
Tentu saja wajah Hendri sangat khawatir saat ini. Bagaimana tidak, Ibunya sudah mencari Reina di dalam kamar dan di kamar mandi tadi Reina tidak ada.
Bu Rumi juga sudah mencari Reina di kamar atas, tapi hasilnya tetap nihil. Namun, sopir dan satu mobil dirumah yang biasa di kendarai sopir untuk mengantar Bu Rumi dan Pa Makruf terlihat tidak ada di garasi. Sudah dapat dipastikan jika Reina keluar diantar sopir tanpa berpamitan kedua mertuanya.
Hendri langsung bergegas membereskan berkas dan tas kerjanya. Ia langsung mengenakan kembali jasnya yang telah dilepas tadi.
Baru saja Hendri melangkah hendak keluar dari ruang kerjanya, tiba-tiba pintu terbuka dan saat itu juga Hendri melihat sosok Reina.
"Sayang." Tas kerja yang di jinjing Hendri tentu saja langsung jatuh ke lantai begitu saja saat melihat sang istri. Ia melangkah cepat dan langsung memeluk Reina kuat.
"Mas, anak kita kejepit." Ucap Reina yang merasa pengap tiba-tiba.
Hendri langsung melerai pelukannya. Ia melihat tubuh istrinya setiap sisi, karena takut terjadi sesuatu. "Kamu nggak apa-apa kan sayang?"
"Memangnya aku kenapa Mas?"
"Aku khawatir banget tahu nggak. Aku telpon berulang kali, kamu nggak mau angkat. Terus aku telpon ibu, kamu nggak ada dirumah."
"Suruh siapa Mas nggak kasih kabar ke aku." Reina kesal, ia melipat kedua tangannya didepan dada.
"Kan aku tadi sudah bilang kalau aku meeting sayang."
Reina menurut saja saat Hendri mendapatkan tubuhnya di sebuah sofa, lalu ia duduk di pangkuan sang suami.
"Meskipun meeting seharusnya Mas tetap kabari aku. Jangan di tinggal ponselnya. Aku kan jadi berpikir yang tidak-tidak."
"Saat meeting, mana mungkin aku mau bermain ponsel terus sayang. Aku harus fokus sama kerjaan aku dan para karyawan."
"Ck. Orang kantor juga pada tahu kalau Mas suami aku. Anak Pak Yusuf. Mana mungkin ada yang komplen sama Mas hanya karena Mas kasih kabar ke aku."
Hendri menarik hidung Reina karena merasa gemas sendiri. "Kenapa Istri aku jadi nggak profesional begini sih."
"Biasanya Mas nyentil jidat aku, kenapa sekarang jadi narik hidung sih Mas. Nanti Pinokio kalah saing sama aku loh." Reina menekan-nekan hidungnya agar tidak menjadi Pinokio.
Hendri terkekeh mendengar sungutan Reina yang terdengar kesal. "Kamu marah kok jadi gemesin begini sih sayang."
__ADS_1
Bibir Reina mencebik tak percaya dengan gombalan Hendri. "Nggak usah gombal Mas. Nggak mempan." Reina menatap Hendri dengan rasa kesalnya. "Pokoknya aku mau Mas selalu kasih kabar ke aku. Aku nggak perduli mau Mas masih meeting kek apa kek terserah. Pokoknya kasih kabar ke aku. Titik."
"Sayang." Hendri mengusap wajah Reina, lalu melingkarkan kedua tangannya di tubuh Reina. "Sekalipun aku sekarang sudah menjadi suami kamu, menjadi menantu Ayah. Tapi bukan berarti aku mau bertindak semau ku. Aku harus tetap profesional saat bekerja. Aku tidak mau ada yang menilai ku bertindak semaunya aku, karena aku suami kamu, karena aku menantu pimpinan perusahaan ini."
"Tapi aku kan mau tahu, apa yang Mas lakukan saat aku dirumah."
"Yang pasti aku kerja sayang."
"Ya siapa yang tahu kan, kalau mas bukan kerja dan malah pergi dengan perempuan lain." Ucap Reina asal karena terlalu negatif thinking pada suaminya.
