Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 89 ZEN MINTA SUNAT


__ADS_3

"Ndaaa..." Setelah keluar dari mobil, Zen lari sambil memanggil Nissa sekuatnya.


"Itu bocah kenapa lagi?" gumam Yusuf sambil menutup pintu mobil. Karena Zen asal keluar saja.


Yusuf yang begitu baik hati dan mencintai istrinya dengan sepenuh hati, tentu ia yang menjemput Zen setelah selesai kelas private. Aslinya mah karena kebetulan lewat sana


"Ndaaa..." Teriak Zen lagi.


"Assalamualaikum..." Ucap Reina mengingatkan adiknya.


"Waalaikumsalam." Zen langsung mencium punggung tangan Reina.


"Eh ini bocah. Maksud Kakak itu adek yang salam. Baru pulang juga."


"Kan Kakak sudah salam, jadi Zen wajib jawab kak."


"Iya juga sih."


"Nda mana kak?"


"Kakak umpetin."


"Ih Zen serius kak. Nda mana?"


"Nda tuh punya Kakak, jadi Nda Kakak umpetin."


"Iiihhh... Kakak ngeselin."


"Ini ada apa to?" Nissa baru datang keruang keluarga.

__ADS_1


"Nda, Zen mau sunat." Pintanya tiba-tiba.


"Hah!" Nissa dan Reina tentu terkejut. Begitu juga Yusuf yang baru datang tentu ikut terkejut.


"Adek kesambet apa, tiba-tiba minta sunat?" Reina sampai mengecek suhu tubu adiknya yang mungkin saja tinggi.


"Zen nggak sakit Kak."


"Bukannya Zen bilang sunatnya nanti waktu liburan saat akan sekolah SD?" Nissa mengingatkan ucapan anaknya sendiri.


"Pokoknya Zen mau sekarang Nda sunatnya." Kekeh Zen yang harus di turuti.


"Tunggu dulu cil." Yusuf jelas mencurigai gelagat anaknya yang jelas seperti ada yang diinginkan. "Ini pasti Zen ada maunya kan?" pertanyaan Yusuf barusan membuat Zen cengengesan.


"Adek mau apa?" tanya Nissa setelah duduk jongkok mengsejajarkan tinggi badannya dengan Zen.


Nissa mengangguk. "Terus?"


"Dia sunat karena mamanya sudah kasih adik. Dia sebentar lagi mau punya adik Nda. Zen juga ingin punya adik cantik Nda. Kalau Zen sunat, pasti nanti Kak Re langsung kasih adik buat Zen."


Reina melongo mendengar penuturan adiknya. "Nggak begitu konsepnya kecebong." Batin Reina begitu gemasnya terhadap adiknya ini.


"Dek, punya adik itu bukan karena Zen sunat terus Kak Re bisa langsung kasih adik buat Zen. Punya adik bayi itu juga karena Allah sudah percayakan adik kecil buat kak Re sama mas Hendri, buat kita semua. Kalau memang belum rezekinya kita, tentu Kak Re harus berjuang lagi biar cepat kasih adik buat Zen." Nissa sungguh berharap anaknya ini paham dan mengerti.


"Nggak mau Nda, pokoknya Zen mau sunat sekarang juga."


"Adek saja begitu ingin punya dedek bayi. Gimana Kakak sama mas Hendri, dek." batin Reina menatap adiknya sendu.


"Ayo mangkat Hen." Ajak Yusuf saat melihat Hendri baru ikut bergabung di ruang keluarga.

__ADS_1


"Kemana Yah?" bingung lah Hendri, baru juga datang sudah di ajak pergi.


"Tuh adikmu minta sunat." Lebih baik menuruti permintaan Zen, mumpung anaknya sendiri yang minta di sunat.


"Ayah, kita belum ada persiapan apa-apa buat syukuran dan yang lainnya."


"Nda pesan makanan buat syukuran besok di panti asuhan. Lalu pesan bingkisan untuk para tetangga kita disini. Biar berkah dan Zen mendapatkan banyak doa dari orang banyak." Tutur Yusuf.


"Iya Yah. Ya sudah, ayo Zen mandi dulu." Ajak Nissa.


Hendri langsung merangkul Reina saat Nissa dan Zen menuju lantai atas. Dan Yusuf menuju kamarnya.


"Ini ada apaan sih sayang?"


"Zen minta sunat, Katanya biar kita cepat kasih dia adik mas."


"Hah..." Kini Hendri yang tercengang karena tidak percaya dengan permintaan Zen.


"Ketinggalan banget sih mas kagetnya, coba dari tadi kesini pasti kita berempat kaget bareng-bareng." Reina terkekeh. "Oh iya mas, nanti pulangnya tolong belikan aku cilok ya mas."


"Kamu sekarang kebanyakan ngemil loh sayang dari pada makan nasi."


"Enek aku makan nasi mas. Mau nggak belikan? Kalau mas nggak mau, nanti aku beli sendiri."


"Iya. Nanti aku belikan."


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2