
Karena semua keluarga belum makan siang, akhirnya setelah semua tamu undangan sudah meninggalkan ruangan acara, Yusuf dan keluarga makan siang bersama. Makan siang yang kesorean lebih tepatnya.
"Keluarga ku yang unik." Lagi-lagi Nissa membatin sambil menatap satu persatu semua orang yang ada di sana. Rona bahagia sangat jelas tercetak di wajah setiap orang. Apalagi Reina dan Hendri.
Anak sambung yang seumuran, memiliki ipar juga seumuran ples sahabat baik. Dan keunikan kali ini memiliki besan yang sudah di anggap seperti orang tua sendiri. Dan menantu yang seumuran dengan sang suami, Yusuf. Karena jarak usia Yusuf dan Hendri hanya terpaut lima tahun, lebih tua Yusuf.
"Aku harus menyebutnya apa?" Batin Nissa ingin terkekeh karena merasa unik dengan hubungan mereka saat ini. (Lebih membangongkan lagi kalau nanti sudah kolaborasi sama Arjuno dan Zantisya Nissa, Nissa😂)
Semua orang sudah nampak menikmati makan siang kesorean mereka masing-masing. Entah sangking laparnya atau bagaimana, tidak ada pembicaraan diantara mereka. Karena hanya dentingan sendok dan piring yang seolah sedang bersahutan.
"Kemarin kata kak Re, Kalau om Hendri sudah menikah sama kakak. Berarti Zen bisa main sepuasnya. Ayo nanti kita main om." Tutur Zen memecah keheningan.
"Zen panggilnya kok om." Ujar Yusuf.
"Eh iya, maksud Zen. Mas Hendri."
Hal itu benar-benar membuat semua orang disana terkekeh geli.
"Tidak apa-apa pak. Biarkan Zen memanggil saya seperti biasanya, biar tetap nyaman."
"Kamu juga bisa panggil aku ayah dan nda." Ucap Yusuf sambil menyentuh pundak Nissa. Meski terdengar menggelikan namun memang begitulah urutan yang benar sekarang.
"Baik pak. Eh... anu..." Gugup sendiri sekarang Hendri jadinya.
"Sudahlah senyaman kamu saja Hen."
"Nanti kita jalan-jalan ya om, eh mas Hendri." Ajak Zen ulang.
"Zen coba tanya kakek sama nenek ingin punya adek bayi nggak?" Ucap Nissa.
"Kakek sama nenek ingin punya adek bayi seperti Zen?" Tanyanya menatap serius pak Makruf dan bu Rumi berganti.
"Iya. Kakek sama nenek ingin adek bayi yang kaya Zen, Ganteng dan pinter." Tutur Bu Rumi.
"Tapi Zen maunya adek bayi cantik seperti adek teman Zen."
"Kalau begitu mulai sekarang Zen nggak boleh tidur sama kak Re lagi. Biar Mas Hen sama kak Re cepat kasih adek cantik seperti yang Zen mau." Tutur Nissa memberi pengertian untuk Zen.
__ADS_1
Justru hal itu membuat wajah Reina bersemu merah karena malu dengan pembahasan yang seperti ini. Sedangkan Hendri nampak tenang padahal dalam hati menahan rasa malu juga.
"Kenapa begitu nda?"
"Karena sekarang mas Hen yang akan jadi teman tidur kak Re." Jawab Nissa sambil mengusap kepala Zen.
Namun sepertinya Zen belum cukup puas dengan penjelasan yang ia terima.
"Zen saja biasanya temani kak Re tidur nda. Tapi buktinya kak Re nggak punya adik perempuan nda."
Mendengar ucapan Zen barusan membuat Nissa melongo bingung akan menjelaskan apa lagi. Sedangkan yang lainya malah terkekeh karena pertanyaan Zen yang membuat Nissa tercengang.
"Ayy bantuin ayy..." Rengek Nissa kehabisan kata untuk menjelaskan lebih lanjut.
"Urusan sayang itu mah." Ucap Yusuf santai tidak berniat membantu Nissa sama sekali.
