Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 135 LIBURAN KE PANTAI


__ADS_3

Beberapa tahun sudah berlalu, Setiap kali Zen liburan sekolah, Yusuf selalu mengajak Nissa dan Zen berlibur sesuai dengan kemauan Zen. Terkadang Zen mengajak liburan di dalam negeri, karena memang masih banyak tempat di Indonesia yang pas dan sangat cocok untuk berlibur. Namun, tak jarang juga Zen mengajak liburan ke luar negeri. Yah, memanfaatkan apapun yang di miliki sang Ayah adalah keahlian Zen.


Dan liburan kali ini, Zen mengajak Yusuf dan Nissa untuk pulang ke Malang. Itu karena Zen sangat merindukan Jumiasih dan Jaya. Setiap ke Malang, Yusuf tidak pernah absen untuk ziarah kubur.


"Liburan kemana pun, perasaan kita nggak jauh-jauh dari pantai ya sayang," ucap Yusuf sambil menggandeng Nissa. Mereka melangkah santai mengikuti kemana Zen menyusuri hamparan pasir. Angin yang berhembus begitu terasa sangat menyenangkan dan menenangkan. Keindahan alam mampu memanjakan mata mereka yang selalu melihat hiruk pikuk keramaian ibu kota.


"Dasarnya anak itu Ayy sangat menyukai pantai,"


"Tapi memang pantai itu tempat yang paling tepat untuk berlibur begini sayang."


Plak ...


Nissa dengan jengkelnya memukul tangan Yusuf yang suka sekali pro aktif tidak melihat situasi dan kondisi mereka sedang dimana.


"Ayy ini ya perasaan, tangannya tuh gatel banget."


Yusuf hanya terkekeh melihat langkah kesal Nissa yang meninggalkannya.


.


.


.


Langkah kaki Zen terhenti saat melihat perempuan yang dulu pernah beberapa kali tidak sengaja bertemu. Perempuan berjilbab yang duduk bersama seorang balita.


"Tante ..."


Perempuan berjilbab itu langsung menengok."Zen."

__ADS_1


Zen langsung lari mendekati


perempuan yang diketahui Zen bernama Zantisya. "Assalamualaikum tante." Zan mencium punggung tangan Zantisya.


"Waalaikumsalam." Jawab Zantisya. "Nak salam sama mas Zen sayang."


"Siapa namanya adek ganteng?" Tanya Zen.


"Safir." Ucap balita berusia dua tahunan.


"Ini mas Zen." Ucap Zen sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Zen kesini dengan siapa?"


"Sama nda, ayah. Adek cantiknya mana tante?"


"Itu." Tunjuk Zantisya ke arah sang suami dan putrinya yang sedang asik kejar-kejaran di pinggiran pantai sejak tadi.


Zantisya mengangguk. "Hati-hati ya."


Zen langsung beranjak setelah mendapat izin. Menggendong Safir dengan sangat erat dan hati-hati.


"Hai om..." Sapa Zen sambil melambaikan tangan.


"Heh hati-hati." Pekik Lelaki yang sejak tadi asik bermain dengan anak perempuannya. Lelaki itu melihat anaknya berada dalam gendongan bocah tengil yang pernah beberapa kali bertemu dengannya dan sang istri.


Zen menurunkan Safir dari gendongannya. "Nggak usah khawatir om. Zen kuat gendong Safir." Ucap Zen sambil memamerkan otot lengan tangannya.


"Halah. Tangan kecil kaya gitu." Ejeknya sambil menepuk pelan lengan yang Zen pamerkan.

__ADS_1


"Gini-gini tenaganya ruso-ruso loh, Om." Bangga Zen. "Om apa kabar om."


Pletak ...


"Aw..." pekik Zen setelah keningnya di sentil lelaki yang pernah ia kerjai mengitari alun-alun kota saat pertama kali bertemu.


"Sama orang tua nggak sopan. Baru datang bukannya salam malah hai hai." Kesalnya


"Assalamualaikum..." Salam Zen dengan suara penuh dramanya dan membungkukan tubuhnya.


"Waalaikum salam." Jawab lelaki yang Zen ketahui bernama Arjuno. Zen langsung mencium punggung tangan Arjuno.


Zen langsung duduk jongkok mensejajarkan tubuhnya dengan kedua balita disana. "Hai adek cantik, nama kamu siapa?" Tanya Zen yang sangat antusias melihat balita kecil nan cantik yang menggunakan jilbab. Membuat balita itu menjadi nampak imut dan menggemaskan.


"Luby." Jawabnya cadel.


"Hah, Ubi." Zen tentu tidak paham dengan jawaban balita di depannya.


"Ruby Zen." Pekik Arjuno memperjelas.


Zen mengulurkan tanganya memperkenalkan diri. "Mas Zen yang paling ganteng." Ucap Zen memperkenalkan diri. Zen mencium punggung tangan Ruby.


Dengan spontan Arjuno menarik kaos Zen. "Heh bocah kamu mau modusin anak ku ya." Tuduh Arjuno nggak tanggung-tanggung.


Bersambung ...


Yang sudah baca Hujan, beri aku cinta pasti tahu part ini๐Ÿฅฐ di sarankan baca kisah Arjuno dan Zantisya biar nggak bingung di novel Zen nanti ya ๐Ÿ˜


__ADS_1


Aku rasa kisah Reina dan Hendri sudah cukup ya, karena mereka juga sudah bahagia ๐Ÿ˜Š aku nggak mau perpanjang cerita karena ini juga sudah banyak banget babnya๐Ÿ™ aku takut ceritanya jadi kaya tahu bulat malah membosankan ๐Ÿ˜ฃ nanti bakal aku kasih tahu jumlah anak mereka๐Ÿ˜Œ


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ๐Ÿฅฐ kasih like dan komennya ๐Ÿ’‹ tab favorit juga ya โค๏ธ


__ADS_2