
Reina Duduk di samping Yusuf, sedangkan Bayu duduk di samping Hendri. Hal yang tidak di sukai bayu adalah saat harus berdekatan dengan Hendri. Bayu sepenuhnya sadar, jika lelaki disampingnya ini telah menyimpan perasaan pada calon istrinya.
Mereka makan dengan tenang. Tanpa pembicaraan apapun, meski Yusuf memang sudah selesai lebih dulu. Bagaimana tidak selesai lebih dulu, karena ia memang datang lebih dulu sebelum akhirnya Hendri juga datang menyusulnya.
"Kamu tadi kemana Hen? Aku pikir tadi kamu duluan makan siang." Tanya Yusuf setelah melihat Hendri selesai menghabiskan menu makan siangnya.
"Saya bertemu seseorang pak."
Reina melirik Hendri yang nampak tenang dengan jawabannya sendiri. Hendri juga tidak melirik kearahnya walau itu berkaitan dengannya.
"Aku berharap kamu berpaling lebih dulu karena menemui pacar mu Hen."
"Saya hanya menemui seseorang yang sudah seperti saudara saya sendiri pak." Ucap Hendri menatap Yusuf sejenak.
Mendengar ucapan Hendri barusan membuat hati Reina terasa tercubit. Rasanya sakit namun tidak berdarah karena tidak ada sayatan luka.
"Apa seperti ini rasanya yang di alami mas Hen." Batin Reina menunduk dalam sambil terus mengaduk-aduk makanan didepannya.
"Dimakan Re." Ucap Yusuf sambil menepuk punggung anaknya.
"Eh, iya yah." Reina gelagapan saat tersadar dari lamunannya sendiri.
"Kenapa pakai kaca mata?" Tanya Yusuf heran.
"Mata Rere sakit yah." Akting lagi.
Hendri yang sejak tadi tidak melirik atau pun melihat Reina dan Bayu, spontan langsung menatap Reina begitu saja. Membuat tatapan mereka berdua bertemu untuk beberapa detik saja.
"Apa dia menangis?" Batin Hendri setelah membuang muka.
"Perasaan tadi pagi waktu dirumah gak kenapa-napa." Jujur sekali ayah Reina ini.
"Sakitnya baru saja ayah."
Yusuf mengangguk. "Bayu, ini terakhir kalian bertemu secara langsung sebelum akad nanti ya."
"Iya om."
"Om tahu kamu masih banyak-banyaknya pekerjaan. Tapi kamu tetap harus menjaga kesehatan kamu. Nggak lucu kan kalau hari H nanti mempelai lelakinya kurang fit."
"Pasti om."
.
.
.
Dikediaman Yusuf sudah nampak ramai orang. Wati, Adam, Luna, dan Qia sudah sampai lebih dulu. Lalu tiga jam setelahnya, Jaya, Jumiasih dan Amira juga sampai. Sedangkan kedua eyang Reina dari bundanya Erlin Naura Hidayat, sudah meninggal sejak tiga tahun yang lalu.
__ADS_1
Hari pernikahan Reina dan bayu akan dilangsungkan satu minggu lagi. dan sudah sejak satu minggu yang lalu, Reina terkurung dirumah ini. Orang menyebutnya di pingit sebelum acara di hari H.
Rona bahagia sudah nampak jelas, selain Yusuf. Wati adalah orang yang nampak sangat antusias. Karena pada akhirnya cucu yang ia besarkan akhirnya akan melepas masa lajangnya.
Sejak tadi Zen asik bermain dengan Jaya, Qia, Reina, dan Amira. Keempat cucu yang sangat akur meski baru kini bisa bertemu lagi.
"Sudah punya anak kok masih manja to nduk." Ucap Jumiasih sambil terus membelai kepala Nissa yang tidur di pangkuannya.
"Mumpung ketemu ibu jadi harus manja."
Semua orang terus bercengkrama, menyalurkan kebahagiaan serta rasa rindu karena jarang sekali memiliki waktu seperti ini.
"Kok wajahmu pucat toh nduk?" Tanya Jaya pada Reina.
"Dari tadi pagi pusing Rere mbah."
Jaya langsung menyentuh kening Reina dengan punggung tangannya. "Loh, panas iki. Nissa..."
"Mbah jangan kasih tahu nda. Rere nggak mau nda khawatir."
"Kamu sakit loh nduk."
"Rere tak keatas minum obat, terus tidur ya mbah. Biar panasnya cepat hilang."
