
"Memangnya adek minta apa sama ayah?" Reina menatap serius Adiknya.
"Gula kapas kak." Jawab Zen mantap.
"Apaaa..." Nissa sampai tercengang mendengar jawaban Zen. Ia mengusap air matanya yang sudah berderai. Sungguh tidak menyangka, hanya perkara gula kapas membuat Zen menangis seperti orang kesakitan.
Sedangkan Reina kini cekikikan mendengar permintaan receh adiknya pada sang ayah. "Adek tuh ya, sumpah deh lebai nggak ketulungan. Kakak kira tadi adek minta beliin barang mahal, nggak tahunya cuma gula kapas."
"Zen, Nda sama Ayah kan sudah bilang, kalua Zen sudah nggak boleh lagi makan gula kapas."
Namanya juga seorang ibu, jadi wajar saja jika Nissa overprotektif terhadap anaknya. Apa lagi Zen sampai masuk rumah sakit.
Zen buang muka. Menunjukkan kemarahannya pada Ndanya. Kedua tangannya bahkan sendekap didepan dada. Mulutnya di manyun-manyunin agar marahnya jelas terlihat.
"Nda sama Ayah sama saja. Sama-sama tukang ingkar janji."
"Ehhh... Nda nggak pernah janji apa-apa sama Adek ya." Bela diri Nissa.
"Tapi tetap saja Nda nggak bolehin Zen makan gula kapas lagi. Itu jajan kesukaan Zen Nda. Itu artinya Nda sama Ayah sama saja." Zen sedang meluapkan kekesalannya.
"Makan sebungkus gula kapas nggak akan bikin batuk kan Nda." Ucap Hendri.
Reina mengangguk setuju. "Mas Hen benar Nda. Toh dulu adek batuk karena makan lima bungkus gula kapas sekaligus."
Mendengar ucapan Reina, membuat Zen cengengesan. Karena ia hanya mengaku pada Reina, kala Kakaknya masih di luar negeri, saat ia masuk rumah sakit dulu.
Nissa menghembuskan nafas pasrah. Dua lawan satu tentu saja ia kalah. "Nda belikan satu ya. Tapi jangan bilang Ayah. Dan setelah ini Zen nggak boleh makan gula kapas lagi."
"Iya Nda." Ucap Zen kembali semangat dengan wajah cerahnya. Meskipun hanya satu, setidaknya ia bisa menikmati gula kapas kembali.
"Biar Rere sama mas Hen saja Nda yang cari gula kapasnya."
"Iya. Adek kita tiduran di kamar Nda ya."
"Zen mau di kamar Zen sendiri." Ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya agar Hendri segera menggendongnya.
.
.
__ADS_1
.
Reina dan Hendri bergegas keluar rumah untuk segera mencarikan gula kapas untuk adik mereka yang super drama. Reina bahkan dengan santainya mengikuti langkah Hendri sambil menikmati cilok pesanannya.
"Sayang dirumah saja. Biar aku cari sendiri gula kapasnya."
"Aku ingin ikut Mas."
Melihat wajah Reina yang memelas tentu membuat Hendri ingin menuruti saja apa maunya. Hendri mengusap pucuk kepala Reina.
"Kamu tuh ya Re, akhir-akhir ini suka manja banget. Tunggu disini ya, aku ambil mobil dulu." Ucapnya karena melihat mobilnya sudah tidak ada di halaman rumah.
Baru juga Hendri akan menuruni tangga, mobil yang ia kemudikan tadi berhenti tepat di depan rumah.
"Mau kemana kalian?" tanya Yusuf yang nampak bergegas keluar dari mobil sambil membawa tiga bungkus gula kapas dengan bentuk yang berbeda-beda.
"Loh Ayah sudah belikan Adek gula kapas?"
"Iya. Kalian mau beli ini?" Reina dan Hendri langsung mengangguk bersama. "Nah kalian kasihkan Zen. Bilang ke itu bocil, buat tiga hari kalau bisa setahun."
Yusuf langsung lari cepat setelah memberikan tiga bungkus gula kapas dengan ukuran yang lumayan besar.
"Taraaa..." Heboh Reina memberi kejutan gula kapas pada adiknya.
"Yeee... asikkk... Akhirnya Zen makan gula kapas lagi. Tiga lagi." Zen sampai kegirangan.
Wajah senang Zen tentu membuat semua orang bahagia. Apa lagi Nissa.
"Eits... tunggu dulu. Ini buat tiga hari ya."
"Kirain Zen dimakan semua sekarang juga."
"Kok enak."
Zen langsung membuka bungkusan gula kapas, setelah Reina memberikan padanya.
"Setelah ini, Zen harus gosok Gigi ya." Nissa mengusap kepala Zen.
"Iya Nda."
__ADS_1
"Oh iya, terimakasih kak Re, mas Hen sudah berbaik hati membelikan Zen jajan kesukaan."
"Itu Ayah yang beli dek."
"Ahhh... masaaakkk..." Zen nampak sangat tidak percaya.
Nissa pun tidak menyangka kalau ini benar Yusuf yang membelikan. Mengingat bagaimana overprotektifnya Yusuf terhadap Zen. Tapi kalau di ingat lagi, Reina dan Hendri kan baru akan keluar. Mana mungkin secepat kilat membeli gula kapas.
"Beneran Ayah yang beli dek."
"Zen, lain kali nggak boleh ya menyempar tangan Ayah seperti tadi." Nasihat Hendri. Ia tadi jelas melihat wajah Yusuf yang terkejut mendapatkan perlakuan seperti tadi.
"Suruh siapa Ayah ingkar janji."
"Adek juga tadi bicara sama Nda, suaranya ditinggikan. Nggak boleh seperti itu ya dek." Peringatan dari Reina.
"Coba kalau di balik tadi, Ayah yang nyempar tangan Zen. Pasti Zen sedih kan?" lanjut Hendri. Zen nampak diam. "Wajar Ayah sama Nda nggak bolehin Zen makan gula kapas kan?" Zen mengangguk tanpa mengeluarkan kata. Sadar diri kalau itu kesalahannya.
"Jangan di ulang lagi ya dek."
"Iya kak."
"Zen juga harus minta maaf sama Ayah dan Nda."
"Hua... Zen minta maaf Nda." Pecah lagi tangis Zen karena ia merasa salah.
Nissa langsung memeluk anaknya yang nampak kesulitan menghambur dalam dekapannya.
"Sudah-sudah. Nda juga minta maaf sama Zen, karena Nda nggak bolehin jajan apa yang Zen suka."
"Itu karena Nda sayang sekali sama Zen."
Mendengar ucapan Reina, semakin membuat tangis Zen keras.
"Sudah cup... cup... cup..." Nissa menepuk-nepuk punggung Zen agar tangisnya mereda. "Cepat makan gula kapasnya, nanti keburu dihabiskan angin loh."
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1