Hendri menatap Reina lekat. Pikirannya sudah bagai benang kusut karena sudah lelah dengan berbagai pekerjaan. Setelah itu dibuat terkejut karena istrinya tidak ada di rumah, dan sekarang, istri berpikir negatif terhadapnya.
Hendri menarik nafas dalam-dalam. Meredam perasaannya sendiri. Ia harus mengerti karena saat ini istrinya sedang hamil, membuat Reina yang kapan saja bisa negatif thinking terhadapnya tanpa dapat dicegah.
"Apa aku terlihat seperti lelaki yang tidak setia?" tanya Hendri lembut sambil menatap Reina dalam. Pertanyaan yang sebenarnya sebuah sindiran namun dikemas cukup menarik agar Reina tidak merasa kalau Hendri sedang marah.
"Mas setia kok. Ya kalau nggak setia, siap-siap saja merasakan sunat dua kali. Lagian memangnya Mas mau nyari yang seperti apa lagi coba? Aku ini sudah paket lengkap."
"Itu kamu tahu." Hendri mencolek hidung Reina. "Jadi jangan diulang lagi ya. Tidak mau mengangkat telepon ku, pergi dari rumah tidak berpamitan. Ibu tadi juga khawatir sayang."
"Maaf ya Mas."
"Mas baru sadar ya? Kemana aja dari tadi Mas?"
"Tumben."
"Lagi pengin aja Mas." Ngeles Reina. Padahal aslinya ia dandan super cantik untuk berjaga-jaga kalau Hendri sedang bersama seorang perempuan, ia bisa menunjukkan betapa cantiknya istri sah Hendri Artha Wijaya. "Aku cantik makeup atau nggak Mas?"
"Semuanya terlihat cantik."
"Ih. Gombal banget sih Mas." Reina mengusap wajah Hendri lalu rambut Hendri juga. "Mas."
"Hem..."
"Mau peluk." Pinta Reina manja.
__ADS_1
Reina langsung menghambur dalam pelukan suaminya. Menyusupkan wajahnya kedalam ceruk Hendri. Menikahi aroma tubuh yang tetap saja wangi meski waktu sudah sore begini.
"Anak kita nendang sayang." Ucap Hendri saat merasakan tubuhnya yang menempel dengan perut Reina.
"Dia pasti senang sekali di peluk Mas seperti ini."
.
.
.
Yusuf melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Kemudian ia menumpuk berkas menjadi satu.Yusuf berdiri dari kursi kebanggaannya. Lalu mengenakan jasnya kembali.
"Hendri pasti sudah selesai meeting." Gumam Yusuf.
Yusuf bergegas menuju ruangan Hendri untuk memberikan berkas yang diberikan Hendri tadi pagi. Meski sebenarnya Hendri yang seharusnya mengambil sendiri ke ruangannya. Namun, itu tidak berlaku bagi Yusuf sekarang.
Hari ini Yusuf bahkan sangat bahagia saat mendengar pemberitahuan perihal keadaan Reina tadi saat memeriksakan kandungan. Anak dan calon cucunya sehat, kabar itu menjadi mood booster bagi Yusuf.
"Hen." Panggil Yusuf setelah membuka pintu ruang kerja Hendri. Sayangnya, kedua mata Yusuf tidak melihat wujud Hendri di kursi kerjanya."Hen." Panggilnya ulang. Yusuf membuka pintu lebih lebar lagi. Dan betapa terkejutnya Yusuf saat melihat jas, baju kemeja, dan dasi berserakan di lantai.
Justru sekarang Yusuf heran karena hal itu. Namun detik itu juga, Yusuf melihat tas perempuan yang ada di atas meja.
Tentu saja amarah Yusuf langsung meningkat drastis. Ia berpikir negatif thinking dengan gambaran yang terjadi saat ini.
"Berani sekali dia khianati anak ku yang sedang hamil."
Tanpa pikir panjang lagi, Yusuf melangkah lebar menuju ruang kamar yang ada di dalam sana.
"Hendriii..." Pekik Yusuf sambil membuka pintu ruang kamar secara kasar. Hingga membuat orang yang ada didalam sana terkejut.
"Ayaaahhh..." Teriak Reina dan Hendri bersamaan.
"Astagfirullah..." Pekik Yusuf kuat karena terkejut.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