Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 124 HARTA, TAHTA, CUCU PERTAMA


__ADS_3

Setelah mencuci tangan, kaki, dan wajah, Yusuf langsung keluar dari sana. Rasanya sudah sangat tidak sabar untuk segera menimang cucu pertamanya.


Yusuf langsung melepas kemeja panjang yang ia kenakan, menyisakan kaos putih yang mencetak jelas bentuk tubuh sempurna seorang Yusuf.


"Bisa-bisanya Om satu ini tebar pesona saat dirumah sakit begini," batin Nissa yang selalu terpesona dengan apa adanya sang suami. Nissa langsung menggeleng kepalanya pelan. "Bisa-bisanya kamu berpikir mesum Niss." Batinnya.


"Sini sayang, aku mau gendong princess." Yusuf langsung mengambil cucunya yang di gendong Nissa. "Ya Allah cucu Opa cantiknya," Yusuf menciumi wajah bayi yang tak terusik walau tubuhnya sudah berpindah tangan. "Sayang, saat dia lahir semuanya baik-baik saja kan? Maksudnya dia langsung menangis tanpa kendala apapun kan?"


"Alhamdulillah lancar ayy. Princess langsung menangis begitu keluar. Aku seneng banget bisa melihat proses melahirkan tadi."


"Alhamdulillah... Pintar Princess Opa ya," Yusuf kembali mencium wajah bayi yang nampak memerah. "Adek sudah tidur dari tadi sayang?" tanya Yusuf saat melihat Zen dan Pak Makruf tidur lelap di kasur lipat. Sedangkan Bu Rumi hanya rebahan sama di dekat Zen.


"Baru juga Zen tidur Ayy. Itu juga karena ngantuk berat. Terlalu senang dia jagain Princess tidur."


"Om saja sampai nggak mau bobok siang karena ingin sama princess, apa lagi Opa." Yusuf kembali menciumi wajah bayi mungil itu.


"Ayy sudah lihat Kakak?"


"Oh iya lupa."


Yusuf langsung menuju ke brankar dimana Reina berada, meninggalkan Nissa yang melongo tak percaya.


"Bisa-bisanya ayah melupakan anak sendiri setelah ada cucu, ckckck." Nissa sampai menggeleng kepalanya keheranan.


...***...


Hendri melerai pelukannya. "Maafkan aku, nggak bisa temani kamu berjuang melahirkan anak kita." Hendri mendaratkan banyak kecupan di wajah Reina.


"Yang terpenting adalah doa Mas untuk kami. Semuanya berjalan dengan sangat lancar Mas."


Hendri kembali mencium kening Reina dan kembali memeluk Reina erat.


"Terimakasih sayang, sudah menyempurnakan hidup aku, kebahagiaan kita."


"Hai princess, lihatlah Opa mu yang tampan ini selalu menjadi korban ke sweetan Papa dan Mama mu." Ucap Yusuf setelah menyibak tirai.


Hendri dan Reina langsung merenggangkan pelukan mereka. Mereka menjadi mengingat kembali hal konyol yang selalu saja di pergoki Yusuf.


"Kakak baik-baik saja kan?"


"Alhamdulillah Rere baik Ayah."


Reina hanya melongo karena tercengang saat Yusuf hanya merespon dengan anggukan kepala kemudian berlalu begitu saja sambil menciumi bayinya tanpa bertanya hal yang lainnya.

__ADS_1


"Begitu saja?" tanya Reina.


"Iya, begitu saja sayang." Hendri malah terkekeh melihat wajah Reina yang terlihat tidak percaya.


"Aku ditikung sama cucu pertamanya Ayah, Mas."


"Yang sabar ya sayang, saingan kamu orang dalem semua."


"Dulu Zen, eh sekarang ditambah bayi baru lahir."


Hendri terkekeh sambil mengusap puncak kepala Reina. "Resiko itu mah. Aku mau lihat anak kita dulu sayang."


Hendri langsung menuju dimana Yusuf berdiri sambil menggendong anaknya. Ia nampak tersenyum saat melihat wajah Yusuf yang terpancar kebahagiaan.


"Eh mau apa kamu?" tanya Yusuf sambil memberi jarak antara dirinya dengan Hendri saat Yusuf melihat tangan Handri akan menyentuh cucunya.


"Hanya ingin sentuh kepalanya saja Ayah."


