
Hendri langsung mencabut ponselnya karena daya sudah seratus persen. Ia langsung menekan tombol power untuk menghidupkan kembali ponselnya, dan seketika itu banyak pesan masuk dan panggilan tidak terjawab dari aplikasi berwarna hijau.
Sekali lagi Hendri membaca ulang pesan hanya dikirim Pak Makruf, karena takut salah baca. Sedangkan Adam hanya melongo melihat Hendri yang tiba-tiba keluar dari ruang kerjanya.
Hendri melangkah cepat menuju ke ruang kerja Yusuf dan langsung membukanya.
"Ayah ... "
"Ayo kita pulang sekarang Hen," ucap Yusuf karena tahu apa yang akan di ucapkan mantunya itu.
hari perkiraan lahir yang seharusnya kurang lebih dua Minggu lagi, benar-benar meleset dari perkiraan Hendri. Siapa yang akan tahu kalau ternyata kelahiran anak mereka akan secepat ini. Walau sebenarnya Hendri dan Reina sudah mendapatkan keterangan jelas tentang hal ini.
Meskipun awalnya Hendri dan Yusuf pergi ke Malang membawa mobil, demi mempercepat waktu mereka kini sudah berada di bandara, menunggu jam terbang.
Reina : "Mas." Reina menerima panggilan video call dari Hendri.
Hendri : "Bagaimana sekarang sayang?"
Reina : "Ya begini lah Mas, namanya juga mau melahirkan."
Hendri terenyuh melihat senyum sang istri. Belum lagi saat Reina menggigit bibirnya, menahan kuatnya kontraksi yang semakin teratur. Melihat tatapan Reina yang begitu sangat berharap adanya Hendri saat ini.
Hendri : "Sayang jangan tunggu aku. Memang sudah waktunya anak kita lahir. Minta temani Nda atau ibu ya. Aku pasti selalu doakan keselamatan kamu dan anak kita." Reina mengangguk sambil mengusap air matanya yang sudah tidak bisa di bendung lagi.
Reina : "Iya Mas."
.
.
.
Beberapa jam telah berlalu. Entah sudah berapa kali Nissa dan Bu Rumi bergantian masuk menjaga Reina.
Tubuh Nissa terasa aneh sejak tadi, bahkan keringat dingin terus membasahi telapak tangannya. Bahkan, badan Nissa ikut merasakan sakit sendiri saat melihat Reina yang berulang kali menarik nafas, ketika kontraksi.
"Nda, bukankah sudah waktunya jemput adek?" di saat seperti ini, bahkan Reina masih ingat dengan jadwal jam adik satu-satunya itu pulang sekolah.
"Sopir yang jemput kak, adek juga langsung di antar ke sini."
Reina terkekeh pelan. "Adek nanti pasti lebih senang dan heboh sendiri."
"Bukan heboh lagi, besok waktu sekolah pasti langsung pamer ke temen-temennya.
Beberapa menit kemudian, Nissa langsung memanggil dokter karena Reina sudah merasakan apa yang sudah dijelaskan dokter.
Reina di bantu tenaga medis untuk mengatur posisi yang pas, karena pembukaan sudah lengkap.
Dokter terus memimpin Reina untuk mengejan. Sedangkan Reina terus menggenggam tangan Nissa kuat.
Ibu sambung Reina yang memang jago bela diri itu tentu saja remasan tangan Reina tidak begitu sakit baginya. Tapi yang jadi masalah adalah, tubuh Nissa yang terasa gemetar dan lemas serta keringat dingin yang terus membasahi tubuh Nissa.
__ADS_1
"Owek ... Owek ..."
Seketika suara bayi menggelegar kuat memenuhi ruang persalinan.
"Alhamdulillah..." Ucap syukur semua orang yang ada di sana.
"Selamat ya Bu, bayinya perempuan," ucap dokter kemudian menyerahkan bayi mungil itu kepada asistennya untuk di bersihkan.
Reina langsung menatap Nissa. "Alhamdulillah. Nda, adek pasti seneng banget."
.
.
.
"Alhamdulillah lahir Pak." Ucap Bu Rumi yang menunggu di luar. Jelas mereka mendengar suara tangis bayi yang menggelegar kuat.
"Alhamdulillah." ucap Pak Makruf dan Zen bersamaan.
