
Nissa yang baru saja menghampiri Zen ke halaman belakang, tentu langsung melangkah cepat kembali ke kamar saat diberitahu salah satu ART nya bahwa Yusuf sudah pulang.
"Ayy..." Panggil Nissa setelah masuk kedalam kamar. "Tumben jam segini sudah pulang," gumamnya sambil melangkah menuju walk in closed. "Ayy..." Seketika Nissa tahan nafas saat melihat suaminya sudah melepas seluruh pakaiannya. Hanya menyisakan celana bokser yang melekat pada tubuh atletisnya. Tubuh yang sudah menuju angka 50 tahunan. "Kok perasaan ku jadi nggak enak begini ya?" batin Nissa sambil menelan ludahnya secara kasar.
"Hahahaha..."
Kini Nissa jadi bingung karen tiba-tiba suaminya tertawa kuat seolah sedang menonton acara komedi. Nissa langsung mendekati sang suami. Tangannya terulur menyentuh kening Yusuf menggunakan punggung tangannya.
"Aku nggak sakit sayang." Ucap Yusuf sambil menggenggam tangan Nissa yang menyentuh keningnya.
"Terus Ayy kenapa tiba-tiba ketawa sendiri. Mencurigakan." Ucap Nissa ingin tahu.
Yusuf duduk di kursi, di depan meja rias, lalu ia menarik tangan Nissa agar duduk di pangkuannya.
"Sayang tahu nggak. Tadi waktu di kantor..." Yusuf langsung menceritakan semua kejadian tanpa sensor. Memang begitulah kebiasaan Yusuf. Ia selalu berbagi cerita apapun pada Nissa. Tidak ingin menutupi apa yang sedang terjadi.
"Hahaha..." kini giliran Nissa yang tertawa sampai terpingkal-pingkal. Ia sampai menekan perutnya karena merasa kram. Membayangkan wajah Reina dan Hendri yang terpergok pasti sangat sulit di definisikan.
"Untung kita nggak pernah kepergok seperti itu ya sayang. Aku nggak bisa bayangin gimana aku jadi Hendri. Lecek banget mukanya." Tutur Yusuf sambil mengusap wajah Nissa.
"Apanya nggak pernah kepergok, kita berapa kali aja kepergok bapak sama ibu, sama Bunda juga. Ayy suka nyosorin aku nggak tahu tempat." Fakta Nissa yang ia kuak.
"Tapi kan gak sampai sejauh itu kita ke pergoknya sayang."
"Gimana mau kepergok sejauh itu, orang Ayy pro masalah seperti itu. Dimana udah bawa aku, pasti ruangan itu Ayy kunci." Ucap Nissa mengungkapkan kembali kepiawaian tindakan Yusuf.
"Itu memang keahlian ku. Oh iya Zen dimana?" tanya Yusuf. Tanpa di sadari Nissa kancing bajunya sudah di buka satu persatu. Akibat terlalu fokus dengan perbincangannya bersama sang suami, bahkan Nissa tidak sadar saat tubuhnya mengikuti instruksi dari perlakuan Yusuf, melepas pakaian atasnya, dan menyisakan pakaian yang tinggal di lepas pengaitnya.
"Zen masih dihalaman belakang, lagi ngasih makan kelinci tadi sama Bi Darmi. Aku tadi mau temani Zen, Eh kata Mak Saroh Ayy pulang."
"Mau kemana?" Yusuf menahan Nissa saat akan turun dari pangkuannya.
"Mau lihat Zen Ayy. Lepas ih." Nissa mencoba menyingkirkan tangan Yusuf yang membelit tubuhnya.
"Mau keluar seperti ini?" tangan Yusuf membelai tubuh Nissa dari pundak sampai ke perut. Tentu hal itu membuat Nissa menunduk dan melihat pergerakan tangan Yusuf.
"Ayy mesuuummm..." Teriak Nissa saat sadar tubuh bagian atasnya hampir telanjang.
"Kita harus mandi sayang."
"Aku sudah mandi Ayy, nih rambut aku saja masih lembab. Belum kering." Nissa memperlihatkan rambut panjangnya yang ia genggam agar Yusuf melihat dengan jelas. Sengaja memang Nissa tadi tidak mengeringkan rambutnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, tolong mandiin aku ya."
"Dasar Om Om mesuuummm..." Pekik Nissa kuat. Tapi ia tidak memberontak saat tubuhnya digendong Yusuf. Tentu saja tujuan Yusuf adalah kamar mandi.
