Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 33 TERIMAKASIH, MEMILIH KU


__ADS_3

Semua orang kini tengah menikmati makan malam yang telah tersaji diatas meja makan. Banyak menu yang telah disiapkan oleh kepala ART. Yang pasti sesuai dengan arahan Nissa.


Sambil menikmati makanan yang sesuai dengan selera masing-masing, mereka juga nampak saling berbincang agar ruang makan tidak senyap. Bahkan rona bahagia begitu kentara di wajah semua orang.


Berbeda dengan orang-orang disana yang saling bercengkrama. Reina dan Hendri nampak diam saja padahal mereka berdua lah tokoh utama malam ini. Dan duduk bersandingan.


Orang yang melihatnya mungkin akan menilai jika Reina dan Hendri malu-malu semut. Padahal tanpa semua orang ketahui, di bawah meja tangan kiri Hendri dan Reina saling menggenggam erat. Sedangkan tangan kanannya bergerak memasukkan makanan ke dalam mulut mereka.


"Kalau Kalian mau mengganti konsep pernikahan, silahkan di ganti jika memang bisa." Ucap Yusuf.


"Sepertinya tidak perlu ayah, toh sejak awal juga mas Hendri yang mengatur konsepnya. Dan itu pun sesuai dengan ide Rere sendiri."


"Lalu gunanya bocah mata duitan itu apa?" Tanya Yusuf. Saat tahu mantan calon mantunya tidak usul apa-apa.


"Ya nurut saja dengan Rere."


"Heeehhh..." Yusuf dibuat tercengang dengan jawaban Reina. "Untung Ra Sido dadi mantu ku." Tutur Yusuf pelan.


"Lalu masih kerja dengan kakak?" Sekarang giliran Nissa yang bertanya.


"Jika dia masih mau bekerja dengan baik, Rere masih mau mempekerjakannya nda."


"Kalau menurut nda, lebih baik kakak oper saja ke teman kakak yang lebih membutuhkan. Dari pada nanti calon suami kakak cemburu." Nissa sengaja menyindir untuk menggoda keduanya.


Reina dan Hendri semakin erat saling menggenggam. Seolah keduanya tidak ingin terpisahkan oleh apapun lagi.


Karena waktu semakin larut, Hendri dan kedua orang tuanya akhirnya pulang, meninggalkan rumah besar keluarga Yusuf.


Reina segera ikut memasuki kamarnya setelah semua orang bubar dari ruang keluarga. Reina langsung membersihkan diri, lalu merebahkan tubuhnya setelah usai memoles wajahnya dengan perawatan malam.


Senyum sepertinya masih enggan pergi dari wajah cantik Reina. Gadis yang sudah dilamar oleh lelaki pujaan sebenarnya kini menatap jarinya yang tersemat cincin tanda pengikat.


"Kalau tahu aku akan sebagai ini, dan keluarga ku akan se antusias sekarang. Kenapa aku tidak dari dulu saja, sadar dengan perasaan mas Hen." Gumam Reina sambil menatap lekat jarinya.


"Dasar duda karatan, bisa-bisanya dia menyentuh ku sejauh ini." Reina menyentuh dadanya. Merasakan detak jantung yang berdetak sangat kencang.


"Apa orang yang sedang jatuh cinta, membuat organ tubuhnya bekerja seperti ini." Gumamnya terus berbicara seorang diri.


Reina yang baru akan memejamkan mata, ingin mengejar indahnya mimpi, berharap bisa bertemu dengan Hendri. Akhirnya ia terjaga kembali untuk melihat ponselnya yang bergetar.


"Siapa sih malam-malam nelpon." Gerutu Reina. Namun sesaat kemudian senyum kembali mengembang menghiasi wajahnya. Bahkan kedua netranya langsung terbuka lebar kembali.


Tangan Reina menggeser tombol berwarna hijau untuk menerima panggilan video.


Reina : "Belum tidur mas?"


Hendri : "Belum, kamu sudah tidur?


Reina : "Baru juga mau tidur terus mas telpon."

__ADS_1


Hendri : "Jadi aku mengganggu waktu istirahat mu. Maaf ya."


Reina : "Mas belum mengantuk?"


Hendri : "Rasa kantukku hilang karena terus memikirkan mu."


Reina : "Sumpah mas gombal banget." Reina sampai terpekik tidak menyangka jika Hendri sekarang jadi pintar mengolah kata.


