
Nissa terus berjalan mengikuti arah langkah Zen yang semakin menjauh. Ia mengabaikan panggilan Yusuf yang masih terus menggodanya.
"Zen ngobrol sama siapa itu?" gumam Nissa sambil melangkah cepat. Belum sampai Nissa menghampiri Zen, ia melihat anaknya meninggalkan perempuan berjilbab sambil menggendong balita.
"Zantisya ..."
"Eh ... Mbak Nissa."
"Apa kabar?" tanya Nissa sambil mengajak salaman dan cipika cipiki.
"Alhamdulillah sehat. Mbak apa kabar?" tanya Zantisya. Ia juga menyapa ramah pada Yusuf yang Sudan mendekat.
"Alhamdulillah baik. Itu tadi yang di gendong Zen anak kamu waktu hamil itu kan?"
"Iya, benar mbak."
"Ayo sayang kita kesana," ajak Yusuf yang sudah fokus melihat anaknya bermain dengan dua anak balita dan seorang lelaki dewasa yang sudah pasti itu adalah Arjuno.
"Ya Allah. Tisya anak kamu manis-manis sekali." Puji Nissa.
"Pak Yusuf." Sapa Arjuno sopan. Mereka langsung bersalaman. Saling berbincang dan bertukar kabar.
"Kami pinjam anak-anak kami dulu ya Tisya."
__ADS_1
"Kalau begitu, kami tunggu disana ya Mbak." Ucap Zantisya. Ia dan sang suami langsung meninggalkan kedua anaknya bersama keluarga Yusuf.
Yusuf dan Nissa terus saja bermain dengan anak kembar itu. Mendekatkan diri pada air pantai yang menepi dan juga bermain pasir pantai. Tak lupa juga mereka banyak mengabadikan momen mereka hari ini.
Begitu banyak foto yang di ambil di ponsel Yusuf dan Nissa. Zen yang memang sudah memiliki ponsel sendiri juga banyak mengabadikan momen bersama si kembar.
"Tante minta minum dong." Pinta Zen setelah menghampiri orang tua si kembar yang menjadi penonton keseruan mereka. Zen langsung duduk begitu saja dan langsung menenggak air minum hingga hampir tandas. "Om ayo kita lari om." Tantang Zen tiba-tiba.
"Pasti kamu mau yang aneh-aneh kan." Tebak Ayah si kembar yang sudah over thinking terhadap Zen.
"Astagfirullah om." Zen mengelus dada dengan dramatis. "Nggak baik om negative thinking sama anak seganteng Zen. Tapi kalau boleh itu Adik perempuannya buat Zen ya om. Lumayan bisa buat temen Zen main dirumah."
"Anak Om, bukan boneka yang asal di minta Zen."
"Kak Rere itu siapa?"
"Kakaknya Zen lah Om. Anak kak Re ada tiga. Yang terakhir seumuran sama si kembar."
"Kalau begitu, kenapa Zen nggak minta saja adek sama Ayah dan bundanya Zen." Usul Arjuno yang menurutnya paling cemerlang.
"Kan sudah ada tiga adik Zen, Om."
"Itu mah adik keponakan. Maksud Om itu, adik yang dilahirkan Bundanya Zen."
__ADS_1
"Ooohhh ... Ayah dan Nda nggak mau kalau Zen punya Adek."
"Kenapa?" Tanya Arjuno penasaran.
"Karena ayah sudah tua om."
"Hah." Arjuno dan Zantisya terkejut bersamaan.
Zen duduk berbalik menghadap kearah ayah dan nda nya yang asik bermain dengan Safir dan Ruby. Ia duduk di depan tepat di antara Arjuno dan Zantisya.
"Padahal ya om. Ayah Zen itu kan belum tua. Tuh masih cocok bawa bayi begitu."
"Zen minta adiknya harus pakai cara maksa," usul Zantisya mengompori.
"Zen nggak mau Tante. Kata Nda adik Zen sudah tiga, itu sudah banyak."
"Mau kemana kamu bocah?" Tanya Arjuno saat Zen beranjak.
"Mau bawa kabur Ruby om. Zen mau bawa Ruby ke Jakarta." Jawab Zen yang langsung lari begitu saja.
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1