Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 21 TERUS MENEPIS RASA


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu. Semenjak Reina menjadikan Bayu dan Andi sebagai salah satu model brandnya. Membuat Dua lelaki itu semakin terkenal saja. Rezeki memang tidak kemana, mungkin itulah yang membuat Bayu dan Andi banyak mendapatkan tawaran menjadi brand ambassador dari berbagai macam produk. Endors berbagai macam camilan juga telah menambah daftar pekerjaan mereka.


Hingga dalam waktu singkat itu, membuat Bayu dan Andi yang tadinya bukan siapa-siapa kini menjadi orang yang sangat dikenali banyak orang. Apa lagi tampang yang menunjang menjadi dambaan para wanita diluar sana.


Bahkan kini, yang awalnya Bayu dan Andi tinggal di kost-kostan kecil. Sekarang mereka sudah berpindah ke sebuah apartemen. Perekonomian mereka dengan sangat cepat membaik hingga membuat Bayu dan Andi bisa membantu merubah nasib keluarga mereka di kampungnya.


Dari keberhasilan dan kesibukan Bayu dan Andi. Membuat Reina harus mencari lagi fotografer yang sesuai dengan keahlian yang dimiliki Bayu dan Andi.


Dan jangan lupakan peluncuran perdana R-DS fashion milik Reina. Sungguh sangat di luar dugaannya jika dengan waktu singkat stok barang terjual habis. Bahkan nama Reina langsung dikenal sebagai owner R-DS fashion. Bukan sebagai Reina anak perempuan pimpinan DS Group, Yusuf Dzuhairi Sucipto.


Yusuf sampai membeli pabrik konveksi untuk anak perempuannya. Reina bahkan tidak menolak bantuan dari ayahnya. Karena Reina yakin jika suatu saat nanti Reina bisa mengembalikan uang yang telah Yusuf keluarkan sebagai lahan dan modal awal Reina saat ini.


Hubungan Reina dan Bayu bahkan semakin intens. Reina sepertinya sangat senang jika sedang bersama Bayu. Bahkan kini Bayu lebih percaya diri mendekati Reina semenjak ia menjadi seterkenal sekarang.


Sedangkan Hendri. Duda itu lebih sering menghindari Reina. Namun juga tetap menyambut hangat seperti biasanya jika Reina datang ke ruangannya untuk membahas pekerjaannya.


"Lagi sibuk mas?" Tanya Reina setelah membuka ruang kerja Hendri.


"Seperti yang kamu lihat. Ada apa Re?" Tanya Hendri sambil meletakkan berkas yang masih ia periksa.


"Sudah sore kenapa mas belum pulang?" Tanya Reina sambil duduk di kursi depan meja kerja Hendri.


"Karena masih ada yang harus aku periksa sebelum besok aku harus menyerahkan semua ini pada pak Yusuf."


Reina mengangguk paham. "Mas selesaikan dulu pekerjaannya, aku mau membicarakan sesuatu."


"Bicara saja sekarang. jika menungguku, mungkin akan sampai malam kamu menunggu ku."


"Aku tunggu mas saja. Silahkan bekerja dan jangan hiraukan aku disini."


Hendri mulai memeriksa kembali beberapa laporan sebelum besok ia berikan ke Yusuf. Mencoba abai dengan Reina yang masih betah menunggunya.


Saat waktu magrib tiba. Hendri membangunkan Reina yang entah sejak kapan tertidur di sofa. Namun karena Reina mengatakan tengah libur, maka Hendri tidak mengusik kenyamanan Reina lagi.


Hendri tidak memaksa Reina untuk bangun meski tidak baik tiduran saat magrib seperti ini. Karena mungkin saja Reina sangat lelah dengan pekerjaannya seharian ini.


Jam sudah menunjukkan pukul 19.45 WIB. Akhirnya semua telah selesai. Hendri langsung menata rapih berkas yang akan ia laporkan ke Yusuf. Hendri langsung beranjak dari kursi kerjanya. Menatap Reina yang masih nampak lelap dengan mimpinya sendiri.

__ADS_1


"Perempuan mana yang beruntung yang mendapat cinta dan menjadi jodoh mas Hendri kelak ya." Gumam Reina saat telah terjaga dari tidur lelapnya. Ia mendapati Hendri yang sedang melakukan kewajibannya.


"Sudah bangun?" Tanya Hendri saat setelah selesai solat.


"Iya." Ucap Reina sambil merenggangkan tubuhnya lagi dan sambil menguap.


Hendri tersenyum melihat hal itu. Sama sekali tidak ada kecanggungan yang Reina rasakan terhadap dirinya.


"Aku numpang kamar mandi mas."


"Ya."


Hampir dua puluh menit lamanya Reina berada di dalam kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri alakadarnya, akhirnya Reina kembali menghampiri Hendri yang sejak tadi duduk di sofa.


