Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 73 LAMUNAN PANAS


__ADS_3

"Mbak. Mau bawa mobil sendiri apa pakai sopir?" tanya Reina sambil melangkah keluar dari ruang kerjanya bersama Gita.


"Bawa sendiri saja bu." Jawab Gita sambil mengsejajarkan langkah kaki mereka menuju lift.


Meskipun Reina atasan Gita. Tapi Reina paling tidak suka jika Gita jalan di belakangnya seperti bocah membuntuti induknya. Ini hanya persepsi Reina untuk dirinya sendiri. Jika untuk orang lain hal seperti itu dapat Reina pahami dengan baik.


"Pulang pergi mbak yang nyetir ya. Aku nggak mau gantian." Ucap Reina sambil melangkah cepat menuju mobil Gita, setelah mereka keluar dari lift. Biasanya Reina memang suka menggantikan Gita mengemudi saat mereka keluar kantor berdua.


"Siap bu."


"Mbak aku mau tidur nggak apa-apa ya." Ucap Reina setelah menguap dan telah memasang sabuk pengamannya.


"Tumben ibu pagi-pagi ngantuk?" tanya Gita dengan polosnya.


Bagaimana mungkin Reina tidak mengantuk sekarang. Kalau tadi malam ia dan Hendri benar-benar main sampai tiga ronde karena keasikan. Sampai tanpa sadar waktu sudah mau subuh. Tanpa menyadari kalau Reina membayar kontan kesepakatan mereka semalam.


"Mbak akan tahu kalau nanti sudah menikah. Jadi tolong mbak hati-hati mengemudinya ya. Aku belum punya anak." Ucap Reina lagi, saat mobil sudah mulai keluar dari basemen kantor.


"Lah saya malah belum menikah bu."


"Bagaimana mbak Git mau nikah kalau pacar saja nggak punya."


"Nah itu ibu tahu." Ucap Gita. "Sebaiknya saya nggak cepat-cepat nikah dari pada salah orang terus gagal nikah." Tanpa sadar Gita menyindir Reina.

__ADS_1


"Mbak nyindir aku?"


"Eh, bukan begitu maksud saya bu. Tapi kalau boleh tahu kok bisa sih ibu dulu menerima Bayu?" Gita dengan keberaniannya menanyakan hal pribadi Reina. Tapi matanya harus tetap fokus mengemudi agar mereka selamat.


"Aku juga nggak tahu mbak. Waktu itu aku pikir dia seseorang yang hangat, suka bercanda, sayang keluarga, pekerjaan keras." Reina kembali mengingat kedekatan yang terjadi dengan Bayu. "Mungkin itu hanya perasaan sesaat yang lewat tanpa permisi. Atau aku menyalah artikan rasa kagum ku seolah aku tertarik dengannya. Tapi harus aku akui, dia memang menyayangi keluarganya. Bekerja juga untuk keluarganya. Tapi..." Reina diam nampak berpikir.


"Aaa,.."


"Kenapa bu?" tanya Gita panik karena Reina tiba-tiba teriak.


"Mbak berdosa banget bikin aku mengingat masa lalu. Kalau mas Hen tahu pasti dia akan marah sama aku mbak." Jelas Reina cepat.


Bucin. Mungkin kata itu yang pas untuk di sematkan pada Reina saat ini.


"Pokoknya mbak tanggung jawab kalau sampai mas Hen tahu." Todong Reina.


"Oh iya." Reina langsung menurunkan jok kursi mobil untuk mendapatkan posisi yang nyaman. "Hati-hati ya mbak."


"Iya bu."


Gita fokus mengemudikan mobilnya. Sesekali ia melirik Reina yang sudah menutup mata dengan menautkan kedua tangannya didepan dada. Entah sudah benar tidur atau belum.


"Bu Reina ini mimpi apa sih. Kok tidur sambil senyum-senyum sendiri." Batin Gita yang jadi penasaran.

__ADS_1


.


.


.


Di kantor, Hendri di buat tidak fokus dengan pekerjaan yang seharusnya segera ia selesaikan. Hendri menyandarkan tubuhnya pada kursi. Sikunya mendarat pada bagian lengan kursi kerjanya. Sedangkan jarinya menyentuh dagu dan jari telunjuknya terus memainkan bibirnya sendiri.


Urusan pekerjaan entah melayang kemana. Karen kini Hendri tengah melamun, Pikirannya penuh dengan adegan panasnya tadi malam bersama sang istri.


Lidah Hendri membasahi bibirnya yang mulai kering. Rasanya ia ingin segera pulang agar ia cepat bersama dengan sang istri.


Mengingat lagi bagiamana bibir sek*si mengulum penuh miliknya semalam saja sudah membuat Hendri cenat cenut. Belum lagi bagaimana agresifnya Reina semalam saat Reina menguasai tubuhnya tepat di adegan utama.


Membayangkan lagi bagaimana dua gundukan kembar yang terus bergerak saat Reina terus beraksi membuat Hendri gemas sendiri. Aaahhh... tentu Hendri jadi ingin menikmati dua benda kenyal itu lagi.


Tapi Hendri harus sadar diri, karena kini ia masih berada di kantor. Jadi ia harus fokus dengan pekerjaan.


"Rere... Rere..." Gumam Hendri sambil menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan adegan panas yang memenuhi otaknya. Hendri tersenyum sambil menggerakkan kursi kerjanya agar ia bisa dekat dengan meja kerjanya.


"Astagfirullah..." Pekik Hendri yang langsung terlonjak dari kursi kerjanya. "Pa... Pak Yusuf." Ucap Hendri terbata karena entah sejak kapan, Yusuf masuk ke ruang kerjanya. Dan kini sedang duduk di kursi depan meja kerjanya sambil menopang dagu, menatapnya.


"Kenapa dengan Rere?"

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2