Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 117 DUREN SAWIT


__ADS_3

Wajah Hendri sudah suram, kusut tak berbentuk. Sudah beberapa hari mereka menginap di rumah Yusuf, tapi Reina setiap malam tidur dengan Zen.


Setiap pagi Yusuf dan Nissa hanya menatap heran pada wajah lecek menantu mereka itu. Apalagi setiap Hendri bertemu tatap dengan Nissa, sudah semakin panik tidak karuan Hendri.


Hendri masih tidak habis pikir, bisa-bisanya adegan ia dan Reina tersorot CCTV yang tidak bisa di hilangkan jejaknya.


Nissa langsung keluar dari mobil, setelah mengantar Zen sekolah. Ia menghampiri Reina yang sedang berjalan kesana kemari sambil berjemur di halaman rumah.


"Kak."


"Iya Nda."


"Nda hanya penasaran, tidak bermaksud Ikut campur." Nissa langsung berbicara tanpa bosa basi terlebih dahulu.


"Maksud Nda?" kening Reina mengerut penuh tanya.


"Kakak nggak lagi bertengkar kan sama Mas Hen?"


"Enggak Nda. Apa kami terlihat seperti orang yang sedang bertengkar?"


"Ayah dan Nda berpikir begitu, apa lagi Kakak setiap malam tidur dengan adek." Nissa terus mengikuti langkah kaki Reina.


"Rere memang ingin tidur dengan adek Nda. Oh iya, Nda tahu mantan istrinya Mas Hen?"


"Tahu, dulu kan waktu nikahan Mas Hen, Mbah datang."


"Nda nggak ikut?"


"Ya enggak lah Kak. Zaman Mas Hen nikah, Nda kan masih sekolah. Memang kenapa Kak?"


"Sebelum pulang kesini, waktu kita mau makan di hotel. Kami bertemu dengan mantan istrinya Mas Hen."


"Terus."


"Mas Hen seperti terkejut melihat mantan istrinya Nda. Waktu itu Rere hadang perempuan itu karena mau peluk Mas Hen."


"Jadi Kakak tidur dengan adek karena marah dengan hal itu?"


"Enggak Nda. Rere itu cuma ...," Reina menggantung ucapannya sendiri.


"Cuma apa Kak?"


"Ya Rere cuma kesal saja Nda sama Mas Hen. Bisa-bisanya dia seterkejut itu waktu melihat mantannya." Dasarnya ibu hamil yang sensitif.


Nissa mengulas senyum karena tahu kalau Reina hanya sedang cemburu. "Setahu Nda, Mas Hen sama Mbak Marisa itu bercerai secara baik-baik. Pasti Mas Hen terkejut saja karena bertemu secara tidak sengaja setelah sekian lama."

__ADS_1


Reina menatap serius Nissa. "Pasti ada problemnya dong Nda kenapa bisa bercerai. Mana mantannya cantik lagi."


"Kalau masalah itu, Kakak tanya saja ke Mas Hen. Biar lebih jelas."


"Kalau Nda tahu, kenapa Nda nggak kasih tahu Rere saja."


"Kak. Hal sekecil apapun, harus dibicarakan baik-baik dengan pasangan hidup Kakak. Apalagi ini tentang masa lalu suami Kakak sendiri. Dari pada mencari tahu dari orang lain, akan lebih baik Kakak cari tahu pada orangnya langsung. Agar kalian berdua bisa saling percaya. Kepercayaan antar suami dan istri itu sangat penting kak."


"Apa Nda juga dulu juga begitu? Bertanya pada Ayah tentang Bunda (Erlin) atau tentang masa lalu Ayah bagaimana hingga ada Rere." Nissa tersenyum dan menggelengkan kepala. "Kenapa Nda?"


"Untuk apa Nda mengungkit masa yang sudah silam? Bagi Nda adalah kedepannya. Lagi pula Nda yakin Ayah Kakak itu orang yang sangat baik, dan memang itu kenyataannya."


"Kata Oma, Ayah sedikit petakilan makannya sampai ada Rere. Nda nggak penasaran saat Bunda meninggal Ayah nggak nakal lagi? Apalagi ini kota besar Nda?" tutur Reina negatif thinking pada Ayahnya sendiri.


"Nda malah nggak kepikiran sejauh itu Kak." Ucap Nissa apa adanya.


"Serius! Nda sepertinya bucin banget sama Ayah." Goda Reina.