"Yeee ... akhirnya Zen punya adek bayi." Zen begitu sangat kegirangan.
Karena tidak ada Hendri, akhirnya pak Makruf yang mengadzani cucu pertamanya itu. Reina tersenyum melihat wajah lanjut usia yang kini nampak berbinar bahagia menggendong cucunya.
Setelah selesai di bersihkan dan di lakukan observasi dua jam pertama. Kini Reina sudah di pindahkan ke ruang rawat.
Zen yang sudah sejak tadi ingin melihat adiknya, tentu saja sangat senang saat Reina dan bayinya di pindahkan ke ruang rawat.
Nissa langsung menggendong bayi yang sedang lelap. "Nggak boleh berisik ya Zen."
"Iya Nda."
Nissa mengajak Zen duduk bersama di sebuah sofa.
"Dedeknya kok kecil ya Nda."
"Zen juga waktu baru lahir ya segini dek."
Zen menciumi pipi bayi yang masih memerah itu pelan-pelan. "Dedeknya kaya boneka ya Nda, Cantik."
"Loh... loh... adek tahu dari mana kalau adeknya cantik." Heran lah Nissa karena belum ada yang memberi tahu Zen kalau bayi mungil ini berjenis kelamin perempuan.
"Kan Zen maunya Adek perempuan, pasti kak Re kasih perempuan lah Nda." Sesimpel itu pemikiran Zen.
"Adek sudah lihat dedek bayi kok nggak lihat kakak?"
"Oh iya Zen lupa." Ucapan Zen barusan tentu membuat Reina memanyunkan bibirnya.
Reina langsung meletakkan piring di atas meja karena telah selesai makan. Ia langsung mendekap Zen, saat adiknya itu naik keatas brankar dan naik dan langsung memeluknya erat.
"Terimakasih kak sudah kasih adik cantik buat Zen," ucapnya setelah mendaratkan kecupan di pipi Reina.
__ADS_1
"Sama-sama adik kakak yang paling ganteng." ucap Reina sambil menarik gemas pipi adiknya.
"Tadi teman Zen yang lain juga punya adik baru loh kak."
"Benarkah?"
Zen pun mengangguk. "Adiknya laki-laki, Zen juga mau adik laki-laki kak."
"Astagfirullah adeeekkk ... " Reina menguyel-uyek adiknya dengan gemas. Membuat semua orang yang ada disana terkekeh melihat keduanya.
.
.
.
Beberapa Jam kemudian, Hendri dan Yusuf bergegas menuju ruang rawat setelah mobil sudah sampai di lobby rumah sakit.
Dua lelaki matang dan menantang itu seolah seperti dua orang yang sedang lomba jalan cepat, agar segera sampai di ruang rawat Reina.
Setelah mengucapkan salam. Dua lelaki itu langsung masuk. Jika Hendri menuju istrinya lebih dulu agar cepat tahu bagaimana keadaannya sekarang. Tentu berbeda jauh dengan Yusuf, karena tempat utama yang ia tuju adalah kamar mandi.
"Sayang ..."
Reina tentu langsung tersenyum senang melihat kedatangan suaminya. Bu Rumi yang sejak tadi menemani Reina tentu langsung beranjak dari sana. Memberikan waktu untuk anak dan menantunya.
"Mas ..."
Hendri langsung memeluk Reina erat. Meski sudah mendapatkan kabar atas kelancaran dan keselamatan proses melahirkan, tentu saja Hendri belum lega jika belum melihatnya secara langsung.
"Kamu baik-baik saja kan sayang?"
"Aku baik Mas, Alhamdulillah."
"Aku sangat khawatir tadi."
"Ada bapak, Ibu, dan Nda yang jaga aku disini Mas. Kenapa khawatir banget begini."
Hendri melerai pelukannya. "Maafkan aku, nggak bisa temani kamu berjuang melahirkan anak kita." Hendri mendaratkan banyak kecupan di wajah Reina.
"Yang terpenting adalah doa Mas untuk kami. Semuanya berjalan dengan sangat lancar Mas."
.
.
.
Setelah mencuci tangan, kaki, dan wajah, Yusuf langsung keluar dari sana. Rasanya sudah sangat tidak sabar untuk segera menimang cucu pertamanya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