Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 28 TERBAWA ARUS


__ADS_3

Sejak tadi, Hendri disibukkan dengan persiapan acara pernikahan Reina dan Bayu yang akan diselenggarakan satu minggu lagi. Hendri melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Sudah hampir tengah malam." Gumam Hendri. "Aku belum minta tanda tangan pak Yusuf lagi." Keluh Hendri yang merasa pekerjaannya terasa keteteran sendiri.


Hendri langsung mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Mencoba menghubungi Yusuf, walau tahu sekarang adalah jam tidur bosnya.


"Semoga pak bos masih terjaga." Gumam Hendri sambil menunggu Yusuf menerima panggilan darinya.


Yusuf : "Halo Hen?"


Hendri : "Selamat malam pak. Maaf saya ganggu waktu istirahatnya."


Yusuf : "Aku belum tidur Hen. Kenapa?"


Hendri : "Ada berkas yang harus bapak tanda tangani. Besok pagi berkas akan saya serahkan ke klien saat meeting pak. Maaf saya baru ingat sekarang."


Yusuf : "Ya sudah bawa sekarang kesini Hen."


Hendri : "Baik pak."


Hendri langsung menuju ke basemen hotel menuju ke mobilnya. Mengendarai mobil dengan lebih cepat, karena waktu memang sudah hampir larut malam membuat jalanan ibu kota tidak lagi macet.


"Mana yang harus aku tanda tangani." Ucap Yusuf saat Hendri sudah masuk kedalam ruang kerja dirumahnya.


Hendri langsung cepat mengeluarkan beberapa berkas didalam tas kerjanya. "Ini pak." Ucap Hendri sambil meletakkan berkas di depan Yusuf.


Yusuf langsung membubuhkan tanda tangannya. Tanpa perlu mengeceknya kembali, karena Yusuf sudah sangat percaya pada Hendri.


"Tidurlah disini." Ucap Yusuf sambil memberikan semua berkas tadi.


"Saya pulang saja pak."


"Semua keluarga ku ada disini, kamu bukannya tidak mengenalnya kan? Kamar mu juga tidak terusik karena masih banyak kamar dirumah ini."

__ADS_1


Hendri sudah tidak dapat mengelak lagi. Ia langsung menuju kamar yang selalu ia tempati saat ia bermalam dirumah Yusuf. Segera membersihkan diri agar lelah dan letihnya berkurang, dan cepat istirahat agar besok tubuhnya siap untuk aktifitas yang sudah pasti semakin sibuk saja. Apalagi kini Yusuf sudah menyerahkan kendalinya pada Hendri untuk sementara waktu. Setidaknya sampai acara pernikahan Reina usai.


.


.


.


Kedua mata Reina mengerjap, ia langsung terjaga dan melihat kesamping. Ada Nissa yang menemaninya tidur.


Tangan Reina langsung mengambil Handuk kecil yang digunakan Nissa untuk mengompres Reina.


"Nda pasti lelah menjaga aku."Gumam Reina setelah ia bangun dari tidurnya.


Reina langsung memasukkan handuk kedalam wadah bekas air hangat dan langsung membawa ke kamar mandi. Reina membersihkan diri ala kadarnya karena tadi ia belum sempat cuci muka dan gosok gigi karena langsung lelap begitu saja.


"Kok laper ya." Gumam Reina sambil mengusap perutnya yang keroncongan.


Reina langsung keluar dari kamarnya dan langsung menuju lift untuk turun ke bawah. Reina berjalan santai sambil mencepol rambut panjangnya yang tergerai acak-acakan karena tidak ia rapihkan sebelum keluar kamar.


Reina terkejut saat kedua matanya di kejutkan dengan wujud seseorang yang memenuhi isi kepalanya. Ia tersenyum menyedihkan sambil memejamkan mata. Merasa kini ia sedang halusinasi melihat wujud orang yang terus ia pantau gerak geriknya.


"Setelah mas menghantui isi kepala ku, mengisi mimpi ku, apa sekarang juga mas akan membuat ku seperti orang gila karena merasa mas ada didepan ku?"


Hendri bingung harus menanggapi apa ucapan Reina ini. Matanya pun menatap sedih saat menyadari wajah Reina yang nampak pucat.


"Aku rindu mas Hen." Ucap Reina pelan.


"Aku juga merindukan mu, sangat." Ucap Hendri hanya didalam hati.


"Aku ingin mengakhiri semua ini, tapi kenapa mas nggak mau membantu aku. Tolong bawa aku pergi saja. Agar aku tidak sendirian saat ayah memarahi aku nanti. Tapi aku juga tidak bisa menyakiti dua keluarga. Kenapa mas nggak mau bertindak sebelum aku terjerumus seperti ini. Apa mas kira aku akan menolak mas saat mas mengatakan mencintai aku walau aku memberi jarak diantara kita dengan kata saudara." Tutur Reina panjang lebar.


