Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 131 MASIH BERLANJUT


__ADS_3

"Tunggu Mas." Reina mengehentikan aksi Hendri saat ingin menyatukan tubuh mereka secara utuh.


"Kenapa?" tanya Hendri. Kedua matanya sudah penuh dengan kabut hasrat.


"Kita nggak punya Kon*dom disini," peringatan Reina. Semenjak selesai nifas sampai sekarang, Reina memang belum pernah kedatangan tamu bulanan. Setelah melakukan konsultasi, itu termasuk KB alami. Namun mereka juga harus tetap waspada karena banyak kasus juga kebobolan menggunakan KB menyusui. Maka dari itu, demi mencegah hal yang tidak-tidak Hendri dan Reina memutuskan untuk menggunakan Kon*dom saat berhubungan.


"Nanti aku keluarkan di luar sana."


Tanpa menunggu tanggapan Reina. Hendri melanjutkan aksinya. Mereka berdua benar-benar dibuat lupa segalanya saat seperti ini. Hal yang mereka lakukan curi-curi waktu istirahat. Karena kalau sudah pulang, waktu mereka habiskan bersama Divya.


Ruangan berukuran kecil itu kini penuh dengan suara des*ahan mereka berdua. Menggema memenuhi gendang telinga mereka. Membuat keduanya semakin meraja lela dalam bergerak. Melupakan waktu bahwa jam kerja sudah mulai kembali.


Sampai akhirnya keduanya sudah sampai. Tubuh mereka rasanya lemas tak bertenaga. Keduanya bernafas tidak beraturan sama seperti detak jantung yang belum bekerja normal.


"Aaa ... Mas keluarin di dalam ya?" pekik Reina tiba-tiba saat kembali sadar masih ada yang bersarang di inti tubuhnya.


"Kelepasan sayang," ucap Hendri dengan polosnya. Ia cengengesan menatap Reina yang sedang kesal. "Biasanya pakai kon*dom, sekarang nggak pake rasanya enak banget."


Bukan hanya Hendri yang merasa begitu, Reina juga begitu terbuai dengan aktivitas mereka siang ini. Hendri kembali berulah dan membangkitkan rasa Reina agar mau di ajak terbang melayang sekali lagi.


"Aku takut jadi Mas."


"Bismillah enggak. Toh kamu kan belum bulanan."


.


.

__ADS_1


.


Sudah berapa kali Gita bolak balik mengetuk pintu ruang kerja Reina, tapi tetap saja tidak di buka kan pintu. Andai bisa masuk paksa ingin sekali Gita mendobrak pintu yang terkunci di depan mata.


"Bu Reina kemana sih?" gerutu Gita. Sudah berulang kali ia menghubungi nomor Reina namun hasilnya tetap saja nihil. "Astagfirullah Buuu ... kita ada meeting siang ini." Gerutu Gita sambil terus menghubungi Reina.


.


.


.


"Loh Ayy, kok sudah pulang?" tanya Nissa yang berpapasan dengan sang suami.


"Vy mana sayang?" Yusuf menghampiri sang istri lalu mendaratkan kecupan di kening Nissa.


"Apa istri ku ini cemburu dengan cucu sendiri?"


"Ayy jangan cium-cium ih. Ingat tempat kenapa, nggak enak kalau ada yang lihat."


"Biarin aja, nggak akan ada yang komplen juga." Ucap Yusuf yang masih terus menciumi wajah Nissa.


"Katanya tadi cariin Vy." Senjata tepat agar Yusuf mengakhiri aksinya.


"Oh iya. Di mana Vy, sayang?"


"Ada di kamar, tidur sama Zen."

__ADS_1


.


.


.


Setelah membersihkan diri, Hendri dan Reina segera menggunakan pakaian mereka kembali. Keduanya dibuat terkejut saat melihat jam yang sudah melewati jam istirahat kerja.


"Aduh Mas, aku lupa ada meeting siang ini." Reina semakin buru-buru mengancing baju kerjanya.


"Maaf ya sayang ..."


"Nggak ada yang perlu minta maaf atau memaafkan, kan memang kita berdua yang kebablasan."


Baru juga Reina dan Hendri akan membuka pintu, di luar sana sudah ada yang mengetuk pintu ruang kerja Reina.


"Ibu Reina dari tadi kemana saja sih Bu ...?" Gita yang memang akan melakukan komplain pada Reina, seketika menghentikan ucapannya yang mengapung di udara saat melihat sosok Hendri di belakang Reina.


"Meeting sudah mulai apa belum Mbak?"


"Sayang aku kembali ke ruangan ku ya." Reina hanya mengangguk saja.


Gita menatap Hendri sejenak lalu menatap Reina lekat. "Astagfirullah, dari tadi aku bingung hubungi Bu Reina, ternyata mereka ..." Batin Gita saat melihat rambut Reina yang masih tergerai dan nampak lembab.


Bersambung ...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2