Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 121 PERLENGKAPAN BAYI


__ADS_3

Hari ini, Yusuf mengajak Nissa serta kedua anak dan menantunya ke sebuah tempat yang menyediakan perlengkapan bayi. Karena usia kehamilan Reina sudah delapan bulan, maka keperluan apapun harus segera di siapkan.


Reina dan Nissa bagian membeli pakaian bayi dan yang lainnya. Sedangkan Hendri, Yusuf, dan Zen bagian membeli apa yang ada didalam list catatan mereka.


Karena Reina dan Hendri sepakat tidak ingin tahu jenis kelamin anak mereka. Jadi barang perlengkapan bayi yang di beli hanya warna netral saja, pernak pernik juga mereka membeli dengan karakter yang netral.


Hendri dibuat kewalahan mengikuti Yusuf yang membeli apapun untuk calon cucu pertamanya yang sebentar lagi lahir. Tidak jauh berbeda, Nissa juga bahkan begitu sangat antusias memilih baju bayi dan perlengkapan bayi lainnya.


"Sebanyak ini?" gumamnya. Sebenarnya bukan apa-apa, Hendri takut jika membeli semua barang yang sudah menumpuk itu akan mubazir karena tidak terpakai. Mau mencegah apa yang di ambil Yusuf, ia tidak cukup berani. Hendri takut menyinggung perasaan mertuanya itu.


Hendri menatap Yusuf dan Zen yang masih asik memilih boneka dan mainan lainnya. "Ini bagaimana mencegahnya." Gumam Hendri. Ia melihat lagi semua pilihan barang yang telah mereka ambil. Sedangkan karyawati hanya menatap keheranan dengan keluarga Yusuf yang membeli semua barang seolah tidak ada lain waktu.


Dari pakaian bayi, hingga perlengkapan utama, kereta bayi, tempat tidur bayi, bak mandi, mainan, pernak pernik, wallpaper dinding dan masih banyak lagi itu di beli dua macam untuk dua rumah.


Menurut Yusuf, kalau nanti Hendri dan Reina menginap dirumahnya, tidak perlu membawa apapun karna di dua rumah sudah tersedia apa yang di butuhkan cucunya.


"Saya bayar dulu semuanya Yah." Ucap Hendri.


"Biar aku saja Hen."


"Ta-tapi ..." Ucapan Hendri hanya mengambang di udara karena Yusuf Sudan menuju kasir. Benar-benar membuat Hendri tidak enak hati.


"Sudah Mas, Rezeki anak kita." Ucap Reina sambil mencekal lengan tangan Hendri. "Diantara kita semua lihatlah Mas, Ayah yang paling semangat. Coba tadi Bapak sama Ibu ikut."


Pak Makruf dan Bu Rumi tidak ikut karena faktor U. Tentu saja jika mengikuti antusiasnya Yusuf. Bisa-bisa orang tua Hendri akan kelelahan.


"Ayo kita pulang, nanti barang-barang akan di bagi dua dan di antara ke rumah kita." Ucap Yusuf setelah melunasi semua pembelian.


Setelah Zen tidur siang, Nissa langsung menyusul Yusuf yang ada di dalam kamar Reina. Demi menyambut sang cucu yang sebentar lagi akan lahir. Yusuf merenovasi kamar Reina sedemikian rupa agar nyaman untuk cucunya nanti.


Nissa tersenyum, melihat bagaimana Yusuf menata tempat tidur bayi dan mendekorasi kamar itu agar terlihat begitu fresh.


"Ayy." Nissa memeluk Yusuf dari belakang.


"Iya sayang."


"Aku rasa Ayy adalah orang yang paling antusias dari siapapun sejak tadi. Ayo kita istirahat dulu, Zen juga sudah tidur."


"Sebentar lagi sayang. Kalau sayang lelah, cepat istirahat sana."

__ADS_1


Nissa mencium beberapa kali punggung Yusuf, membuat Yusuf menghentikan sejenak pekerjaannya.


"Ini kamar cucu kita nanti loh sayang. Jangan sampai jadi korban kita olahraga disini."


"Dasar. Ayy ini, semakin lama kenapa omesnya semakin menjadi."


"Sudah tahu omes malah di pancing."


"Melihat betapa senangnya Ayy hari ini, membuat aku jadi ingat bagaimana bahagianya Ayy saat kita akan menyambut kelahiran Zen dulu. Tapi sayangnya, aku nggak bisa melihat wajah bahagia Ayy saat Zen lahir."