Hendri : Menatap Reina lekat di layar ponselnya.


Reina : "Kenapa mas diam saja?" Reina jadi salah tingkah di tatap Hendri seperti ini. Ini baru via video bagaimana kalau secara langsung.


Hendri : "Terimakasih ya, sudah memilih aku."


.


.


.


"Sayang sudah tahu ini sejak awal kan?" Tanya Yusuf mencecar.


"Ayy dukun ya."


"Bukan."


"Terus apa?"


"Awalnya aku mau kasih tahu Ayy. Tapi yang jadi masalah adalah Rere lebih dulu menceritakan Bayu. Melihat ayy senang, aku mana tega mau merusak hal itu. Apalagi Rere belum menyadari perasaannya sendiri. Tapi aku senang sekarang ayy."


"Andai aku peka dengan perasaan sekretaris ku. sudah sejak lama aku nikahkan mereka sayang. Biar kita cepat punya cucu." Yusuf sudah membayangkan sejauh jauhnya.


"Wah aku jadi nggak sabar di panggil macan."


Yusuf menautkan kedua alisnya bingung. "Kok macan sayang."


"Iya macan. Oma cantik." Nissa memeluk tubuh suaminya. "Keluarga kita unik ya ayy."


Yusuf mengeratkan pelukannya pada Nissa. Walau istrinya ini seumuran dengan anak gadisnya, namun Nissa benar-benar bisa menempatkan diri dalam setiap situasi. Bagaimana mungkin Yusuf tidak sangat bersyukur mendapat istri dengan paket komplit seperti ini. Dan yang lebih penting lagi, Nissa sangat penurut dalam setiap hal. Selama itu baik.


"Tapi ayy. Apa Zen benar pernah melihat ayy sedih perkara Bayu?" Nissa penasaran dengan hal itu.


"Aku pun penasaran dengan hal itu. Bukan kah anak bujang kita itu sangat perasa dengan kedua orang tuanya?"


"Ayy benar."


"Duh perempuan beruntung mana yang bakal dapat anak ganteng pinter seperti Zen."


"Istighfar ayy. Zen masih bayi." Gemas sendiri Nissa jadinya kan.

__ADS_1


.


.


.


Pagi-pagi sekali, Reina sudah mengendarai mobilnya. Berusaha secepat mungkin untuk menuju kantor.


Setelah mendapatkan kabar dari Gita, Reina yang tadi tengah asik rebahan sambil melihat foto-fotonya bersama Zen dan Hendri. Tiba-tiba saja Reina di berikan kabar yang sangat mengejutkan dan yang pasti membuatnya ingin sekali marah saat itu juga.


Siapa yang sudah berani menyebarkan beberapa rancangan yang rencananya akan ia luncurkan satu bulan yang akan datang.


Setelah sampai di basemen kantor, Reina langsung cepat keluar dari mobil dan setengah berlari memasuki lift.


Reina langsung melangkah lebar menuju ruangan Gita, asisten Reina itu sudah sejak awal datang ke kantor.


"Siapa yang sudah berani masuk ke dalam ruang kerja ku dan mencuri berkas penting ku mbak?" Tanya Reina menahan emosinya.


"Hanya saya, pak Hendri dan ibu sendiri tentunya yang tahu tentang itu."


"Sudah cek CCTV?"


"Saya tadi sudah ke ruangan CCTV Bu, sekarang mereka sedang memeriksa bagian ruangan ibu."


Tok... tok... tok...


"Masuk." Perintah Reina. Ia dan Gita melihat orang yang kini masuk keruang Gita.


"Apa sudah di temukan pak?" Tanya Gita.


"Belum bu, Tapi kami menemukan kejanggalan Bu, karena ada rekaman ya terhapus di tanggal xxxxxx."


"Ada berapa petugas di bagian CCTV pak?" Tanya Reina.


"Ada lima orang Bu."


"Panggil semua yang bekerja di bagian itu sekarang juga. Saya tunggu di ruang kerja saya."


"Baik bu, saya akan menghubungi rekan saya agar segera datang ke kantor."


"Apa ibu mencurigai seseorang?"


"Apa mbak pun sama?"


"Kalau sampai benar dia, saya sungguh tidak menyangka dia bisa berbuat sejauh ini."


"Sepertinya dia harus tahu siapa aku." Reina tersenyum sinis. "Apa yang tidak bisa di lakukan anak bapak Yusuf ini."


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2