Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 113 MANTAN ISTRI


__ADS_3

Setelah melakukan adegan panas, Hendri dan Reina tertidur karena merasa sangat lelah. Bagaimana mungkin tidak lelah, karena Reina yang mengajak Hendri untuk melakukannya lagi. Awalnya Hendri tidak ingin menuruti ajakan Reina. Hendri tentu saja memilih menahan diri demi keamanan istri dan calon anak mereka. Namun, godaan kuat yang diberikan Reina merobohkan pertahan hati Hendri. Dengan semangat menggebu mereka kembali melakukan adegan penghasil keringat.


"Mas... Mas..." Reina menggoyang-goyang tubuh Hendri agar segera bangun.


"Hemmm... kenapa sayang?"


"Ayo bangun Mas."


"Sebentar lagi sayang, aku masih mengantuk."


"Aku lapar Mas."


Mendengar kata lapar, tentu saja kedua mata Hendri langsung terbuka lebar. "Aku pesankan makanan, terus kita tinggal mandi."


"Aku maunya makan di bawah."


"Enakan disini. Sayang nggak perlu capek-capek turun."


Reina bangun dari dekapan Hendri. "Turun juga pakai lift Mas, bukannya kita jalan menuruni tangga."


Hendri langsung turun dari atas ranjang dengan cepat lalu menggendong Reina. "Ayo kita mandi."


Setelah tubuh sudah kembali segar dan sudah rapih dengan pakaian yang nampak santai, keduanya segera bergegas keluar dari kamar hotel mereka untuk memasuki lift dan segera turun.


"Hati-hati sayang jalannya." Hendri langsung menggenggam tangan Reina karena jalan begitu cepat setelah keluar dari lift.


"Aku lapar sekali Mas. Kalau kita jalan seperti bekicot gini, kapan sampainya."


"Tapi nggak secepat itu juga kamu jalannya sayang. Kamu ini lagi hamil jangan pecicilan."


"Pecicilan juga aku tetap hati-hati Mas." Reina langsung bergelayut manja sambil melambatkan langkah kakinya agar mereka jalan seiringan. Sedangkan para karyawan hotel, tentu memberikan salam hormat saat berpapasan dengan Hendri dan Reina.


"Mas Artha."


Seketika langkah Hendri dan Reina terhenti saat melihat seseorang yang berpapasan dengan Meraka dan tiba-tiba memanggil Hendri.


"Risa." Gumam Hendri yang hanya di dengar Reina.


Reina menatap wajah terkejut Hendri saat melihat wanita yang kini tak jauh dari mereka berdiri.


"Nggak nyangka banget Mas Art, kita bisa ketemu lagi."


Reina langsung melangkah ke depan tubuh Hendri saat perempuan yang disebut namanya Risa oleh Hendri tadi akan menghambur ke pelukan tubuh suaminya.


"Eh, kamu siapa?" tanyanya saat tindakan Risa dihadang oleh Reina.

__ADS_1


"Mbak yang siapa?" tanya Reina sedikit kesal karena ada perempuan asing yang mau memeluk suaminya.


"Aku mantan istrinya Mas Artha. Kamu?"


Reina tersenyum kesal. Ia menyapa Hendri yang ternyata menatapnya juga. "Mantan!" Reina menatap Hendri penuh dengan syarat. "Pantes."


Hendri langsung menahan tubuh Reina yang akan melangkah meninggalkan Hendri dengan perasaan yang jelas marah.


"Risa, kenalin ini istri aku, Reina."


"Ups. Sorry Reina, aku pikir kamu tadi siapanya Mas Artha. Nama aku Marisa." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


"Reina." Ucapnya menjabat tangan perempuan yang bernama Marisa. "Maaf ya mbak, aku laper banget." Reina menggerakkan pundaknya agar tangan Hendri terlepas darinya. Ia langsung melangkah lebar.


"Sepertinya aku buat ke salah pahaman sama istri kamu Mas."


"Aku nggak nyangka kita bisa bertemu lagi Ris. Tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk berbincang. Aku duluan ya."


Marisa menatap punggung Hendri yang mengejar langkah lebar Reina. "Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi Mas."


Hendri semakin mempercepat langkahnya mengejar Reina. Bukan makanan yang dituju Reina melainkan pintu keluar hotel.


