
"Zen, mumpung masih siang kita bobok siang yuk. Dikamar nda, bobok bertiga." Ajak Nissa. Ia sedang mencari cara untuk menghindari kecemburuan sang suami. Nissa berharap, dengan mengulur waktu pasti kecemburuan Yusuf akan mereda sendiri.
"Zen mau tidur di kamar Zen sendiri nda."
"Bagus Zen kamu harus tidur di kamar mu sendiri." Batin Yusuf yang langsung berlalu lebih dulu.
Tentu penolakan Zen barusan membuat Nissa harus lebih ekstra merayu Zen.
"Enak juga tidur bareng nda dan ayah Zen. Ada yang peluk, jadi anget."
"Nda, di luar itu panas loh nda. Kalau pelukan nggak enak tidurnya, gerah."
Jelas Nissa sadar ia harus pintar mengolah kata jika berbicara dengan bocah yang memang pintar dengan tingkat kedewasaannya sendiri.
"Kan kata ayah adek harus belajar tidur sendiri." Tambah Reina mengompori Zen.
"Ih Kakak ini. Zen juga sudah lebih sering bobok sendiri kok." Zen membela diri.
"Ya sudah, kalau begitu Nda temani Zen tidur ya."
"Ok Nda."
.
.
.
Setelah usai membersihkan diri dan berganti baju. Reina langsung melangkah mendekat ranjang. Menatap Hendri yang sudah memejamkan mata. Namun Reina tahu jika Hendri belum terlelap mimpi siang hari.
"Mas sudah ngantuk?" Tanya Reina yang belum menyadari kecemburuan Hendri.
"He'em."
Reina langsung naik keatas ranjang. Ia mengecup sejenak pipi Hendri lalu menaikkan selimut agar dinginnya AC tidak menerpa langsung ke tubuh sang suami. "Selamat istirahat mas." Tambahnya. Reina masih berfikir jika mungkin saja Hendri lelah setelah mereka jalan-jalan tadi. Belum lagi, Hendri harus fokus ke jalanan saat mengemudi.
__ADS_1
"Dasar tidak peka." Gerutu Hendri dalam hati.
.
.
.
Klek
Nissa langsung membuka pintu kamarnya. Setelah Zen terlelap, Nissa segera turun karena perkiraannya Yusuf pasti sudah lelap.
Wajah lesu Nissa langsung terlihat kembali dan lebih lecek karena saat ia sudah masuk kamar, ia melihat Yusuf yang sedang duduk santai di sofa.
Tubuh yang jelas masih nampak kekar dan segar karena mantan duda itu tidak menggunakan baju atasan dan hanya mengenakan celana pendek saja.
"Sepertinya om om satu ini memang sudah menunggu ku dan menyiapkan dirinya dengan sangat baik." Batin Nissa sambil menelan ludahnya kasar. "Ayy kok belum tidur siang?"
"Belum ngantuk." Jawab Yusuf tanpa menoleh kearah Nissa.
"Hem..."
Sumpah demi apapun, ruang kamar yang memang sudah dingin karena AC seketika bertambah lebih dingin seperti disulap oleh ratu Elsa. Membuat taburan es dimana-mana.
Nissa menarik nafas dalam-dalam sambil melihat pantulan dirinya saat ini. "Ya ya ya... Demi meluluhkan om bucin satu ini, maka aku harus berangkat dinas lebih awal." Gumam Nissa sambil menyemprotkan parfum keseluruhan tubuh. Nggak kira-kira pokoknya, bisa bikin orang mabuk kepayang.
"Ayy... mau aku pijit kakinya?" Tawar Nissa setelah keluar dari walk in closed. Ia melangkah dengan anggunnya.
Glek...
Yusuf menelan salivanya secara kasar. Melihat penampilan transparan Nissa dimana-mana. Yusuf kembali fokus pada ponselnya. Ia menahan diri, tidak ingin luluh dengan mudahnya. Bahkan Yusuf juga sampai irit bernafas karena wangi yang menguar dari tubuh Nissa adalah aroma kesukaannya. Aroma yang mampu meningkatkan adrenalin.
"Nggak usah, lebih baik sayang istirahat duluan."
Nissa langsung saja duduk di pangkuan Yusuf dan merebut ponsel sang suami untuk ia letakkan di meja.
__ADS_1
"Beneran nggak mau aku pijitin?" tanya Nissa lagi. Jari yang sudah ahli itu kini meraba sensual di dada telan*jang sang suami.
"He'em."
Masih saja Yusuf jual mahal. Padahal nafasnya sudah tercekat ingin di bebaskan. Tangannya yang gatal jelas sudah ingin meraba Kedua pa*ha yang begitu menantang.
"Apa Ayy masih saja cemburu dengan dia?" lebih baik to the point ke masalah inti.
"Sayang nggak suka kalau aku cemburu?"
"Suka. Om kalau cemburu benar-benar bikin aku gemas." Ucap Nissa sambil mengusap rahang yang terpahat tegas di wajah rupawan sang suami. "Tapi bukankah Om sangat tahu aku. Untuk apa Om cemburu, karna sampai kapan pun hanya Om yang aku cintai setelah Bapak."
"Aku hanya tidak suka dengan tatapannya yang tertarik dengan istri ku. Apa itu salah?"
"Tidak salah Om. Tapi yang jadi masalah kenapa Om jadi marah ke aku. Aku sendiri bahkan tidak bisa membuat kuasa apapun untuk orang lain menatap ku bagaimana. Karena itu sepenuhnya urusan dia."
"Jadi sayang lebih suka di hukum?"
Nissa menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau Om hukum. Karena aku yang ingin menghukum suami posesif ku ini."
"Ahhh sayaaanggg..." Des*ah nafas Yusuf tiba-tiba. Karena perbuatan tangan Nissa yang sudah pro aktif seperti Yusuf.
Nissa mengabsen seluruh wajah Yusuf. Mencium daun telinga Yusuf lalu leher dan juga dada.
Jakun lelaki beranak dua itu bahkan naik turun menikmati bagaimana aktifnya tangan dan mulut Nissa yang gencar secara bersamaan.
"Kita lihat siapa yang akan mendapatkan hukuman setelah ini." Batin Yusuf dengan senyum seringainya.
Bersambung...
Di lapak NISSA, mereka main santai. Disini aku yang baik hati ini akan mencoba mengekspresikan ke omesan om Yusuf π Mari kita tersesad bersama dan saling bergandeng tangan.
Yang nggak mau ikut tersesad harap melipir menghindari bab selanjutnya π
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1