Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 76 ADEGAN TIDAK PATUT


__ADS_3

Reina langsung menggendong Zen saat adik gantengnya itu telah selesai mengenakan pakaian lengkap. Sudah rapih dan wangi.


"Kangennya kakak sama adek kakak satu ini." Ucap Reina sampul mencium puncak Zen.


Nissa hanya tersenyum melihat keduanya sambil merapihkan kembali apa saja yang di gunakan Zen tadi.


Zen masih enggan menarik wajahnya dari tengkuk Reina. Kedua tangan Zen bahkan melingkar erat mengekang leher Reina.


"Dek..." Panggil Reina karena merasa aneh dengan adiknya.


"Kenapa nda?" tanya Reina pada Nissa karena Zen tidak menjawabnya. Reina bahkan tak bersuara saat bertanya pada Nissa. Ia hanya menggerakkan bibirnya.


Nissa sendiri tidak menjawab pertanyaan Reina. Ia hanya menaik turunkan kedua pundaknya tanda tidak tahu.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Nissa langsung keluar dari kamar Zen. Sengaja memberikan waktu untuk kedua anaknya. Hey kenapa kalian seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu saja.


"Zen kangen ya sama kakak?"


"Siapa bilang Zen kangen kakak." Jawabnya sambil menatap wajah Reina.


"Terus itu kenapa matanya kok merah. Pasti kangen kakak kan." Todong Reina ingin menggoda. Sepenuhnya Reina tahu apa yang di rasakan Zen saat ini.


"Kedua mata Zen keculek rambut kakak." Jawab Zen sambil mengucek kedua matanya.


"Masaaakkk..." Ucap Reina sambil memicingkan mata penuh selidik.


"Huaaa... Zen kangen kakak." Pecah sudah tangis Zen yang sangat merindukan Reina. Zen kembali memeluk Reina, membuat leher kakaknya basah dengan air mata.


Reina mengusap air matanya sendiri. Merasa haru dengan adiknya yang masih kecil namun hatinya begitu lembut.


"Kakak juga kangen Zen. Sudah jangan menangis lagi. " Ucap Reina sambil mendudukkan Zen di tepi ranjang. Tangan Reina langsung mengusap air mata Zen. "Mau jalan-jalan sama kakak?" Tentu saja Zen mengangguk senang.


.


.


.


Setelah membersihkan diri, Reina dengan cepat segera bersiap untuk pergi bersama Nissa dan Zen.


Sore ini, Reina mengajak Nissa dan Zen bermain-main di taman kota yang nampak sangat ramai. Zen dan Reina juga sejak tadi asik bermain ayun-ayunan yang sudah tersedia disana.


Setelah sore akan berganti malam, Nissa tentu langsung menganjak kedua anaknya untuk segera pulang.

__ADS_1


Reina kembali fokus mengemudi untuk segera pulang ke rumah.


"Kakak, malam ini tidur di ruang kita kan kak?"


"Iya dek."


"Ye... asiiikkk..." Zen senang dan nampak sangat kegirangan.


"Kenapa. Adek pasti kangen tidur sama kakak kan?"


Zen tentu langsung menggelengkan kepalanya. "Kata nda sama ayah, kalau Zen ingin cepat punya adik cantik, Zen nggak boleh tidur sama kakak lagi."


"Pinter anak nda." Puji Nissa sambil menarik gemas pipi Zen.


"Yaaahhh... padahal malam ini kakak ingin tidur sama Zen."


"Nggak boleh kakak. Karena kakak harus cepat kasih Zen adik cantik."


Tanpa terasa mobil sudah masuk ke halaman rumah setelah gerbang terbuka otomatis. Reina langsung memasukkan mobilnya kedalam garasi.


"Mas Hen sudah pulang." Batin Reina setelah keluar dari mobil dan melihat mobil sang suami sudah terparkir rapih disana.


Zen dan Nissa langsung menuju ke ruang keluarga karena memang di sanalah Yusuf berada. Sedangkan Reina langsung bergegas menuju lantai atas. Baru beberapa jam tidak bertemu suaminya membuat Reina merasakan rindu yang menggebu. Duh lebai kamu Re.


Klek


"Maaasss..." Antusias Reina melangkah cepat menuju sang suami.


"Kenapa sayang?"


Reina terpaku sejenak melihat tubuh segar Hendri yang terpampang nyata di depan mata.


Hendri dengan santainya, setelah mandi hanya menggunakan celana pendek dan membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos begitu saja.


"Wah ada aurora." Ucap Reina girang.


Reina langsung naik keatas ranjang dan duduk di atas perut Hendri. Reina menenggelamkan wajahnya pada dada Hendri untuk menghirup aroma tubuh yang begitu menggugah selera.


"Sayang jangan goda aku ya." Ucap Hendri saat Reina terus menciumi tubuhnya. Tangan Hendri mengusap kepala Reina.


"Aku bukan setan mas." Ucap Reina sambil mengangkat wajahnya menatap Hendri sejenak. Lalu melanjutkan lagi aktivitas keinginannya sendiri.


"Jadi pengin kaya yang semalam sayang."

__ADS_1


"Wani Piro?" Tanya Reina. Kalau boleh jujur Reina juga ingin mengulang kembali adegan semalam. Adu skill keliaran masing-masing.


Hendri yang tergoda dengan bibir istrinya yang begitu nakal memberikan pela*yanan tak terduga. Tentu langsung menarik tengkuk Reina untuk ia cecap.


Reina menerima dengan senang hati. satu tangan Hendri menahan tengkuk Reina dan satu tangannya sudah menyusup kedalam baju Reina. Tujuannya tentu untuk melepas pengait yang menjadi penghalang antara tangan Hendri dengan dua lembah kembar yang menantang.


Klek


"Kakak." Teriak Zen sambil membuka pintu untuk mengejutkan Reina.


Bruk


"Awww..." Pekik Reina kesakitan.


Adegan yang tidak patut di lihat bocah yang umurnya saja belum genap enam tahun tentu mengejutkan Reina dan juga Hendri.


Niat hati Reina ingin mendaratkan tubuhnya kesamping kanan Hendri untuk mengakhiri adegan mereka. Karena buru-buru takut terlihat Zen Reina spontan menggulingkan tubuhnya ke sebelah kiri. Hendri yang tidurnya di tepi ranjang, tentu membuat Reina mendarat ke lantai.


"Sayang." Hendri yang terkejut karena istrinya jatuh pun langsung turun dari atas ranjang membantu Reina untuk segera bangun.


"Eh, Ada mas Hendri." Ucap Zen pelan karena merasa bersalah.


Nissa sudah memberi tahu Zen untuk mulai mengetuk pintu terlebih dahulu saat akan masuk kedalam kamar Reina.


Sedangkan Zen sendiri masih mengira kalau di dalam kamar kakaknya belum ada Hendri.


"Masuk Zen." Ucap Hendri saat melihat Zen ingin menutup pintu kembali.


"Maafin Zen kak Re, mas Hen." Ucap Zen sambil mendekat.


Bersambung...


Karena isi kepala aku masih encer jadi aku akan berusaha untuk crazy up yaπŸ˜‰


jam update


pukul 00.10 wib


pukul 12.10 wib


pukul 18.00 wib


kalau keburu mungkin aku akan tambah lagi sebelum tidur 🀭

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2