Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 109 DIKIRA SELINGKUH


__ADS_3

"Anak kita nendang sayang." Ucap Hendri saat merasakan tubuhnya yang menempel dengan perut Reina.


"Dia pasti senang sekali di peluk Mas seperti ini."


"Sayang atau anak kita yang suka di peluk seperti ini?" Hendri semakin erat mengekang tubuh Reina.


Reina tidak menjawab pertanyaan Hendri yang terdengar sedang menggodanya. Ia mencium leher Hendri dan sesekali menyesap kuat. Membuat Hendri mengerang tertahan.


"Jangan menggoda ku, sayang." Ucap Hendri saat Reina menatapnya.


Reina kembali mendekatkan wajahnya, tetapi kini sasaran Reina bukanlah leher Hendri melainkan bibir sang suami yang sudah lama tidak membuat jejak di tubuhnya.


Tentu saja dengan senang hati, Hendri menyambut perbuatan nakal Reina. Hendri selalu berpikir tidak menyangka dengan tindakan agresif sang istri.


Kecupan yang tadinya lembut kini sudah berubah menggebu. Seolah dunia hanya milik berdua, seolah ruang kantor hanya tempat mereka, Hendri menurut saja saat Reina melepas jasnya dan di lempar ke sembarang tempat.


Tanpa menjeda aktivitas benda kenyal mereka, Reina melepas dasi yang menghiasi kemeja sang suami dan melemparnya secara asal.


Hendri langsung mencengkram tangan Reina, saat jari lentik itu selesai membuka semua kancing kemejanya.


"Mau apa sayang?" tatapan Hendri sudah penuh dengan kabut rasa yang ingin ia sampaikan.


"Aku hanya ingin lihat tubuh Mas." Tutur Reina sambil melepas kemeja Hendri dan melemparnya sesuka hati Reina.


Reina mendorong tubuh Hendri agar bersandar pada sofa. Ia mendaratkan wajahnya di dada yang sudah tak berbenang. Membuat Hendri tahan nafas saat jari Reina terus bergerilya.


"Mas mau apa?" tanya Reina terkejut. Tentu saja, karena kini tubuh Reina melayang tiba-tiba karena Hendri menggendongnya.


"Lepas dahaga sayang, haus banget soalnya." Hendri melangkah menuju kamar yang ada diruang kerjanya.


Tentu saja Reina paham dengan ucapan Hendri barusan. Belum lagi kedipan satu mata untuk memperjelas kode sandi yang di berikan Hendri.


"Mas bukannya nanti kita mau cek in." Reina mengingatkan ucapan Hendri tadi pagi.


"Cek in nya lain waktu. Di ganti sekarang saja." Hendri merebahkan tubuh Reina secara perlahan.


"Ih, Mas kenapa jadi mesum tiba-tiba sih."


"Kamu yang mancing aku duluan sayang." Hendri ikut naik keatas ranjang. Ia langsung merangkak ke atas tubuh Reina.


Reina mengalungkan kedua tangannya pada leher Hendri. "Tapi aku nggak bermaksud memancing Mas kearah sini. Aku tuh tadi memang hanya ingin peluk Mas tanpa penghalang."

__ADS_1


"Terima saja resiko dari perbuatan mu yang di luar jangkauan ku." Hendri ingin kembali menikmati bibir Reina yang nampak begitu menggoda. Tapi...


Klek...


Hendri dan Reina spontan melihat kerah pintu karena terkejut dengan suara pintu yang dibuka dengan cukup kasar seperti orang yang begitu emosi.


"Hendriii..." Pekik Yusuf sambil membuka pintu ruang kamar secara kasar. Hingga membuat orang yang ada didalam sana terkejut. "Berani-beraninya kamu mengkhianati anak ku." Ucap Yusuf dengan amarah yang memuncak.


"Ayaaahhh..." Teriak Reina dan Hendri bersamaan.


Spontan Reina mendorong tubuh Hendri agar tubuh mereka yang sudah menempel secara inten itu berjarak.


Yusuf melihat Reina dan Hendri bergantian. Jelas keduanya terkejut karena melihat kedatangannya. "Astagfirullah..." Pekik Yusuf kuat karena kini giliran ia yang terkejut.


Yusuf dengan cepat menutup pintu. Lalu melangkah lebar keluar dari ruang kerja Hendri. "Ya Allah itu bocah dua bener-bener bikin aku senewen sendiri." Gerutu Yusuf sambil menuju ruang kerjanya.


