
Zen menatap punggung ayahnya yang sudah mulai menghilang setelah keluar dari ruang makan. Ia bahkan tidak heran dengan ayahnya yang suka kabur-kaburan.
Jika Yusuf malas menanggapi anaknya dengan pertanyaan yang tidak ada habisnya jika Zen belum puas dengan jawaban yang di terima.
Berbeda dengan Zen yang menilai bahwa ayahnya tidak bisa menjelaskan dengan tepat agar membuatnya mengerti.
"Ayah mah selalu saja begitu. Memang Zen salah tanya ya nda?"
"Mbah kasih tahu." Ucap Jaya. Zen pun langsung menatap kearah mbak kungnya. "Nanti jika Zen sudah besar, sudah dewasa, pasti akan paham dengan pertanyaan Zen barusan. Makanya sekarang Zen harus sekolah yang pintar. Mencari ilmu yang banyak agar nanti Zen bisa menjadi seseorang yang berguna bagi banyak orang. Seperti ayah Zen."
"Nah dengerin tuh dek, apa yang di bilang mbah." Celetuk Reina.
"Dari tadi juga Zen kan sudah dengerin mbah, kak."
"Dasar cebong." Gerutu Reina yang gemes dengan adiknya. Selalu tepat saat berucap.
"Jadi sekarang Zen cepat berangkat sekolah. Biar nggak telat." Kata Nissa.
"Terus yang antar Zen siapa?" Tanyanya. Mengingat tadi ayahnya meminta semua orang untuk. berkumpul di ruang keluarga.
"Zen berangkat dulu sama pak sopir dan bibi ya."
"Bubun, Amira mau ikut antar Zen."
__ADS_1
"Qia juga ya nda. Pengin tahu sekolahan mas Zen."
"Boleh sayang."
.
.
.
Kini semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga. Reina duduk berdampingan dengan Hendri, Nissa duduk dengan Yusuf, Luna dengan Adam, Wati dengan Jumiasih, Sedangkan Jaya duduk di sofa singel.
"Re, Hen. Kalian sudah tentukan ingin honeymoon di mana?" Tanya Yusuf memecah keheningan di ruang keluarga.
Yusuf mengangguk. Tangannya merogoh kantong jas yang membalut tubuh kekarnya. Mengambil benda pipih yang memang sudah ia siapkan.
"Gunakan ini untuk keperluan bulan madu kalian. Kalian boleh gunakan sesuka kalian Termasuk shopping dan yang lainnya. Dan juga, kamu Hen. Terserah kamu mau libur sampai kapan. Yang penting Kalian puas bersenang-senang."Tutur Yusuf setelah menyodorkan benda pipih unlimited. "Bagus pulang-pulang sudah tek dung." Batin Yusuf.
"Tidak perlu pak. Tabungan saya selama ini cukup insha Allah untuk menyenangkan Rere." Hendri menyodorkan kembali benda pipih diatas meja.
"Ini Hadian dari ayah dan nda. Jika kalian berani menggunakan benda lainnya untuk bertransaksi selain kartu ini. Siap kalian menerima akibatnya."
Ancaman macam apa itu. Bukannya membuat orang takut saat mendengarnya. Malah membuat siapapun yang tahu pasti ingin di posisi Reina dan Hendri.
__ADS_1
"Rezeki nggak boleh di tolak." Ucap Reina yang langsung menyambar begitu saja benda pipih tersebut. Membuat Hendri hanya pasrah saja.
"Hen." Panggil Yusuf tiba-tiba.
"Iya pak." Jawab Hendri sigap.
"Selain kamu menjadi sekertaris ku, sekarang kamu juga anak menantu di rumah ini. Keluarga Rere adalah keluarga mu. Keluarga mu adalah keluarga Rere dan kami semua yang ada disini."
Meskipun Hendri diam namun dengan seksama ia tetap mendengarkan semua perkataan Yusuf dan menatap bosnya yang kini menjadi mertuanya.
"Zen sudah bisa memanggil kamu dari om menjadi mas. Jadi sekarang biasakan juga panggil bunda bukan ibu lagi tapi Oma." Ucap Yusuf sambil menatap Wati.
"Panggil Mbah, ke bapak dan ibu." Tambah Yusuf menatap Jumiasih dan Jaya bergantian.
"Panggil om dan tante pada Adam dan Luna. Tidak masalah usia mereka lebih muda dari mu, Karena memang begitu keadaan keluarga kita." Jelas Yusuf lagi.
"Dan yang lebih penting lagi adalah kami." Tangan Yusuf merangkul Nissa. "Meski kamu sudah aku anggap adik, dan kamu menganggap istri ku adalah adik mu. Namun kami sekarang adalah mertua mu, orang tua mu. Aku ayah Rere dan Nissa nda nya Rere. Belajar lah secara perlahan, panggil aku ayah, dan Nissa nda." Terang Yusuf benar.
"Mungkin awalnya akan terasa aneh, namun jika kamu biasakan lama-lama akan terbiasa dengan sendirinya."
"Baik pak. Ehm..." Hendri salah tingkah sendiri jadinya. "Baik a...a...ayah." Ucapnya sampai tergagap.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