Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 86 DRAMA REINA


__ADS_3

Sudah sejak tadi Yusuf menemani Zen bermain di halaman depan rumah. Melihat tingkah lucu beberapa kucing peliharaan Zen. Sambil memberi makan kelinci yang senagaja Zen lepas dari kandangnya.


"Zen haus nggak?"


"Nggak ayah."


"Ayah masuk sebentar ya, haus."


Baru saja Yusuf menaiki tangga. Ia melihat Hendri yang baru keluar dari rumah.


"Lecek amat itu muka? Kurang Zat besi kamu Hen?" tanya Yusuf.


Hendri menatap wajah Yusuf yang sangat jelas nampak cerah ceria. Wajah yang nampak bercahaya yang bisa menyilaukan mata.


"Apa kecemburuan pak bos dengan Nissa sudah hilang?" batin Hendri begitu ingin tahu. Tapi dia tidak mungkin menanyakannya.


"Kurang nutrisi yah." jawab Hendri asal.


"Ckckck. Makan gizi seimbang Hen. Nggak lucu kalau mantu ku sampai kena gizi buruk." Tutur Yusuf.


"Anak bapak Yusuf tuh yang bikin aku gizi buruk." Batin Hendri. "Sesekali viral kan nggak apa-apa yah." Ucap Hendri begitu saja.


"Dasar mantu." Gerutu Yusuf. Ia melihat Hendri turun dan menghampiri Zen. Yusuf langsung melanjutkan perjalanannya yang terhambat. "Suami mu muka lecek kaya baju kumel belum di setrika itu kenapa Re?" tanya Yusuf karena bertemu anaknya. Lagi-lagi langkahnya terhenti.

__ADS_1


"Ini juga Rere mau tanya yah. Rere kira tadi diam karena lelah dan butuh istirahat. Eh nggak tahunya sampek bangun tidur nggak berubah." Adunya yang malah curhat.


"Cemburu kali."


"Cemburu? Sama siapa ayah?"


"Sama yang tadi ngobrol dengan kalian waktu di restoran." Yusuf langsung berlalu menuju dapur. Rasanya tenggorokannya sudah semakin kering kerontang.


Reina terpaku, berpikir sejenak dimulai dari mana perubahan Hendri. "Dasar Rere nggak peka. Bisa-bisanya kamu nggak sadar dengan perubahan suami kamu sendiri." Gumam Reina sambil melangkah lebar ke depan rumah.


"Mau kemana mereka?" batin Reina saat melihat Hendri dan Zen menuju gerbang utama.


"Maaasss..." Teriak Reina namun Hendri tidak mendengar suaranya.


Reina langsung lari menuruni beberapa anak tangga. Tanpa melihat beberapa kucing yang sedang kejar-kejaran. Reina yang sedang lari dan hanya fokus pada Hendri dan Zen, tak sengaja ia tersandung kucing yang melintas.


"Awww..." Ringis Reina. "Memeng ih, nyebrang nggak tengok kiri kanan dulu. Untuk kamu nggak kelindes aku." Ucap Reina sambil mengusap lututnya yang mungkin saja lecet.


"Pak Hen, itu mbak Reinanya kejungkel." Ucap salah satu scurity sambil menunjuk kerah Reina.


Secara bersamaan Hendri dan Zen balik badan mengikuti arah telunjuk scurity.


"Sayaaanggg..."

__ADS_1


"Kakak..."


Secara bersamaan, dua lelaki posesif beda usia itu lari ngebut menuju kearah Reina.


"Mas Hen, Zen ketinggalan." Teriak Zen karena langkah kecilnya jelas tidak seberapa dibandingkan Hendri.


Hendri menoleh kearah Zen. Dengan cepat ia kembali lari menuju kearah Zen dan langsung menggendongnya agar tidak kelamaan.


"Sayang kenapa?" Tanya Hendri sambil menurunkan Zen. Wajahnya bahkan sudah berubah sangat panik.


"Aku kesandung mas. Sakit." Ucap Reina sambil mengusap lututnya.


"Kok bisa kesandung sih. Memang kamu mau kemana?"


"Aku panggil Mas sama Zen, tapi kalian nggak denger. Kaki aku sepertinya lecet deh Mas, ini sakit banget." Reina memanfaatkan nasib apesnya yang sebenarnya nggak sakit banget. Reina bahkan dengan manjanya sudah merentangkan kedua tangannya agar Hendri segera menggendongnya.


Tentu Hendri sigap dan langsung menggendong Reina. "Zen besok lagi saja ya kita jalan-jalannya." Ucap Hendri yang langsung melangkah masuk ke rumah.


Zen hanya bisa melongo melihat Reina yang di gendong Hendri. "Perasaan dulu kak Re pernah kepleset di tangga tapi masih bisa jalan. Kenapa hanya kesandung saja minta gendong." Gumam Zen sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2