Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 127 SALAH NGOMONG


__ADS_3

"Biar aku saja yang ganti popoknya sayang."


"Nggak apa-apa Mas, biar aku saja. Maaf ya Mas, kok bisa sih aku jadi ibu nggak peka begini anaknya menangis." Gumam Reina menyalahkan diri sendiri.


Hendri langsung minggir dari posisinya agar Reina mengambil alih apa yang ingin ia lakukan pada anak mereka.


Wajah Reina nampak murung setelah mengganti popok bayi mungil itu. Sampai saat mengASI pun, Reina masih tetap diam dengan wajah sedihnya.


Hendri menghela nafasnya. "Sayang ..."


"Mas, aku tadi itu sudah berusaha untuk nggak tidur biar aku bisa ngurus princess kalau dia eek, pipis. Aku mau jadi orang yang peka terhadap anak sendiri. Aku sudah main hape agar nggak tertidur. Tapi apa, aku malah ketiduran lagi. Mas juga kenapa nggak bangunin aku." Tutur Reina sambil menangis.


Hendri langsung duduk di samping Reina yang sedang mengASI. "Sayang ..." Tangannya mengusap air mata yang jatuh. "Semua butuh proses, butuh adaptasi. Kita baru saja menjadi orang tua. Jadi kita juga butuh penyesuaian. Semua tidak mungkin instan, punya anak langsung menjadi orang tua yang baik untuk anaknya, nggak begitu sayang ... " Hendri mengusap puncak kepala Reina. "Princess itu anak kita, bukan hanya kamu yang harus mengurus princess seorang diri. Aku juga harus andil, untuk membantu mu. Jadi, jangan terbebani karena aku melakukan hal kecil seperti tadi."


"Tapi Mas ..." Hendri menatap Reina yang tidak menyelesaikan ucapannya. "Nggak jadi ..."


"Kenapa hemmm?" Reina menggerakkan kepalanya. Hendri mengusap puncak kepala Reina lagi. "Aku solat dulu kalau begitu."


.

__ADS_1


.


.


Sinar mata hari pagi mulai masuk kedalam saat hembusan angin menerpa gordeng jendela. Reina membiarkan Pak Makruf dan Bu Rumi yang mangajak princess untuk berjemur.


Sedangkan Reina dan Hendri saat ini sedang mengisi amunisi karena perutnya sudah keroncongan.


"Mas nggak makan sekalian bareng aku?"


"Aku nanti saja sayang."


"Enakan juga makan barengan sama aku Mas." Reina menyuapi Hendri dengan paksa. "Enakkan?" tanyanya setelah Hendri melahap suapan Reina.


Tanpa terasa, Hendri dan Reina makan dengan porsi yang cukup banyak. Sepertinya sayur bening daun katu di campur kecambah dan daun kemangi mampu meningkatkan selera makan keduanya. Belum lagi tambahan sambal terasi dan ikan goreng serta ikan asin goreng. Hemmm ...


Keduanya bersandar pada kursi karena merasa kekenyangan.


"Seharusnya makan itu secukupnya, kenapa kita makan sekenyangnya." Ucap Hendri.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara Ibu, Mas. Masak kok bikin kita ketagihan."


"Aduh, gimana dong kalau perut aku buncit." Keluh Hendri sambil menampakkan perutnya yang bikin mata Reina melebar.


"Mas nyindir aku?"


"Ya nggak lah sayang. Kan aku tadi ngomongin diri aku sendiri."


"Halah ... Jujur saja mas kalah mau ngomongin aku yang masih gemukan ini."


"Sayang malah bagus begini, Bahe*nol." Tutur Hendri sambil mengedipkan matanya menggoda Reina.


Bukannya tersanjung, Reina malah semakin kesal. "Tuh kan, Mas sengaja ngejek aku ini. Awas saja kalau Mas sudah masuk kerja, main mata kemana-mana. Aku congkel mata Mas nanti."


"Serem banget sayang."


"Biar tahu rasa." Reina langsung meninggalkan Hendri begitu saja dengan perasaan yang jelas dongkol.


"Salah ngomong deh aku," ucap Hendri sambil menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2