Yusuf menghela nafasnya, sangat berat baginya jika harus kembali ke ingatan bagaimana sulitnya ia saat itu. "Aku sulit mendefinisikan masa dulu sayang."


"Bagaimana kalau kita nambah satu lagi Ayy."


Yusuf langsung balik badan agar bisa saling berhadapan dengan Nissa. "Aku pasti terlalu egois kan sayang, karena tidak mau menuruti mau mu yang satu ini."


"Sebenarnya bukan anaknya yang ingin aku inginkan Ayy."


"Lalu?"


"Aku hanya ingin tahu bagaimana ekspresi Ayy menemani aku saat melahirkan, dan melihat bagaimana senangnya Ayy saat menggendong anak kita yang baru saja lahir."


"Apa rasa senang dan bahagia ku tidak cukup kamu nikmati sayang?"


Nissa langsung melepaskan dekapannya karena Yusuf sudah merajalela. "Inget, kamar cucu Ayy."


Malam sudah mulai larut, tentu saja semua orang sudah mulai istirahat untuk menyambut pekerjaan esok hari.


"Siapa sih malam-malam begini datang ke apartemen." Gerutu Andi sambil beranjak dari tempat tidurnya. Andi baru saja tertidur sekitar satu jam yang lalu. "Apa ada yang tertinggal?" gumam Andi. Perkiraan Andi, mungkin saja itu salah satu timnya yang baru saja pulang dari apartemennya setelah membuat konten beberapa produk endors.


"Bayu." Andi terkejut karena ternyata Bayu yang datang berkunjung. "Tumben kamu datang kesini, kemana saja akhir-akhir ini?"


"An, aku harus bagaimana An?"


Andi jelas bingung melihat wajah kusut dan panik dari muka Bayu. "Ada masalah apa?"


"Teman yang mengajak aku untuk investasi itu sekarang jadi buronan polisi. Uang aku raib An."


"Astagfirullah. Berapa banyak yang kamu investasikan Bay?"

__ADS_1


"70% uang penjualan aku investasikan An. Sisanya aku gunakan untuk beli motor dan buat biaya hidup."


"Astagfirullah Bay. Bagaimana kalau sudah seperti ini? Terus kamu sudah lapor polisi?"


"Belum lah, aku saja barusan tahu ini tadi saat nongkrong dengan teman-teman ku."


Andi bingung harus berkomentar apa lagi pada temannya yang satu ini. Andi benar-benar kasihan melihat wajah panik dan bingung Bayu saat ini.


Meski malam sudah semakin larut, tapi hal itu tidak membuat Hendri hanyut dalam mimpi dengan mudahnya.


Entah sudah berapa lama Hendri bersembunyi dibawah selimut sambil mengusap pelan-pelan dan sesekali mendaratkan kecupan di perut Reina yang kini sudah semakin membesar.


Hendri juga mengajak bayi itu berkomunikasi. Hal itu tentu membuat Hendri terus berbincang karena setiap yang ia katakan selalu mendapatkan respon gerakan dari sang malaikat kecil.


"Mas." Panggil Reina sambil mengusap puncak kepala Hendri yang masih terus menciumi perutnya. Reina jelas terusik dengan hal itu. Belum lagi suara kekehan pelan Hendri yang membuat Reina kembali terjaga.


"Eh sayang. Maaf ya aku pasti ganggu kamu kan?"


"Mas lagi ngapain sih cekikikan sendiri di bawah selimut?"


"Aku tuh sejak tadi ngajakin anak kita interaksi sayang, dan di respon aku seneng banget. Aku jadi nggak sabar menyambut dia lahir.


"Aku juga sama Mas."


"Pokoknya nanti, Aku bakal temani kamu dari awal proses melahirkan sampai selesai sayang."


"Aku juga maunya begitu."


Hendri langsung membawa Reina dalam pelukannya. "Ayo kita tidur."


"Aku transfer uang buat kamu Bay." Ucap Andi setelah mereka berdua menghabiskan menu sarapan. "Aku harap kamu pulang saja ke kampung terlebih dahulu, buka usaha disana. Tenangkan diri kamu, rubah sikap dan cara hidup kamu yang merugikan diri kamu sendiri Bay."


Bayu hanya diam membisu, bingung memikirkan uangnya yang sudah raib.


"Aku tahu uang itu sangat banyak, tapi itu uang panas Bay."


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2