Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 8 DIKIRA JANDA


__ADS_3

Biasanya Zen setiap satu atau dua bulan sekali selalu ikut Hendri pulang kerumahnya. Tapi untuk Reina ini baru pertama kalinya singgah ke rumah orang kepercayaan ayahnya.


"Dek jangan asal nyelonong." Pekik Reina pelan saat melihat Zen yang langsung lari begitu saja.


"Dia sudah biasa disini. Ayo duduk disana." Ajak Hendri sambil menuju ruang keluarga. Reina hanya ikut-ikut saja kemana Hendri melangkah. "Aku ke kamar dulu ya."


Reina hanya celingukan melihat kesana kemari saat Hendri naik ke lantai atas menuju kamarnya.


"Itu kakak Zen nek." Ucap Zen sambil menunjuk Reina yang ada di ruang keluarga. Zen dan ibu Rumi langsung menuju ke ruang keluarga. "Kakak."


Reina langsung menoleh menatap Zen dan perempuan yang menggandeng tangan Zen. "Ibu." Ucap Reina yang langsung berdiri dan bersalaman dengan ibu Hendri.


"Siapa namamu arek ayu?" Tanya Ibu Rumi.


"Reina bu." Jawab Reina kemudian tersenyum ramah.


"Ibu Rumi." Ucapnya juga memperkenalkan diri.


"Cantik kan nek kakak Zen." Puji Zen membuat wajah Reina memerah malu.


"Bener." Ucap ibu Rumi sambil mengacungkan jempolnya.


"Bu, bapak kaya denger suaranya Zen." Tanya lelaki yang sudah lanjut usia. Ikut bergabung di ruang keluarga.


"Kakek." Ucap Zen yang langsung menghampiri pak Makruf, bapaknya Hendri.


"Kakek kangen kok baru kesini to arek ganteng. Loh lah iki sopo bu? Gendakane Hendri opo?” Tanya pak Makruf antusias. Merasa bersyukur karena pada akhirnya anaknya yang sudah lama duda itu kini membawa pulang seorang perempuan untuk dikenalkan.


"Uduk pak. Iki ngunu mbak e Zen, anak e pak Yusuf seng nomer siji." Ucap bu Rumi menjelaskan.


"Ealah, angget ku mau calon mantu." Ucap pak Makruf.


"Reina pak." Ucapnya setelah mencium punggung tangan pak Makruf.


"Anak-anake pak Yusuf ki pancen ngeten ya bu." Ucap pak Makruf sambil mengacungkan jempolnya.


"Bener pak. Loh le arep nandi?"


"Mau ke kebun binatang bu. Zen pengin kesana." Jawab Hendri yang baru turun dari lantai atas.


"Nenek kemarin beli kelinci lo Zen." Ucap bu Rumi memberi tahu.


"Beneran nek?" Tanya Zen antusias.


"Kakek juga nambah koleksi burung." Tambah pak Makruf. Merayu Zen agar tidak jadi kekebun binatang.


"Wah Zen mau lihat." Ucap Zen girang.

__ADS_1


Reina hanya menatap adiknya yang sudah berlalu bersama pasangan suami istri yang sudah lanjut usia.


"Ini terus nggak jadi ke kebun binatang dong?" Tanya Reina.


"Entah." Jawab Hendri singkat sambil menaik turunkan pundaknya.


"Gagal deh cuci mata." Celetuk Reina.


"Tuh di kamar mandi cuci mata mah." Ucapan Hendri memang benar. Membuat Reina jadi manyun karena gagal sudah rencananya.


Reina kembali duduk di sofa. Bingung mau melakukan apa. Sedangkan Hendri berlalu menuju dapur.


"Hais. Perasaan aku ini itu ya cantik, baik, pintar masak, pintar cari duit. Masih aja jomblo. Ini akunya yang pilih-pilih, apa orang yang nggak tahu kalau aku masih perawan ting-ting." Keluh Reina curhat sambil memuji diri sendiri.


Hendri tersenyum mendengar ocehan Reina. Ia langsung meletakkan dua gelas jus semangka diatas meja.


"Kamu sih, kemana-mana sama Zen. Jadi orang ngira kamu janda, mungkin." Ucap Hendri fakta.


Tidak bisa dipungkiri memang. Banyak orang yang baru kenal Reina pastii akan mengira ia janda jika tidak tahu kalau Zen itu adiknya bukan anaknya.


Wajar kalau Banyak orang mengira Reina seorang janda. Karena saat me time, Reina selalu bersama Zen saja.


"Kecebong lincah itu gesit banget mas kalau ngikutin aku." Curhat Reina.


