Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 56 CEBONG LEWAT


__ADS_3

"Mau kemana ayy, kok sudah mau rapih?" Tanya Nissa yang baru saja masuk kedalam walk in closed kamar yang ia tempati bersama sang suami, Yusuf. Ia langsung mendekati Yusuf yang sedang merapihkan kemejanya di depan kaca.


"Kekantor sayang." Yusuf menatap Nissa sejenak.


"Bukannya ayy masih libur selama tiga hari ke depan." Nissa mengambil jas yang Yusuf letakkan di kursi rias. Ia langsung membantu Yusuf mengenakan jas kerjanya setelah membungkuk mengajarkan tinggi tubuhnya dengan Nissa.


"Sayang masih ingin manja-manja sama aku?" Tiada hari tanpa menggoda Yusuf. Meski mereka sudah punya anak sekalipun. Sepertinya tingkah penggoda yang di miliki Yusuf tidak bisa meredam malah semakin menjadi.


"Ih ayy kali yang sukanya manja sama aku." Cibir Nissa telak.


Yusuf langsung mengangkat Nissa keatas kursi rias agar Nissa berdiri disana. Yusuf langsung memeluk Nissa.


"Sayang."


"Kenapa ayy?" Tanya Nissa sambil membelai kepala Yusuf yang tenggelam di perutnya.


"Kamu belum mandi ya."


"Terus tadi subuh aku mandi dengan siapa?"


"Dengan ayahnya Zen."


"Ayy salah."


"Kok salah?" Tanya Yusuf sambil menarik wajahnya untuk menatap wajah istrinya.


"Aku mandi sama ayahnya Rere."


(Lah kan sama ajaπŸ˜‚)


.


.

__ADS_1


.


Di ruang makan, Semua orang sudah berkumpul dan menikmati menu sarapan pagi ini. Meskipun teras kurang karena pagi ini mereka makan tanpa ada Reina. Namun hal itu tidak menyurutkan rasa bahagia, Karena kini yang di inginkan hidup bahagia bersama pasangan hidupnya, Sudah mulai merajut kisahnya sendiri.


"Mbah kung, Zen mau di antara sekolah sama Mbah." Pinta Zen. Bukan rahasia lagi jika Zen sangat dekat dengan Jaya, bapaknya Nissa. Bahkan jika tidur ditemani Jaya, Zen akan lebih cepat tidur. Seolah terhipnotis dengan belaian tangan Jaya di pucuk kepala Zen.


"Zen berangkat sama ayah saja." Sela Yusuf. Ia tidak ingin bapak mertuanya kelelahan mengikuti Zen kesana kemarin menuruti maunya Zen.


"Zen maunya sama Mbah kung ayah. Pokoknya titik."


"Pake koma gak?" Tanya Yusuf sengaja usil pada anak bujang yang masih kecil.


"Enggak, pake ***** saja ayah." Ucap Zen karena lidahnya keseleyo.


"Zeeennn..." Pekik Nissa terkejut mendengar ucapan Zen barusan.


Sedangkan semua orang disana terkekeh. Terlebih lagi Yusuf yang kini Terbahak karena tanpa ia duga Zen akan salah ucap.


Zen menatap semua orang bergantian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena rasa bingung.


"Ngetawain cebong lewat." Jawab Yusuf asal. Ia mengelap mulutnya dengan tissue karena sudah selesai menikmati sarapan pagi ini.


"Memangnya cebong punya kaki ayah?" Tanya Zen serius.


"Eh..." Yusuf seketika menyadap Zen yang sudah menunggu jawabannya. "Coba tanya nda..." Yusuf menoleh kesamping dimana istrinya duduk, dan ternyata Nissa sudah beranjak.


Semua orang sudah menahan tawa melihat wajah Yusuf yang harus menjawab pertanyaan Zen.


"Ehm... itu PR buat Zen. Nanti kalau Zen sudah tahu dan benar jawabannya. Ayah ajak Zen kemanapun Zen mau." Iming iming Yusuf untuk kabur dari jawaban yang harus ia jawab. Bukannya tidak tahu, Hanya saja setelah ia menjawab pasti Zen akan mengajukan banyak pertanyaan lagi.


"Ah nggak mempan sama janji palsu yang ayah buat." Cibir Zen yang biasanya di PHP Sami ayahnya sendiri.


"Kali ini ayah nggak PHP lagi. Ayo ayah antar sekolah."Ajak Yusuf sambil beranjak."

__ADS_1


"Zen mau sama mbah kung." Seru Zen kekeh.


"Zen biar..."


"Biar bapak yang ngantar Zen. Mumpung bapak masih disini." Potong Jaya.


.


.


.


Selama di perjalanan Zen yang memang tidak ada diamnya slalu saja membuat topik. Ada saja yang do bicarakan Zen. Dari teman sekolah, mainan, hewan peliharaan. Dan juga hewan yang rawat oleh orang tua Hendri.


Membuat suasana selalu ramai. Bahkan sopir yang sejak tadi terus fokus mengemudi, sesekali ikut terkerek saat mendengar celotehan Zen yang melucu.


Mobil sudah berhenti tepat di depan gerbang sekolah Zen. Jaya dan Zen langsung keluar dari dalam mobil.


"Belajar yang pintar." Ucap Jaya saat Zen menyalaminya.


"Pasti Mbah. Nanti Mbah jemput Zen juga ya mbah kung."


"Siap arek ganteng."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Zen langsung lari menuju sekolahan. Saat sampai di gerbang utama, Zen balik badan dan melambaikan tangan ke arah Jaya. Tentunya Jaya juga membalas lambaian tangan Zen.


"Bukannya itu om Bayu." Gumam Zen saat melihat mobil yang Zen pahami milik Bayu baru saja berhenti di sebrang jalan.


Tak lama kemudian, seorang perempuan bersama seorang anak yang menggunakan seragam sama seperti yang Zen kenakan keluar dari mobil Bayu.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2