Plak


Tentu saja Yusuf langsung memukul tangan Hendri yang ingin menyentuh cucunya lagi, dan hal itu tentu membuat Hendri kebingungan sendiri. Dimana salahnya coba, kan dia Bapak dari si bayi. Setidaknya itu yang tengah di pikirkan Hendri.


"Cuci tangan, cuci kaki, cuci wajah kamu terus ganti baju baru gendong cucu ku."


Setelah Hendri selesai membersihkan diri, tentu saja Yusuf langsung memberikan cucunya pada Hendri.


"Biasakan bersihkan diri kamu dulu jika setelah aktivasi diluar rumah, baru sentuh anak." Peringatan Yusuf.


"Baik Ayah." Hendri langsung mengambil alih bayinya.


Hendri menciumi wajah lelap anaknya. Tanpa terasa air matanya mengalir karena merasa haru dan tidak percaya karena kini ia telah memiliki anak. Keinginan yang dulu hanya bisa di pendam, kini malaikat kecil itu sudah salam dekapannya.


Diusianya yang tak lagi muda, akhirnya Hendri bisa merasakan kebahagiaan yang tidak bisa di jabarkan dengan kata-kata.


Memiliki orang tua yang begitu menyayanginya. Mertua yang begitu menyayanginya serta keluarga kecilnya. Memiliki istri dan kini seorang anak yang melengkapi hidupnya, kebahagiaannya. Memenuhi separuh jiwanya yang dulu kosong tak berpenghuni.


"Terimakasih sudah lahir ke dunia ini sayang." Bisik Hendri. Ia langsung membacakan banyak doa, berharap anaknya di berikan perlindungan dari sang pencipta.


.


.


.

__ADS_1


Yusuf dan Nissa langsung pulang ke rumah saat waktu sudah malam. Nissa langsung memeluk Yusuf setelah Nissa menidurkan Zen. Sebenarnya tadi Zen nggak mau pulang, karena ingin menjaga adik bayinya. Setelah bujuk rayu yang di lakukan Nissa, akhirnya Zen menurut dan ikut pulang Ayah dan Ndanya.


"Kangen ya?" tanya Yusuf sambil membalas pelukan Nissa.


"Aku senang sekali Ayy hari ini Ayy. Serasa dapat pengalaman baru."


"Pengalaman baru apa sih yang bikin istri aku ceria begini?"


Plak...


Dengan rasa gemas terhadap suaminya, Nissa memukul tangan Yusuf yang sudah membelai dan mere*mas Boko*ngnya.


"Ayy ini mesum banget sih. Nggak bisa diam tangannya setiap aku tempelin begini." Omel Nissa yang sudah setiap hari di garap Yusuf.


"Ya kalau diam saja itu nggak enak sayang."


"Halah, aku tuh hapal loh sama modus Om suami aku ini. Dengerin aku mau cerita."


"Ceritanya sambil duduk disini doang." Tubuh Nissa yang mungil tentu saja dengan sangat mudah Yusuf membawa tubuh Nissa ke atasnya."


"Ayy, Zen tidur disini loh." Nissa sudah memposisikan dirinya duduk diatas perut Yusuf.


"Masih ada walk in closed, atau kamar mandi."


"Iiihhh... Tahu ah, aku nggak mau cerita lagi."


Yusuf manahan Nissa yang akan turun dari atas tubuhnya. "Aku nggak akan nakal, cepat cerita


Aku ingin tahu apa yang buat istri aku senang." Kedua tangannya, Yusuf gunakan untuk bantalan. Agar Nissa yakin bahwa dia tidak akan macam-macam.


"Aku senang sekali Ayy, saat tadi temani Rere melahirkan. Melihat bagaimana prosesnya bayi lahir secara normal. Tubuh aku rasanya sampai ikut merasakan sakitnya Rere. Aku lemes tapi tetep berusaha kuat. Sampai badan aku keluar keringat dingin. Aku benar-benar berusaha kuat padahal badan aku gemetaran."


"Terus?"


"Ayy tahu nggak kenapa badan aku rasanya begitu."


"Memangnya kenapa?" tanya Yusuf was-was. Karena gejalanya sudah seperti Reina saat sebelum tahu kalau sedang hamil. Otak Yusuf sudah mencoba mengenyahkan pikirannya sendiri.


"Ternyata aku tadi pagi belum sarapan Ayy."


"Hahaha hammmppp ..." Nissa langsung membungkam mulut suaminya yang menertawainya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2