"Tapi kecebongnya juga sangat di butuhkan bekicot kan?" Reina mengangguk saja. "Maaf ya, kita gagal ke kebun binatang. Ibu dan bapak ku memang begitu kalau ada Zen pasti seharian mainan sama Zen."


"Makanya mas, kasih cucu bapak sama ibu."


"Ya makannya cepat nikah, biar aku bisa beli baju buat kondangan."


"Tadi juga aku sudah berusaha cari mangsa buat diajak mencetak cucu. Tapi gara-gara kalian misi ku gagal." Ucap hendri.


"Astagfirullah, seharusnya mas bersyukur karena aku dan zen yang baik hati ini membuat mas kehilangan dosa mas karena niatnya sudah tidak baik."


"Nggak baik gimana?"


"Aku tahun mas laki-laki boleh memiliki tiga istri, tapi nggak langsung tiga-tiganya di ajak kenalan dan di ajak nikah juga kali mas."


Rasanya Hendri ingin mencubit Reina karena sangking gemasnya.


"Nggak begitu juga konsepnya Re."


"BTW terus ini kita mau ngapain?" Tanya Reina bingung.


"Mau nonton film disini." Tawar Hendri karena memang bingung mau ngapain lagi.


Kini film bergenre action sudah mereka saksikan berdua. Sesekali mereka sambil menghabiskan camilan dan menyesap jus.

__ADS_1


"Aku kedepan dulu.' Ucap Hendri saat mendengar bel rumahnya.


Reina hanya mengangguk saja. Tidak perduli Hendri mau kemana.


Tak lama kemudian Hedri kembali dengan seorang perempuan cantik dan seorang gadis kecil.


"Re kenalin ini teman aku Tasya." Ucap Hendri.


Reina langsung beranjak dan mendekati seseorang yang nampak seperti keluarga kecil dimata Reina. Ada suami, istri dan anak.


"Reina mbak." Ucapnya sambil menjabat tangan Tasya.


"Tasya." Ucapnya tersenyum ramah. "Kenalan sama tante dulu nak." Pinta Tasya pada putrinya.


"Nabila tante."


Reina tersenyum saat tangannya berjabatan dengan gadis kecil dihadapannya kini. "Reina."


"Cantik ya anak gadisnya pak Yusuf." Ucap Tasya mebisiki Hendri. Membuat Reian menatap aneh pada orang yang sedang saling berbisik.


"Bila, dibelakang ada Zen. Kakek sama nenek. Bila kebeakang dulu ya."


"Iya om." Bila langsung lari menuju halaman belakang.


"Re. aku tinggal ngurus kerjaan dulu ya." Ucap Hendri yang langsung berlalu bersama Tasya menuju ruang kerjanya.


"Ck. Sial banget sih hari ini."


Entah kesialan yang mana yang membuat Reina kesal dan ingin marah saat ini.


Sudah lebih dari satu jam Film yang tadinya di tonton Reina kini di layar televisi itu yang meninton Reina yang sudah lelap. Namanya juga Reina, rebahan sedikit saja sudah langsung senyap masuk kedalam alam mimpi.


Setelah urusan mereka selesai, Hendri langsung mengantar Tasya dan Nabila kedepan rumahnya. Setelah itu ia kembali menghampiri Reina yang sudah terlelap.


Hendri langsung menuju kamar tamu yang terdapat selimut bersih disana. Ia langsung menyelimuti tubuh Reina yang meringkuk.


Hendri duduk jongkok, mengamati wajah Reina yang sudah mengandung mimpi-mimpi indah. Tangannya terulur utuk menyisihkan helaian rambut yang menutpi wajah cantik Reina.


Senyum Hendri terbit saat mengiangat bagaimana tingkah Reina bersama Zen yang ikut kekanak-kanakan. Matanya menelisik bagaimana struktur wajah Reina saat sedang tidur seperti ini.


Pikiran Hendri bercabang saat melihat bagaimana mungilnya bi*bir Reina yang dihiasi lipstik berwarna pink. Matanya sudah terkunci pada benda kenyal yang seolah menariknya untuk segera datang.


Tanpa sadar wajah Hendri mendekati wajah Reina merasakan hembusan hangat dan teratur yang kini menerpa wajahnya. Mata Hendri yang sejak tadi terpejam, seketika membuaka kedua netranya


"Apa yang mau kamu lakukan Hen?" Batin Hendri bertanya pada diri sendiri. "Dia anak bos kamu Hen, tolong jaga sikap dengan benar." Batinnya lagi mengingatkan diri.


Hendri langsung berdiri, ia matikan televisi yang sejak tadi menyala. Hendri langsung beranjak begitu saja untuk menghilangkan pikiran tidak baik yang menggerogoti kewarasan isi kepalanya.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2