(H*t kiss tolong di lanjut setelah buka puasa untuk menjauhi otak liar) bagi yang maksa lanjut aku nggak tanggung jawab loh ya.

__ADS_1


Reina langsung melangkah cepat mendekati wujud Hendri yang ia kira adalah sebuah bayangan dari halusinasinya. Dan betapa terkejutnya Hendri saat Reina tanpa aba-aba langsung mengecup bi*birnya sejenak.


"Aku nggak sedang halusinasi." Ucap Reina pelan saat merasa kecupannya nyata. Sedangkan wujud hendri tidak hiang dari depannya.


"Jangan melewati batas mu Re." Ucap Hendri mengingatkan.


"Mari kita melewati batas hanya untuk saat ini." Ucap Reina. Ia langsung menempelkan lagi bi*birnya pada milik Hendri. Ingin bergerak seperti di film-film romantic yang pernah ia lihat namun sepertinya tidak bisa. Karena Hendri tidak memberinya celah.


Reina mengakhiri aksinya yang tidak berbalas. "Maaf." Ucap Reina pelan. Sepertinya Reina melupakan apa tujuannya saat akan ke ruang makan tadi. Ia balik badan memilih untuk pergi dari sana.


Hendri langsung mencekal lengan Reina dan langsung membalik tubuh Reina dengan cepat. "Mari kita lakukan dengan benar." Ucap Hendri. Ia yang sudah terpengaruh dengan sentuhan Reina tadi membuatnya begitu sulit untuk menahan diri.


Hendri langsung mencium bi*bir Reina dengan sangat lembut dan seketika itu, Reina langsung berjinjit untuk meninggikan tubuhnya. Lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher Hendri.


Cecapan mereka yang awalnya hanya berlaku lembut semakin lama semakin dalam dan menuntut. Ternyata meski sudah lama menduda, hal itu tidak membuat Hendri kehilangan keahliannya seperti ini. Sedangkan Reina meski kewalahan menyeimbangi, tapi sepertinya naluri bisa menuntunya untuk tidak terlalu kaku-kaku amat saat saling bergerak.


Hendri dan Reina saling melepaskan, mengatur nafas dengan saling berpandangan. Hendri langsung mengangkat tubuh Reina agar duduk di pinggiran meja makan. Dan tak butuh waktu lama lagi, Hendri kembali memburu bi*bir Reina yang masih bisa ia nikmati saat ini.


Tangan mereka saling membelai punggung, menyalurkan sentuhan yang membuat rasa sulit untuk di kendalikan.


Dan entah keberanian dari mana, kedua tangan Reina menyusup masuk kedalam kaos yang di kenakan Hendri. Membelai punggung lelaki yang semakin inten dan panas saat menja*mah bi*birnya.


Sentuhan antara kulit tangan Reina dan punggung Hendri secara langsung. Justru membuat Hendri semakin menggila. Rasanya sudah sangat sulit untuk di kendalikan lagi. Akal sehat keduanya benar-benar sudah lumpuh karena terbawa arus dalam sebuah lembah yang jelas salah.


Hendri juga tak ingin kalah, ia memasukkan kedua tangannya kedalam kaos tipis yang di kenakan Reina dan saar itu juga otak dan tangan Hendri menyadari jika punggu Reina polos tanpa ada sebuah belitan yang memberikan keamanan untuk aset berharga Reina.


Satu tangan Hendri bergerai membelai kedepan dan menyentuh salah satu tanjakan sama. Membuat Reina melenguh tertahan dalam aktifitas pertukaran cairan yang belum usai sejak tadi.


Ahhh...


Lolos sudah lenguhan Reina saat ia memberi akses untuk Hendri. Dua jejak sudah berhasil Hendri tinggalkan di leher kokoh Reina. Sedangkan sejak tadi tangan Hendri masih terus menyentuh didalam kaos Reina. Membuat Rintihan Reina sudah tidak bisa di tahan lagi.


"Ya Allah." Nyebut juga akhirnya Hendri. Setelah menyadari perbuatannya dan mengakhiri segalanya. Hendri menarik kursi untuk ia duduki. Lalu menumpangkan wajahnya yang tertunduk di paha Reina.

__ADS_1


"Kenapa mas?" Tanya Reina bingung. Ia masih belum rela saat semuanya sudah berakhir. Tanganya mengusap kepala Hendri agar ia segera mendapatkan sebuah jawaban.


Bersambung...


__ADS_2