Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 115 SAWAN MANTAN


__ADS_3

"Nasi goreng kuuu..." Batin Yusuf sambil menahan perutnya yang sudah kelaparan saat melihat Nissa memasukan semua nasi goreng buatannya kedalam piring Reina.


"Tunggu ya, aku buatkan lagi ayy." Bisik Nissa pada Yusuf.


"Nggak usah sayang. Aku makan apa yang ada saja." Perut Yusuf sudah keroncongan. Kalau harus menunggu Nissa memasak lagi, akan sangat sulit menahan gejolak yang meronta.


"Serius?"


Yusuf hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.


Kini Hendri, Yusuf, dan Nissa seolah sedang menonton acara mukbang secara live. Mereka bertiga hanya bisa menopang dagu menatap Reina menikmati nasi goreng.


Nasi yang beberapa bulan terakhir ini Reina hindari karena merasa enek, kini Reina dengan lahap menikmati nasi goreng didepannya.


Semua orang justru nampak senang karena hal itu. Sangat tercetak jelas wajah senang Yusuf melihat anaknya makan dengan lahap.


"Pelan-pelan Kak, nggak usah buru-buru makannya." Ucap Nissa.


"Laper banget Nda. Mana nasi goreng enak banget." Puji Reina sambil mengacungkan jempol kirinya yang menganggur.


"Apa istriku terkena sawan mantan makannya tiba-tiba doyan makan?" batin Hendri kebingungan.


"Ini Mas..." Ucap Nissa memberikan piring kepada Hendri.


"Hah." Seketika kedua mata Hendri membulat karena terkejut dan detik berikutnya berganti wajah lecek, kusut butuh di setrika.


"Lah dikira aku ini penampakan kali ya?" batin Nissa saat melihat wajah aneh Hendri. "Ini piringnya. Ayo kita makan siang bareng-bareng."


Hendri menatap Reina dan Yusuf yang sedang menikmati makanan mereka. "Terimakasih Nda." Ucapnya. Hendri mencoba menetralkan wajah kucelnya agar terlihat biasa saja. Tapi saat melihat tatapan Nissa yang sesekali bertemu pandang dengannya, benar-benar membuat Hendri terasa mati kutu.


"Adek dimana Nda?"


"Adek tadi setelah berenang sama Ayah, langsung tidur siang." Jawab Nissa.


"Alhamdulillah kenyang." Ucap Reina setelah menghabiskan semua nasi goreng. Ia bersandar pada kursi sambil mengusap perutnya.


Nissa langsung beranjak mengambilkan air minum untuk Reina dan Hendri. Kalau Yusuf, tentu sudah dari tadi didepannya ada air minum.


"Masih kuat nampung nggak, Nda buatkan susu."


"Nanti saja Nda. Ini sudah kenyang pake banget."


"Mau kemana Kak?" tanya Yusuf saat Reina beranjak dari tempat duduknya. Bersamaan dengan itu, Hendri juga spontan berdiri ingin mengikuti istrinya pergi kemana.


"Mau nyusul adek tidur siang Yah."


"Loh Hen, ini kamu makan belum habis loh." Ucap Yusuf sedikit berteriak saat melihat Hendri mengikuti Reina.

__ADS_1


"Nanti saya habiskan Yah, yang ini lebih penting."


Tentu saja Hendri khawatir kalau kejadian yang hampir terpeleset menimpa Reina kembali.


"Dasar anak dua itu bikin senewen." Gerutu Yusuf.


"Mereka apa lagi berantem ya Ayy?"


"Entahlah, sedikit aneh gelagatnya."


"Apa lagi anak mantu itu, mukanya kok kaya tertekan, kucel, lecek gimana gitu loh Ayy." Ucap Nissa tanpa tahu bahwa ia lah yang menambah kelecekan wajah Hendri.


"Mungkin masih malu perkara kepergok sayang " Tebak Yusuf mengira-ngira saja.


.


.


.


Pelan-pelan Zen mengerjapkan kedua kelopak matanya yang sejak tadi terpejam terbuai mimpi. Zen merasa terusik karena ada tangan yang melingkar di tubuhnya.


Pelan-pelan Zen balik badan. Untuk melihat orang yang memeluknya erat dengan wangi khas yang Zen pahami siap pemiliknya.


Reina langsung membuka kedua matanya saat merasakan ada sebuah kecupan yang mendarat di pipinya.