"Mau cari makan dulu atau membahas pekerjaan kamu Re?" Tanya Hendri. Ia meletakkan ponsel pintarnya di atas meja setelah sejak tadi berselancar di dunia maya sambil menunggu Reina.


Reina ikut duduk di sofa dimana Hendri berada. "Ini bukan soal pekerjaan mas."


Hendri menatap Reina serius. Jika bukan soal pekerjaan, itu artinya tentang orang yang akhir-akhir ini menjadi topik pembicaraan Reina saat datang ke ruang kerjanya.


"Tentang Bayu?"Tanya Hendri tepat. Kerena Reina langsung mengangguki ucapan Hendri. "Siapkan mental mu Hen." Batin Hendri sambil menghela nafas pelan. Apa lagi saat melihat wajah Reina yang bersemu dengan senyum yang tak juga Redup dari wajahnya.


Pada akhirnya apa yang menjadi pikiran Hendri sejak tadi langsung terjawab sudah. Hendri menatap wajah Reina serius dan mencoba menentramkan dirnya sendiri.


"Tapi kamu masih hidup Re?" Tanya Hendri. Bukan niat iseng terhadap Reina tapi Hendri ingin menghibur diri sendiri saat ini.


"Ih mas, bukan nembak yang kaya begitu." Protes Reina kesal.


"Sudah kamu jawab?"


"Belum mas."


"Kenapa?"


"Selain bingung sepertinya aku harus mendapatkan pendapat mas juga."


"Apa pentingnya pendapat ku Re? toh yang terpenting adalah kamu. Jika kamu memang mencintai Bayu, tidak perlu mengulur waktu untuk menjawab. Bukankah ayah dan nda kamu juga tahu kalau kalian dekat?" Ucap Hendri berusaha tenang.

__ADS_1


Mendengar ucapan Hendri barusan, membuat Reina bingung dengan dirinya sendiri. Baik Nissa maupun Yusuf memang selalu mendukung keputusan Reina, jika memang itu pilihannya sendiri.


Sedangkan Yusuf juga sudah menyelidiki bagaimana keluarga Bayu di kampung sana. Yusuf mendukung saja karena dari keluarga Bayu tidak ada hal yang membuat Yusuf untuk tidak setuju. Apa lagi Bayu juga adalah orang yang tanggung jawab terhadap keluarga dan termasuk orang yang ulet dan pekerja keras.


"Ada apa dengan aku?" Batin Reina sambil menepis perasaan lain saat menatap Hendri lagi.


"Karena mas juga orang terpenting dalam hidup aku. Jadi aku juga tetap harus tahu bagaimana pendapat mas Hen."


"Jika dalam perkenalan singkat kalian sudah menimbulkan perasaan. Dan kamu juga sudah yakin bahwa Bayu bisa menjaga kamu, membimbing kamu, membuat kamu bahagia, dan bisa kamu andalkan dalam banyak hal, memberikan rasa aman dan nyaman. Jadi terima saja?"


"Begitu kah?"


"Jika masih ada keraguan yang mengganjal perasaan mu, maka yakinkan dulu semuanya Re. Aku juga nggak mau kalau nantinya kamu mengambil keputusan yang salah. Siapapun pasti ingin menikah satu kali selama hidupnya."


Reina kembali terdiam. Memahami ucapan Hendri yang tidak jauh beda dengan ucapan Yusuf dan juga Nissa. Jika kemarin ia begitu yakin saat mendapatkan pendapat Nissa bagaimana. Tapi entah kenapa untuk kali ini sangat jauh berbeda.


Reina bahkan merasakan nyeri dihatinya saat Hendri seolah telah melepaskannya. Tapi Lagi dan lagi, Reina selalu menepis perasaan aneh yang terkadang membuatnya ragu untuk bersama Bayu.


"Aku sudah berjanji pada Bayu, kalau besok aku akan memberinya jawaban mas."


"Kalau begitu, jawab saja sesuai dengan isi hati dan perasaan kamu saat ini." Ucap Hendri.


Reina mengangguk. "Kita cari maka yuk mas. Aku lapar."


Setelah makan malam, Hendri langsung mengantar Reina pulang kerumahnya. Reina langsung melepas Savetybelt saat mobil Hendri sudah sampai di depan rumahnya.


"Mas nggak mampir?" Tawar Reina.


"Nggak usah. Aku ingin segera pulang."


"Terimakasih sudah mengantarku pulang mas."


"Kembali kasih Re."


Reina langsung membuka pintu mobil. "Hati-hati ya mas." Ucap Reina sebelum menutup pintu mobil.


Hendri mencengkram erat kemudi mobilnya setelah melihat Reina menghilang dibalik pintu. "Lupakan dia mulai dari sekarang Hen." Gumam Hendri. Ia langsung menghidupkan mesin mobilnya untuk segera pulang kerumah.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2