"Jadi sekarang kak Re nggak mau Zen temani tidur kak?" Wajah Zen sudah sangat serius menatap Reina.
"Boleh Zen." Jawab Hendri tidak ingin semakin panjang lebar memberi penjelasan.
Nissa menghela nafas. Ingin menjelaskan lagi, namun terhenti karena Yusuf yang ambil kendali.
"Zen kan ingin punya adik cantik seperti temen Zen kan?" Zen mengangguk menatap ayahnya. "Jadi mulai sekarang Zen harus dengar apa yang nda katakan barusan. Zen nggak boleh lagi tidur sama kak Re biar kak Re sama mas Hen cepat kasih adek cantik untuk Zen. Lagi pula Zen sudah besar sudah pintar, jadi harus tidur sendiri."
"Tapi ayah sudah besar masih tidur dengan nda." (Wes mbuh Zen mumet lak jelasno😂)
Tentu saja hal itu mengundang tawa semua orang yang ada di sana. Apa lagi ekspresi wajah Yusuf yang diam mau mengelak penuturan anaknya yang masih kecil namun tidak bisa.
"Sudah. Pokoknya mulai sekarang Zen nggak boleh tidur sama kak Re."
"Kalau sama ayah dan nda boleh nggak yah?"
"Boleh dong sayang." Jawab Yusuf cepat tanpa perlu pikir-pikir lagi.
Setelah usai makan siang yang kesorean. Semua keluarga berpamitan untuk pulang ke kediaman Yusuf lebih dulu.
"Katakan sama ayah, kalian ingin bulan madu di mana. Nanti akan ayah urus semua buat kalian."Ucap Yusuf sebelum berpamitan pulang.
__ADS_1
"Nanti Rere pikirkan lagi ayah."
Yusuf mengangguk. "Hen, Aku percayakan anak ku pada mu ya sekarang."
"Baik pak."
"Kami pulang lebih dulu."
"Mau istirahat atau pergi ke suatu tempat?" Tanya Hendri setelah semua orang pulang. Hendri juga langsung merangkul Reina.
Benar-benar di buat canggung dengan perlakuan yang di dapat Reina saat ini. Padahal dulu, tanpa Reina sadari jika ia sering mendapatkan rangkulan posesif dari Hendri seperti ini. Tapi kali ini respon tubuhnya sangat berbeda. Sepertinya seolah tangan Hendri memberikan sengatan dengan sensasi yang unik.
"Aku ingin istirahat mas." Tepat sekali pilihan Reina. Karena memang semalem ia tidak bisa tidur akibat terlalu memikirkan acara hari ini.
"Sepertinya istirahat memang lebih tepat." Hendri setuju dengan Reina.
Hendri dan Reina langsung menuju lift. Menekan tombol untuk menuju lantai paling atas dimana di sanalah private room berada.
"Kenapa berhenti di situ?" Tanya Hendri. Bingung melihat Reina yang tetap berdiri didekat pintu padahal mereka sudah masuk ke sebuah kamar yang sudah di hias sedemikian rupa untuk malam pengantin mereka.
"Mas, sebaiknya kita cari kamar lain dulu. Inikan untuk nanti malam." Tutur Reina pelan.
Hendri menatap lagi setiap sudut ruangan disana. Benar-benar disiapkan untuk sepasang pengantin yang siap memadu kasih.
Hendri melangkah mendekati Reina lagi. "Memangnya nanti malam kita mau ngapain?" Tanya Hendri usil sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Reina.
"Menurut mas apa?" Tanya Reina balik sambil membalas tatapan Hendri yang tengah menggodanya.
"Mau kita kesini sekarang atau nanti toh kamar ini akan kita tempati. Ayo kita istirahat dulu, semalam aku nggak bisa tidur karena terlalu memikirkan kamu." Terang Hendri sambil mengusap wajah Reina, agar mereka terus saling berpandangan.
"Jadi sekarang kita cukup tidur saja?"
"Iya. Aku butuh istirahat mengumpulkan tenaga agar nanti malam berhasil buat adik untuk Zen."
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1