
"Masuk Zen." Ucap Hendri saat melihat Zen ingin menutup pintu kembali.
"Maafin Zen kak Re, mas Hen." Ucap Zen sambil mendekat. "Zen kira, mas Hen belum pulang jadi Zen tidak ketuk pintu." Jelas Zen yang jelas merasa tindakannya salah. Namun isi kepala Zen di penuhi dengan Reina yang barusan saja terjatuh.
Reina dengan cepat mengusap bibirnya menggunakan punggung tangannya, yang jelas masih ada jejak pertukaran cairan tadi.
"Nggak apa-apa dek, kenapa?" Reina mendekati Zen.
"Punggung kakak sakit ya. Pasti tadi gara-gara Zen mau kagetin kakak jadi buat kakak jatuh. Maaf ya kak."
"Oh jadi Zen kesini karena sengaja mau kagetin kakak ya?" todong Reina membuat Zen cengengesan. "Usil banget sih adek kakak ini." Ucap Reina sambil menarik pipi Zen.
"Aku menang tidak salah, jatuh cinta dengan mu Re." Batin Hendri menatap lekat interaksi Reina dan Zen.
"Zen minta maaf ya kak."
"Iya. Tapi asal Zen tahu, tadi kakak jatuh bukan karena Zen. Kakak tadi lagi melakukan uji coba ke mas Hen, tapi mas Hen nggak mau."
"Lah kenapa jadi aku." Batin Hendri.
Zen menatap Hendri lekat dengan mata jelinya. "Mas Hen kalau masuk angin harus nurut mas di kerokin sama kak Re."
"Hah. Kenapa di kerok?" tanya Hendri nggak paham.
Reina sendiri juga ikutan bingung dengan ucapan adiknya.
"Itu badan mas Hen merah-merah pasti lagi di kerokin sama kak Re." Tunjuk Zen pada tubuh Hendri yang tanpa menggunakan kaos.
Seketika Hendri menunduk melihat bagian tubuhnya. Bersamaan dengan Reina yang langsung melihat arah tunjuk tangan Zen
__ADS_1
Baik Hendri maupun Reina dibuat terkejut dengan dengan kedua mata yang melebar sempurna. Saat melihat jejak perci*ntaan mereka semalam yang berhasil di ukir Reina.
"Aaa... mata adikku ternoda." Teriak Reina sambil menutup kedua mata Zen.
Sedangkan Hendri dengan cepat menuju lemari untuk mengambil kaos agar cepat menutupi tubuh atasnya yang terekspos jelas.
"Kenapa mas Hen pakai baju? Memangnya sudah selesai si kerokin kak Re?"
"Sudah Zen." Jawab Hendri.
"Kok cepat kak Re kerokin mas Hendri?" tanya Zen bingung karena merasa mereka baru pulang.
"Cepat dari mananya, kak Re harus khursus satu bulan baru bisa ngukir begituan Zen." Batin Reina.
"Karena kak Re tinggal nyelesaiin kerokannya Zen, makanya cepat." Alibi Hendri agar jawaban dari interogasi Zen tepat.
"Ini kerokan yang tidak patut di tonton Zen." Batin Hendri gemas dengan adik iparnya yang sungguh super.
"Memangnya adek belum pernah lihat orang kerokan?"
"Sudah kak. Zen pernah lihat nda kerokin ayah. Habis dikerokin ayah langsung muntah-muntah." Jelas Zen bercerita.
"Hoek.. hoek..."
Tubuh yang sejak tadi berdiri tegap, kekar, segar bugar, dan nampak gagak berani itu, seketika akting mual dan muntah.
"Hoek... hoek..."
Untuk memuluskan aksinya. Hendri menutup mulut dengan telapak tangan dan dengan cepat ia lari menuju kamar mandi.
__ADS_1
Sumpah demi apapun, Reina ingin sekali terbahak tapi ia harus menahan diri. Karena kini ia juga harus menjadi artis profesional.
"Pasti mas Hen mau muntah dek."
"Cepat kakak ikutin mas Hen kak, seperti nda waktu itu. Nda pijitin leher belakang ayah."
"Ya sudah, Zen cepat kebawah sama nda saja ya. Kak Re ngurusin mas Hendri dulu."
"Iya kak."
Reina langsung mengunci pintu setelah Zen keluar dari kamarnya.
Reina langsung menuju kamar mandi untuk menyusul Hendri.
"Hahahaha..." Hendri dan Reina tertawa bersama di dalam kamar mandi sampai perut keduanya kram kesemutan.
Sebenarnya mereka di buat tidak menyangka dengan Zen yang masih kecil, namun sangat jeli dengan hal apapun. Tapi hal itu justru membuat mereka harus pintar bersandiwara.
"Zen memang tidak terduga kan mas?" tanya Reina setelah tawa mereka mereda.
"Kamu benar sayang. Lain kali kalau kita sudah si dalam kamar, jangan lupa langsung kunci pintu." Ucap Hendri. Tangannya sambil mengunci pintu kamar mandi.
Reina langsung menatap Hendri saat menyadari hal itu. "Mas mau apa?"
"Melanjutkan yang tadi." Bisik Hendri setelah menarik tubuh Reina, agar mereka tak berjarak.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1