.
.
.
Zen keluar dari kamar Ayah dan Nda nya dengan kaki yang di hentak-hentakkan karena merasa kesal. Bibirnya sudah manyun dengan kedua tangan melipat didepan dada.
"Loh kenapa toh Mas Zen? tanya Mbok Pani saat Zen masuk ke dalam ruang keluarga.
Zen membanting tubuhnya di sofa. "Zen cari Nda, nggak ada Mbok."
"Loh bukannya Ibu sama Bapak di kamar. Mas Zen sudah cek kesana belum?"
"Jadi Ayah sudah pulang Mbok?" tanya Zen antusias.
Mbok Pani mengangguk. "Ibu tadi balik ke kamar lagi karena Bapak pulang, Mas."
"Tapi Zen baru lihat ke kamar, Ayah sama Nda nggak ada Mbok."
.
.
.
Nissa keluar lebih dulu dari kamar mandi. Ia jalan perlahan sambil memijit pinggangnya. Tubuhnya ditutupi jubah mandi, sedangkan kepalanya terdapat handuk yang menggelung rambut panjangnya.
"Dasar Om Yusuf. Bisa-bisanya semakin tua semakin kuat saja tenaganya." Gerutu Nissa.
Nissa membuka kunci pintu walk in closed karena ingin merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
"Ndaaa..." Teriak Zen. Ia langsung lompat dari atas ranjang dan langsung lari memeluk Nissa.
"Adek dari tadi disini?"
"Barusan. Nda lama sekali mandinya. Zen capek tungguin Nda dari tadi." Oceh Zen mengungkapkan kekesalannya.
__ADS_1
"Maaf ya sayang." Nissa langsung menggendong Zen yang masih betah memeluk kakinya.
"Loh ayah juga mandi?" tanya Zen saat melihat Yusuf mendekat. Sedangkan tubuhnya yang masih nampak kekar itu hanya berbalut handuk yang melilit pinggangnya.
Nissa tentu saja langsung balik badan menatap sang suami. Ia menatap Yusuf mengisyaratkan untuk tidak mengatakan yang aneh-aneh pada anak mereka. Bisa panjang urusannya kalau sudah menanggapi ucapan Zen.
"Iya dong sayang. Ayah kan baru pulang kerja, jadi harus mandi biar seger." Yusuf mengambil alih Zen dari gendongan Nissa. Sedangkan Nissa masih memberikan tatapan tajam pada sang suami.
"Jadi Ayah dan Nda tadi mandi barengan?" Zen menatap Yusuf dan Nissa bergantian.
Nissa semakin mendelik menatap sang suami. "Iya." Jawab Yusuf jujur. Percuma saja mau membohongi anaknya, karena itu hanya akan sia-sia.
"Ayah sama Nda mandi bareng kenapa nggak ajak Zen." Pekik Zen kesal. "Zen juga mau mandi bareng-bareng. Pasti seru kalau ramai."
"Nggak seru Zen kalau kamu ikutan." Celetuk Yusuf frontal. "Aw..." Pekik Yusuf karna mendapatkan cubitan di perutnya dari Nissa. "Batal sayang."
"Wudhu lagi kalau batal Ayah." Nissa melangkah tertatih menuju ranjang.
"Nda kenapa jalannya seperti itu? Nda sakit?" tanya Zen yang memperhatikan dengan seksama cara jalan Nissa yang nampak berbeda.
"Iya dek."
"Kenapa Nda bisa sakit Ayah?"
"Itu karena Nda ikut mandi bareng sama Ayah, coba tadi Nda mandinya nggak ngikutin Ayah. Pasti nggak akan sakit."
Tentu saja Nissa langsung menatap Yusuf. Bisa-bisanya suaminya itu memutarbalikkan fakta yang sebenarnya.
"Berarti kalau Zen ikut mandi sama Ayah dan Nda, nanti bikin Nda semakin sakit dong Ayah."
Mendengar ucapan polos Zen tentu membuat Nissa terkekeh pelan.
"Betul sekali anak ganteng." Yusuf mencolek hidung Zen. "Makanya Zen nggak boleh mandi bareng Ayah ataupun bareng Nda. Biar nggak ada yang sakit."
Zen mengangguk. "Kalau begitu Ayah sama Nda nggak boleh mandi bareng lagi, biar Nda nggak sakit."
"Tentu sayang."
"Kupret Ayy." Ejek Nissa pelan.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