"Seharusnya Kakak bersyukur sudah di cium sama bocah ganteng seperti Zen." Bangganya.


"Heleh, memangnya siapa yang bilang Zen ganteng. Jangan suka ngaku-ngaku ya dek." Reina menarik hidung Zen dengan rasa gemasnya.


"Eh, Kakak Ngapain tidur di kamar Zen? Kangen ya?" Zen spontan bangun saat menyadari jika mereka ada didalam kamarnya.


"Ih pede banget sih adek, kakak satu ini. Kakak itu tadi nggak sengaja kesini lihat Zen tidur. Eh tahu-tahu adek ngelindur terus narik tangan kakak buat tidur disini. Ya sudah dengan terpaksa kakak tidur disini temani adek, karena adek nggak mau lepasin tangan Kakak." Ngibul banget Reina sekarang.


"Ah masaaakkk..." Tentu Zen tidak percaya begitu saja.


"Masak itu di dapur dek. Sudah sana cepat mandi, ini tuh sudah sore. Adek seharian tidur nggak bangun-bangun capek kakak nungguin." Kesal Reina karena dari tadi entah berapa kali ia bolak balik mengintip Zen karena tak kunjung bangun.


.


.


.


Reina dan Nissa duduk berdua di kursi yang ada di halaman belakang. Mereka melihat Hendri, Yusuf, dan Zen yang seperti anak kecil main-main dengan kucing dan kelinci.


"Kakak sama Mas Hen nggak lagi bertengkar kan?"

__ADS_1


"Nggak kok Nda. Memangnya kenapa?"


"Perasaan dari tadi, Setiap kali nggak sengaja bertatap muka dengan Nda kok wajahnya langsung panik, pucat gimana ya, seperti ada yang aneh."


"Masak sih Nda?"


"Apa mungkin hanya perasaan Nda saja." Ucap Nissa sambil melahap cemilan yang ia bawa.


Reina diam sesaat mengingat sesuatu. "Ooohhh... mungkin Mas Hen malu gara-gara Rere bilang kalau Nda tahu perihal di ruang makan malam itu Nda." Ucap Reina tanpa beban sama sekali.


"Kakak bilang begitu sama Mas Hendri?" dengan wajah polosnya Reina mengangguk. "Astagfirullah Kakak. Kenapa hal seperti itu di beritahu kan ke suami Kakak. Pantes saja dari tadi mukanya kucel nggak karuan."


"Ada apa Nda?" tanya Yusuf yang baru saja menghampiri Nissa dan Reina. Ia kuat terkejut dengan ucapan istrinya yang memekik.


"Itu Ayy, Kakak..." Nissa menatap wajah memohon Reina untuk tidak mengatakan apa-apa.


"Kakak kenapa? Apa ada yang sakit?" Yusuf tiba-tiba jadi panik sendiri.


"Enggak ada Ayah, Rere baik-baik saja."


"Alhamdulillah. Terus tadi heboh kenapa?" Yusuf menatap anak dan istrinya bergantian.


.


.


.


"Siapa sih, sore-sore begini ada yang datang." Gerutu Bayu yang baru saja memasuki apartemennya. Sejak semalam ia menginap di rumah temannya, baru sore ini Bayu pulang ke apartemen.


"Bayu."


Bayu terkejut saat melihat perempuan yang biasa menghubunginya atau datang langsung ke apartemen karena ingin mendapatkan sebuah pelepasan yang begitu indah. Seketika Bayu langsung merubah raut wajah kesalnya untuk menyambut perempuan yang akan memberikan ia uang setelah mereka terbang melayang.


"Sayang. Kenapa wajah kamu sembab seperti ini? Ayo masuk."


"Kenapa dia bawa koper?" Batin Bayu saat perempuan itu masuk kedalam apartemennya sambil menggeret koper. Tiba-tiba saja perasaan Bayu jadi tidak enak.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Bayu setelah mereka duduk di sofa.


Perempuan itu langsung menghambur ke pelukan Bayu dan menangis sesenggukan. Bayu bingung, entah apa yang terjadi pada perempuan yang menjadi sumber keuangannya. Bayu hanya bisa menepuk-nepuk punggung perempuan yang memeluknya erat.


"Suami aku mau cerai kan aku Bay." Ucapnya setelah puas menangis di pelukan lelaki yang selalu bisa memberikan ia kepu*asan.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2