
Malam ini, Hendri dan Reina bermalam di rumah Yusuf. Setelah makan malam, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Hanya sebentar mereka membicarakan perihal keadaan disana saat Wati meninggal dunia. Karena tidak ada yang ingin larut dalam kesedihan, terutama menjaga perasaan Reina.
Yusuf dan Hendri duduk berdampingan sambil bersandar pada sofa. Kedua tangan mereka melipat di depan dada sambil menyaksikan betapa sweetnya pemandangan didepan mereka. Bukan Acara televisi yang membuat mereka terkesima. Tapi Reina yang tidur di pangkuan Nissa. Dan tangan Nissa mengusap kepala Reina. Sedangkan Zen, ia duduk dilantai beralaskan karpet bulu sambil menatap Reina.
"Kak, gantian dong. Zen juga kan pengin di gituin sama Nda."
"Iri banget sih dek." Cibir Reina tidak mau mengalah.
Bukannya beranjak dari tempat, Reina justru mengganti posisinya, tidur miring menghadap perut Nissa.
"Dasar Kakak manja."
"Biarin. Dari pada adek di anggurin."
Hendri dan Yusuf justru terkekeh melihat wajah kesal Zen saat ini.
.
.
.
Semua orang sudah memasuki kamar masing-masing karena memang sudah waktunya untuk istirahat. Hendri duduk bersandar diatas ranjang sambil membaca buku.
"Lagi ngapain mas?" tanya Reina sambil menuju meja riasnya.
"Tidur sayang."
"Ohhh..." Reina mengangguk sambil tersenyum penuh arti. "Mimpi apa?"
__ADS_1
"Mimpi peluk kamu." Seketika Hendri menatap Reina saat mencium aroma parfum yang begitu manis. Aroma yang sama disaat mereka sedang bermesraan. Aroma yang begitu Hendri suka."Astagfirullah sayaaanggg..." Hendri jadi kesal melihat Reina. Ia langsung melorotkan tubuhnya lalu bersembunyi dibawah selimut.
"Ada perempuan cantik dan seksi seperti ini bukannya di lihat kok malah di acuhin sih Mas."
Kedua kaki Hendri mencak-mencak frustasi. "Sayang kan tahu aku harus puasa. Kenapa malah bikin orang pengin saja."
Jelas Hendri tidak mau menatap sang istri. Karena saat ini Reina dengan usilnya memakai lingerie berwarna merah terang. Salah satu lingerie yang di gunakan Reina saat mereka berbulan madu dulu. Lingerie yang membuat Hendri dengan semangat empat limanya menghabisi Reina dibawah kendalinya.
Reina yang sebenarnya memang ingin menggunakan pakaian kurang bahan. Kini berfikir jahil untuk menggoda pertahanan Hendri.
Reina naik keatas ranjang. Ia ikut masuk ke dalam bawah selimut menyusul Hendri untuk memeluknya.
Hendri menarik nafas dalam-dalam. Ia harus mengontrol rasa yang tersulut akibat dari tingkah Reina yang pintar menggodanya.
"Mas." Reina memeluk erat Hendri.
"Main sebentar yuk mas."
"Enggak sayang." Jawab Hendri cepat tanpa perlu di pikir ulang.
"Badan aku sudah lebih sehat loh mas. Sebentar juga pasti nggak akan kenapa-napa. Memangnya mas nggak tertarik lihat aku?" masih berlanjut Reina menguji Hendri.
Hendri langsung menyempar selimut yang menutupi seluruh tubuh mereka. Agar ia dan Reina bisa saling berpandangan.
"Sayang dengar aku." Reina mengangguk menatap Hendri. "Seorang suami pasti sangat tertarik jika istrinya berpenampilan seperti ini. Termasuk aku, saat melihat mu yang nampak cantik dan menggairahkan saat berpenampilan begini."
"Jadi?"
"Aku tahu kamu sengaja mengujiku kan?"
__ADS_1
"Aw..." Ringis Reina saat keningnya di sentil Hendri. Padahal aslinya sakit juga nggak. "Mas, ih tega sama aku."
"Apa menurut kamu, aku akan egois dan menuruti hawa nafsu ku saja?"
"Aku hanya ingin tahu secara langsung."
"Kesehatan kalian sekarang adalah yang terpenting. Sekalipun aku ingin dan kamu nampak sehat, itu belum tentu menjamin dia juga kuat." Tutur Hendri sambil mengusap perut Reina.
"Terus kalau kata dokter dia kuat, Mas masih tetep puasa?"
Hendri yang gemas dengan istrinya, langsung bertindak menarik tengkuk Reina. Memagut bibir Reina dengan sangat lembut namun terasa begitu menuntut. Cecapan yang semakin lama semakin dalam dan semakin berharap lebih.
"Mas, harus puasa." Ucap Reina kewalahan. Padahal sebenarnya kini Reina lah yang terbuai dengan kecupan dan sentuhan tangan Hendri secara bersamaan.
"Aku tahu. Tapi sepertinya, ciuman tidak masuk dalam hal yang harus menuntut ku untuk wajib puasa."
Reina menghindari Hendri saat bibirnya akan menjadi korban kebuasan sang suami. Namun tindakan Reina justru membuat detak jantung Hendri berdegup sangat kencang. Karena kini, Reina duduk diatas perut Hendri.
"Kamu mau apa sayang. Ayo kita tidur, ini sudah malam." Ucap Hendri saat keduanya tangan Reina berada disisi tubuh Hendri.
"Aku akan kasih obat tidur buat mas, agar tidur nyenyak dan mimpi indah." Bisik Reina dengan nada seksinya.
Bersambung...
Ada yang tahu obat tidur apa yang akan di berikan Reina? π€
Dua hari ini aku sengaja update 1 bab sehari π besok kita mulai crazy up πͺ π₯°
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1