"Mentang-mentang istrinya sudah kuat, maen gas saja pas di kantor begini. Coba tadi pintu di kunci kan hal seperti ini tidak akan terjadi." Luap kekesalan Yusuf.


Sudah dua kali ia merasa senewen dengan dua anaknya itu. Pertama saat Hendri yang mereka kira sakit, membuat mereka menunggu lama karena khawatir, dan sekarang, Yusuf memergoki adegan tidak patut di lihat, karena mengira Hendri mengkhianati anaknya.


"Untung aku nggak pernah kepergok mertuaku sejauh ini." Yusuf jadi cekakak sendiri. Ia sudah memperkirakan bagaimana wajah Hendri saat menghadapinya nanti.


***


"Sumpah aku malu banget Mas. Kepergok Zen saja aku sudah ketar ketir, ini malah kepergok ayah. Mana posisi kita..."


"Sudah jangan di jelaskan sayang." Hendri langsung bergegas turun dari atas ranjang. Hendri benar-benar merasa frustasi. Ia menghela nafas kasar. "Aku ke ruangan Ayah dulu."


"Mas, yakin?"


"Ini masih di kantor sayang. Pasti ada yang penting, karena pak bos langsung kesini."


Hendri dengan cepat keluar dari ruang kamar itu. Ia langsung memungut kemejanya yang berserakan dilantai. Memakai baju dengan cepat dan segera menuju keruangan Yusuf.


Tok...tok...tok...


Di dalam sana Yusuf langsung berdeham. Menetralkan wajahnya agar terlihat kembali wibawanya dan karismanya.


"Masuk."


Sebelum masuk menghadap Yusuf, Hendri menarik nafas dalam-dalam. Meskipun hal itu sama sekali tidak bisa menetralkan raut wajahnya yang sangat malu tujuh tikungan. Andai waktu bisa di putar ulang, detik ini juga Hendri ingin mengulang semuanya agar kejadian seperti ini di skip dari kehidupannya.

__ADS_1


Klek...


Yusuf melirik Hendri yang membuka pintu, lalu melangkah mendekatinya.


"Pak."


"Ada apa?" tanya Yusuf tenang. Ia menatap Hendri, namun seketika itu Hendri menunduk dengan ekspresi wajah yang begitu nampak merah tidak karuan. Sulit di definisikan.


"Pak maafkan saya perihal kejadian tadi. Saya salah karena sekarang masih jam kerja." Ucap Hendri setelah diam beberapa saat untuk memberanikan diri.


Yusuf mengangguk. "Iya. Nggak apa-apa, aku paham kok. Tapi lain kali kondisikan situasinya Hen. Aku pikir tadi kamu selingkuhi anak ku."


"Eh. Mana mungkin saya melakukan hal itu pak." Bisa di gorok Yusuf, Hendri kalau sampai ia bertingkah sejauh itu.


"Tamat riwayat mu kalau sampai hal itu terjadi." Yusuf menyodorkan berkas yang ia bawa tadi. "Ini sudah aku tanda tangani." Yusuf langsung beranjak dan menyambar tas kerjanya. Yusuf kembali menoleh kebelakang melihat Hendri.


"Kalian harus hati-hati, aku nggak mau terjadi apa-apa dengan cucu ku."


Hendri langsung balik badan menatap ayah mertuanya. "Ba-baik Ayah."


"Aku pulang duluan."


Baru saja Yusuf keluar dari ruang kerjanya, kini gantian Reina yang ada di depannya.


"Ayah." Reina langsung bergelayut manja pada lengan tangan Yusuf.


"Loh masih manja sama Ayah. Kirain Kakak manjanya cuman mau sama suami saja."


"Ih Ayah."


Yusuf mengacak-acak puncak kepala Reina. "Suami kamu masih kerja kalau di kantor Kak, lain kali jangan ganggu dia kalau masih jam kerja."


Ucapan hanyalah sebuah ucapan, karena tanpa di ketahui Hendri dan Reina, jelas Yusuf yang paling pro masalah seperti ini. Bagi Yusuf, mubazir menganggurkan Nissa yang ada didepan mata, mana sedang berdua.


"I-iya ayah."


"Jaga baik-baik cucu Ayah." Ucap Yusuf mengusap sejenak perut Reina.


"Iya ayah."


Setelah Yusuf masuk kedalam lift. Hendri langsung keluar dari ruang kerja Yusuf. Ia dan Reina saling berpandangan. Tak lama keduanya terkekeh mengingat kejadian memalukan yang kembali terjadi.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2