"Sayang, tunggu sayang." Hendri semakin mempercepat langkahnya. "Ya Allah, sayang hati-hati." Hendri sampai terkejut saat Reina hampir terpeleset saat akan menuruni beberapa anak tangga, beruntung posisinya sudah dekat dengan Reina jadi Hendri masih sempat menangkap tubuh yang akan terjatuh. Sudah pasti tidak dapat di bayangkan lagi jika tadi Reina sampai terpeleset.


Reina langsung berdiri tegap dan menyempar tangan Hendri yang masih menyentuhnya. "Ngapain Mas kejar aku kesini?"


Reina menangis karena apa yang di katakan Hendri ada benarnya. Tapi ini juga terjadi karena Hendri juga, itulah yang dipikirkan Reina saat ini.


"Sayang."


Reina langsung mundur saat Hendri melangkah mendekatinya. "Aku marah sama Mas." Reina langsung masuk ke dalam taksi yang baru saja berhenti karena menurunkan penumpang.


"Sayang..." Hendri telat mencegah Reina. "Ya Allah, Re. Kamu salah paham." Hendri langsung masuk kedalam taksi yang baru saja menurunkan penumpang. "ikuti mobil depan itu ya pak."


.


.


.


Sedangkan di rumah yang lain, terdapat seorang suami yang masih meluapkan seluruh amarahnya. Padahal semalam ia sudah mengeluarkan segala emosinya.


"Mas tolong maafkan aku Mas. Aku janji, aku nggak akan temui Bayu lagi. Aku akan setia sama kamu Mas." Ucap perempuan yang memeluk kaki suaminya.


"Aku mungkin akan memaklumi semuanya jika kamu menghamburkan uang untuk shopping, tapi apa? kamu sudah bermain sejauh itu. Kamu habiskan uang ku untuk menyewa lelaki pemuas mu itu."

__ADS_1


"Aku ngelakuin itu juga karena kamu jarang dirumah Mas."


"Jadi semua ini salah ku?" tanya Ridwan sambil menyempar tubuh istrinya agar tidak menyentuh kakinya lagi. "Padahal sejak awal kamu tahu betul bahwa ini pekerjaan ku. Aku kerja untuk kamu, penuhi kebutuhan kamu dan anak kita."


"Mas tolong kasih aku kesempatan sekali lagi Mas." Air mata perempuan itu tiada henti bercucuran.


"Aku tidak mau menggunakan barang bekas. Silahkan keluar dari rumah ini seperti perjanjian kita diawal dulu."


Perempuan itu tidak bisa melakukan apapun karena ia jelas kalah telak dengan perjanjian pranikah mereka.


"Aku harus kemana?" Batinnya saat ia sudah keluar dari gerbang rumah megah yang telah memberinya kenyamanan selama beberapa tahun ini. "Apa aku pergi ke apartemennya saja."


.


.


.


Hendri sedikit bernafas lega saat melihat mobil taksi yang di tumpangi Reina menuju kearah rumahnya. Sejak tadi Hendri sudah sangat khawatir kalau Reina akan pulang ke rumah Yusuf.


Bagi Hendri, ke salah pahaman ini akan lebih baik di ketahui keluarganya saja. Tidak sampai diketahui mertuanya.


"Sayang..." Hendri langsung mengejar Reina setelah membayar dan turun dari taksi.


"Apaan sih Mas?" Reina yang sedang marah kini jadi risih saat Hendri menyentuhnya.


"Sayang dengar dulu penjelasan aku. Aku..."


"Loh kalian sudah pulang?" tanya Bu Rumi yang baru masuk ke ruang tamu.


Seketika Reina pindah posisi kesamping Hendri untuk memegang lengan tangan suaminya. Saat itu juga Hendri merasa lega lagi karena Reina tidak menunjukkan ke salah paham mereka ini.


"Sudah Bu." Jawab Hendri sambil merangkul Reina.


"Ibu nggak tahu kalau kalian pulang cepat. Jadi ibu belum buatkan bubur jagung buat Rere."


"Nggak usah Bu, Rere tadi sudah makan kok." Jawabnya berbohong.


"Kalau begitu Hendri ajak Rere istirahat dulu Bu."


"Iyo wes kono."


Mereka berdua jalan nampak mesra menuju kamar mereka. Reina langsung menyempar tangan Hendri yang melingkar di pundaknya. Lalu jalan lebih dulu memasuki kamar.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2