Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 119 CEMBURU


__ADS_3

"Hai janda."


Reina spontan melihat seseorang yang kini sudah duduk di depannya dan memanggilnya dengan sebutan janda. Suara yang begitu familiar menurut Reina.


"Janda-janda, jangan sembarang ya." Sungut Reina kesal. Namun, ada rasa lega karena kembali bertemu dengan seseorang yang terkekeh melihat wajah kesal Reina. "Nggak lihat perut segede ini." Reina berdiri sambil memberitahukan perutnya yang buncit.


Lelaki yang umurnya setara dengan Reina itu semakin tertawa melihat tingkah Reina yang beda dari perempuan yang lain. "Mantap juga Mas Hendri mupuknya, langsung jadi." Dengan baik hatinya, lelaki itu mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Bibit berkualitas ini." Ucap Reina sambil menepuk pelan perutnya. Tentu saja lelaki di depan Reina itu semakin cekikikan.


Reina dan Faris saling tos lalu saling menggenggamkan telapak tangan mereka tanda persahabatan yang sudah terjalin sejak mereka kuliah di luar negeri.


"Kamu kapan pulang? Kok nggak kasih kabar aku. Tapi semenjak aku menikah juga kamu mulai jarang chat aku deh."


"Aku sibuk. Kangen ya nggak ada yang ngerecokin aplikasi hijau kamu?" ucap Faris sambil memainkan kedua alisnya.


"Halah, kesibukan kamu itu cuma main-main sama cewek. Awas kena karma kapok."


"Kamu ya Re, tetep aja bon cabe level 50 kalau ngomong. Ini Zen itu kan?"


Reina mengangguk. "Adek salam dulu sama Om Faris."


"Mas Faris, Zen." ucapnya sambil mengulurkan tangan. Tentu saja Zen langsung menjabat tangan Faris.


"Jangan panggil Mas, dek. Panggil Om. Kebagusan banget modelan kamu di panggil Mas."


"Zen, Om."


"Emang ya, kamu tuh Re, racun. Masih muda ganteng gini masak di panggil Om."


"Nggak ingat umur ya kamu, pacaran saja sama tante-tante. Artinya kamu itu memang sudah Om Om." Cibir Reina sesuai dengan apa yang ia tahu.


Mereka kembali duduk agar lebih nyaman untuk saling berbincang.


"Tapi sekarang aku sudah nggak main sama tante-tante lagi."


"Apa sekarang kamu sudah menemukan pawang yang bisa membuat mu tobat?"


"Aku ditinggal nikah Re, sama perempuan yang sangat aku suka." Ucapnya pelan.


"Siapa perempuan pintar yang sudah mengabaikan mu?"


"Nggak ada prihatin-prihatinnya ya kamu Re sama teman sendiri." Kesal Faris.


"Sorry. Tapi serius kamu ditinggal nikah?" Reina jadi penasaran sekarang. Faris tentu saja langsung mengangguk. "Ya Allah, kasian banget sih Ris kamu," ucap Reina prihatin. "Memangnya perempuan seperti apa sih Ris yang bisa bikin kamu pindah haluan dari tante-tante?"

__ADS_1


Faris menatap Reina sejenak. "Seperti perempuan hamil yang ada di depan aku.


Seketika Reina tercengang mendengar sebaris kalimat yang baru saja di ucapkan Faris.


"Hahaha ..." Faris tertawa puas saat melihat wajah Reina yang tercengang dan semakin nampak menggemaskan. "Aku ini penyuka tante-tante Re, serius amat itu muka."


"Huft ... bagus lah kalau kamu cuma bercanda."


"Lega banget kayaknya."


"Ya iyalah lega, kalau kamu beneran suka sama aku, kamu bakal jadi sad boy dunia akhirat."


Faris terkekeh lagi mendengar ucapan perempuan yang tidak peka terhadap perasaan lelaki yang tertarik dengannya. "Segitunya banget Re."


"Ya iyalah. Spek model aku itu ya cuma aku saja. Nggak ada yang lain meski kamu mau cari duplikat aku." Mereka berdua cekikikan. Sedangkan Zen acuh saja karena sedang menikmati es krim dan cemilan yang ada. "Oh iya, kamu sama siapa kesini?"