"Kakak jangan goda Nda ya!" wajah Nissa sudah memerah karena merasa malu. Tentu saja Nissa bucin terhadap suaminya, Lelaki yang menjadi cinta pertama bagi Nissa. Suami tua Nissa itu begitu, Hemmm...


"Nda ngaku saja, nggak usah malu-malu," Reina belum ingin berhenti menggoda Nissa.


"Bukan Nda yang bucin tapi Ayah Kakak yang bucin ke Nda."


"Ck. Kalau Ayah sudah tidak diragukan lagi, memang bucin akut ke Nda. Tapi Nda, Serius Nda nggak pernah berpikir Ayah negatif thinking gitu?" Reina masih penasaran juga ternyata.


"Loh, lah iya ya." Reina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Reina dan Nissa saling pandang, tak lama mereka tertawa cekikikan karena takdir mereka yang sama. Sama-sama menikah dengan duda.


Sepertinya kata duda lebih menggoda itu memang benar adanya. Apalagi kalau duren sawit 'duda keren sarang duwit.' Mungkin kata itu sangat cocok di sematkan pada diri Yusuf.


.


.


.


"Kusut banget itu muka?" tanya Andi setelah membuka pintu untuk tamu yang baru saja datang. Mereka langsung menuju sofa.


"Pusing kepala aku." Keluhnya.


"Ada masalah?" tanya Andi serius. Sejujurnya ia kasihan dengan nasib temannya ini.


"Tante itu mau di ceraikan suaminya karena tahu hubungan kita." Curhat Bayu.

__ADS_1


"Ya Allah, Bay. Kan aku sudah bilang sejak lama, untuk mengakhiri pekerjaan itu. Masih banyak pekerjaan yang lebih baik dan yang pasti halal Bay. Kalau kaya gini, kamu sama saja merusak rumah tangga orang."


"Kamu enak ngomong begitu. Nggak enak jadi kaya aku begini An."


"Iya aku tahu, makannya aku kasih saran ke kamu buat cari pekerjaan lain, biar lebih berkah."


"Aku mau jual apartemen dan mobil ku." ungkap Bayu tiba-tiba.


"Hah!"


"Aku mau investasi di temen ku, hasilnya lumayan An. Kamu mau ikut sekalian nggak? Kata temen aku keuntungan kita 50% dari total investasi kita. Jadi semakin besar investasinya semakin besar juga keuntungan yang kita dapat."


"Investasi apaan itu, sebaiknya kamu cari tahu dulu Bay, aku takut itu sebuah penipuan."


"Mana mungkin An. Aku sudah lihat sendiri, teman aku sukses di ikut investasi itu. Baru dua bulan saja dia sudah bisa beli rumah dan mobil."


"Asli penipuan itu. Lebih baik hasil penjualan mobil dan apartemen kamu buat buka usaha di kampung Bay." Usul Andi yang lebih masuk akal.


.


.


.


Rasanya baru saja Hendri memejamkan mata, tapi kini kedua matanya harus terbuka kembali karena merasa terusik. Seperti ada sebuah tangan yang menyusup kedalam kaos yang Hendri gunakan. Seperti ada jari lentik yang sedang asik menari di dadanya.


"Sayang." Hendri langsung memeluk perempuan yang mengusik tidurnya.


"Aku pasti ganggu Mas tidur ya?" Pertanyaan macam apa yang di ajukan Reina, jika memang ia sudah tahu sendiri kelakuannya.


"Aku nggak merasa terganggu kok. Aku senang sayang tidur disini dengan aku."


Hendri mengubah posisi tidurnya menjadi miring, agar bisa saling berpandangan dengan Reina. Hendri tersenyum sambil mengusap wajah cantik sang istri.


"Aku tadi sudah tidur Mas, tapi aku terbangun karena pengin "


Kedua mata Hendri yang tadinya masih sayu karena mengantuk, seketika matanya terbuka lebar dan terang benderang walau lampu kamar masih temaram. Kata pengin yang diucapkan Reina tiba-tiba membuat tubuh Hendri semangat empat lima.


Hendri berpikir ini adalah sebuah berkah dari kesabarannya, karena hampir satu minggu ia dibiarkan Reina tidur seorang diri.


"Mas mau apa?" tanya Reina saat Hendri menarik tengkuknya dan ingin melahap bibirnya.


Bersambung...


Novel ini akan kolaborasi sama kisah Zen versi bujang 🤭 mampir ya ❤️ semoga suka🥰

__ADS_1



Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2