusuf. Ia sangat paham dengan apa yang di rasakan suaminya saat ini.


"Ini hari bahagia anak kita ayy. Jangan sedih seperti ini." Tutur Nissa sambil mengusap kedua mata Yusuf yang sudah menggenang siap meneteskan buliran air mata.


"Aku ingin sekali menikahkan Rere secara langsung sayang."


"Aku tahu ayy. Aku paham dengan perasaan ayy saat ini. Tapi takdir hidup ayy dan Rere memang seperti ini. Tidak ada yang perlu disesali, yang terpenting adalah ayy sudah memberikan yang terbaik untuk Rere. Dan Rere paham tentang hal itu."


Yusuf langsung menarik Nissa agar dapat ia peluk. "Cukup aku yang rasakan hal ini, cukup Rere yang mengalami ini semua sayang. Kita harus didik Zen sebaik mungkin agar tidak salah langkah seperti aku."


Nissa mengusap punggung suaminya untuk memberikan ketenangan. "Maka kita harus sehat dan panjang umur agar kita bisa mendidik dan memberikan yang terbaik untuk Zen dan cucu-cucu kita nanti ayy."


"Aamiin..."


Nissa merenggangkan pelukan Yusuf. "Sudah jangan sedih-sedihan lagi. Ini adalah hari bahagia anak kita, jadi kita tidak boleh meneteskan air mata kecuali air mata haru karena kebahagiaan Rere dan semua orang."


Yusuf langsung menuju ke tempat acara bersama dengan Zen. Sedangkan Jaya, Adam, Amira, dan Qia sudah lebih dulu karena menyambut kedatangan Hendri dan keluarga serta rombongan.


Zen langsung mendekatkan Hendri lagi setelah tadi beramah tamah bersama Yusuf.

__ADS_1


"Om. Eh." Zen membekap mulutnya. .


"Kenapa bos?"


"Kata nda dan ayah, mulai hari ini Zen harus panggil mas. Nggak boleh om lagi."


Hendri tersenyum karena merasa terhibur dengan celoteh Zen. "Mau panggil om seperti biasanya juga nggak apa-apa bos ku."


"Kok tangan om eh mas dingin banget." Tutur Zen saat tangan Hendri menarik pipi Zen gemas.


"Masak sih dingin?" Tanya Hendri sambil menyatukan kedua tangannya yang memang seperti es.


Meski ini bukan pertama kalinya bagi Hendri. Namun tidak dapat di pungkiri jika saat ini jantungnya berdetak kencang karena merasa tidak aman akibat nervous. Sampai membuat tubuhnya terasa dingin di buatnya. Benar-benar memerlukan kehangatan untuk menghilangkan rasa dingin Hendri.


"Dingin kan om eh mas?"


Hendri jadi terkekeh karena sejak tadi Zen salah panggil terus. "Zen panggil seperti biasanya saja nggak apa apa. biar tetap nyaman."


.


.


.


"Belum rampung saja sudah kelihatan cantik, apalagi kalau sudah selesai." Puji Jumiasih.


Reina jadi tersenyum karena mendapatkan pujian dari Jumiasih.


"Cantik banget. Mirip seperti bundanya." Puji Wati.


"Pasti nanti mas Hen terpesona sampek ngeces lihat Rere nanti." Tambah Nissa.


"Aduh jangan berlebihan muji Rere. Jadi malu ini." tutur Reina dengan wajah yang bersemu merah.

__ADS_1


Setelah make up dan tatanan rambut selesai. Kini Reina harus mengenakan gaun yang ia pilih untuk ijab qabul.


Semua orang jelas terpana melihat Reina saat ini. Benar-benar sangat cantik dan anggun sampai membuat siapapun pangling menatapnya.


MUA sedang membenarkan tatanan rambut Reina kembali. Lalu melihat kembali penampilan Reina agar tidak ada terjadi celah kecacatan di hari yang sangat spesial ini.


"Sudah selesai." Tutur MUA.


"Ya Allah cantiknya." Ucap semua orang yang ada disana secara bersamaan.


"Sudah siap?" Tanya Nissa. Karena memang sudah saatnya mereka memasuki ruang acara.


Reina diam menunduk sambil memejamkan mata untuk membaca doa. Reina langsung mengusap wajahnya pelan lalu melihat semua orang dengan senyum yang menawan.


"Rere siap."


Nissa dan Luna menggandeng Reina. Tiga perempuan dengan usia yang sama namun mereka terhubung dalam sebuah ikatan yang sangat unik.


"Nanti malam jangan lupa pakai hadiah dari tante ok." Bisik Luna.


"Ih tante ini, jantung ku lagi nggak aman malah di ingetin tentang itu lagi." Bisik Reina pelan-pelan.


"Rere, Luna. Kita sudah mau sampai ini. Jangan ngobrol terus."


"Baik nda." Ucap Reina dan Luna patuh.


Bersambung...


Dimohon untuk segera siap siap berangkat kondangan 🤭 ah aku udah nggak sabar😂 astagfirullah puasa😌


Kalau kalian nggak sabar nunggu apa gesss. apa sama kaya aku nggak sabar makan rendang🤤🤤🤤


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


Yang butuh bacaan. Jangan lupa mampir di 2 RASA YANG TERSISA rekomendasi bacanya saat malam ya🥰



__ADS_2