"Ya wes. Ndang minum obat nduk. Wong arep rabi kok malah meriang."
"Re mau kemana?" Tanya Wati saat Reina melewati ruang keluarga.
"Rere ngantuk oma." Jawab Reina yang langsung berlalu.
"Perasaan dari tadi Luna perhatikan, Rere seperti banyak melamun Bun." Bisik Luna pada Wati.
"Bunda pikir hanya perasaan bunda saja. Ternyata kamu juga mikir begitu nduk." Ucap wati ikut berbisik lagi.
"Kenapa yang?" Adam jadi kepo.
"Kepo sih yang."
"Namanya juga ingin tahu."
***
Setelah memasuki kamarnya Reina langsung meminum obat penurun panas. Kemudian mengambil ponselnya yang sejak tadi ia tinggalkan di dalam kamar.
Banyak panggilana tidak terjawab dari Bayu. Dan juga pesan yang tidak kalah banyak. Reina hanya menghela nafas tanpa ingin membuka pesan yang dikirim calon suaminya.
Reina lebih memilih membaca pesan orang suruhannya. Orang yang ia minta untuk memata-matai seseorang.
Reina tersenyum miris. "Setelah mengatakan perasaannya dan membuat aku menjadi seperti ini, apa dia masih setenang itu dan santai menyiapkan acara pernikahan ku." Gumam Reina.
__ADS_1
Reina langsung menghela nafasnya. Melempar ponselnya secara asal, dan langsung menghela nafas menghilangkan rasa sesak di dada.
Merasa serba salah, itulah yang membuatnya dilema saat ini. Menghentikan acara yang akan di selenggarakan. Acara yang sudah banyak orang ketahui. Namun Reina tidak tega menyakiti rona bahagia yang ada di keluarganya saat ini. Belum lagi keluarga Bayu dan Bayu sendiri bagaimana.
Jika diteruskan, Reina benar-benar merasa berat hati. Perasaan yang sudah disadari siapa yang sebenarnya ia inginkan sesungguhnya.
"Ah sudahlah. Lebih baik aku tidur."
Nissa langsung keatas menuju kamar Reina setelah Jaya memberitahunya kalau Reina sedang demam.
Jaya hanya memberi tahu Nissa karena tidak ingin membuat semua orang khawatir.
"Ya allah, panas banget." Gumam Nissa setelah menyentuh kening Reina. "Kak, bangun kak."
Reina langsung membuka matanya saat merasa ada yang mengusik tidur lelapnya. "Kenapa nda?"
"Kakak demam kenapa nggak bilang nda? Sudah minum obat belum?" Nissa sangat khawatir saat ini.
"Sudah nda."
Nissa langsung menuju kelemari pakaian Reina. Mencari baju yang lebih tipis untuk Reina gunakan.
"Ganti baju yang ini kak." Reina ingin turun dari atas ranjang. "Ganti disini saja." Nissa langsung kembali menuju lemari untuk mencari selimut yang lebih tipis untuk selimut Reina. Nissa juga langsung menurunkan suhu dingin AC.
"Jangan pakai selimut tebal kak." Nissa menyingkirkan selimut yang digunakan Reina dan mengganti selimut yang tidak terlalu tebal.
"Cepat tidur biar nda kompres." Ucap Nissa lagi setelah menyipkan alat untuk mengompres.
"Maafin Rere jadi bikin nda susah."
"Siapa yang kesusahan kak. Sudah cepat tidur."
Mata Nissa mengerjap saat mulai terjaga. Tanpa sadar hingga membuat ia ketiduraan saat menjaga Reina.
"Rere kemana?" Gumam Nissa saat melhat Reina tidak ada di posisi tidurnya tadi.
Nissa langsung beranjak untuk melihat ke kamar mandi, namun sosok Reina tidak ada disana. Nissa melihat jam, pukul 01.00 WIB.
"Apa dia kebawah." Nissa langsung keluar kamar Reina. Masuk kedalam lift untuk turun kebawah.
Kaki Nissa spontan berhenti saat melihat dua orang berada di ruang makan.
"Kapan mas hendri datang kerumah ini." Batin Nissa. Ia ingin memanggil Reina, takut terjadi hal yang tidak-tidak saat berdua seperti ini.
Baru juga Nissa akan membuka mulutnya memanggil Reina. "Astagfirullah..." Ucap Nissa pelan sambil membekap mulutnya. Nissa memilih berbalik badan saat Reina tiba-tiba saja mencium Hendri tanpa ia sangka.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1