.


.


.


Setelah semua urusan selesai dengan kliennya. Hendri segera mengambil ponselnya, karena sejak tadi terasa bergetar terus menerus.


"Dengan siapa dia." Hendri berhenti melangkah sejenak saat melihat, Reina dan Zen duduk bersama seorang lelaki.


Lelaki yang hanya terlihat punggungnya saja. Belum lagi istrinya itu nampak tertawa lepas dengan seseorang yang membuat hati Hendri penasaran serta berkabut rasa kesal dan cemburu.


Hendri langsung melangkah lebar, saat ia melihat lelaki itu membungkuk ke arah Reina, seperti ingin menyentuh istrinya.


"Nggak bisa di biarin ini," dengan cepat Hendri melangkah lebar dimana istrinya berada.


"Sayang."


Baik Reina, Faris, dan Zen terjangkit kaget karena suara Hendri seperti orang yang sedang membentak. Belum lagi tatapan orang-orang disana yang kini tertuju kearah mereka.


"Eh mas, sudah selesai urusannya?"


Hendri menatap Reina dan Faris bergantian. Ia sedikit bernafas lega karena lelaki yang bersama Reina adalah Faris, Anak dari kolega Yusuf. Namun, tidak dapat di pungkiri kalau Hendri juga sangat waspada.


"Sudah sayang. Sudah lama pulang dari luar negeri?" tanya Hendri pada Faris.


"Sudah Mas. Oh iya selamat atas pernikahan Mas dengan Rere." Ucap Faris. Mereka berdua bersalaman.


"Terimakasih."

__ADS_1


"Loh Ris, Kamu disini?" tanya Nissa yang baru kembali dari toilet.


Antara keluarga Yusuf dan orang tua Faris memang terjalin cukup dekat. Maka tidak heran kalau merek semua saling mengenal.


"Iya Tante."


"Tante-tante." Sungut Nissa kesal. Kan mereka seumuran. Jelas nggak mau Nissa dipanggil tante.


"Heh, di tabok ayah ku nanti kamu berani goda Nda aku."


Bukan hanya Yusuf saja yang posesif terhadap Nissa, tapi Reina juga tidak kalah posesifnya.


.


.


.


Setelah mengantar Nissa dan Zen, kini Hendri kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, untuk segera pulang kerumahnya. Reina merasa bingung kenapa suaminya ini sejak tadi lebih banyak diam.


"Mas kenapa sih, kok manyun begini?" tanya Reina saat mobil berhenti tepat lampu lalulintas berwarna merah.


"Aku ngantuk sayang." Hendri menggenggam tangan Reina agar berhenti menyentuh wajahnya.


mobil sudah berhenti di halaman rumah. Mereka segera keluar dari sana. Reina merasa bingung karena Hendri masih tidak banyak bicara. Hendri hanya bertindak menggandeng Reina sampai di dalam kamar.


"Mas kenapa?" tanya Reina karena semakin merasa janggal.


"Aku nggak apa-apa, aku butuh istirahat."


"Mau mandi bareng?" Reina mencoba menawarkan diri. Mungkin saja kalau suaminya di kasih jatah ples ples bisa kembali ceria.


Hendri tersenyum samar. "Aku mandi sendiri saja."


Reina tercengang melihat punggung Hendri yang hilang di balik pintu kamar mandi. "Memalukan sekali. Bisa-bisanya aku di tolak mentah-mentah seperti ini. Jangan-jangan Papa mu lagi PMS nak," ucap Reina sambil mengusap perutnya yang mendapat tendangan dari bayi yang aman di dalam kantong rahimnya.


Entah berapa kali Reina berganti posisi tidur, tapi tidak menemukan posisi yang nyaman. Reina menatap kesal pada sang suami yang sudah nampak lelap di buai mimpi.


"Mas tega banget, tidur duluan tanpa peluk aku lebih dulu. Sudah tahu setiap ada Mas, aku nggak bisa tidur kalau mas nggak peluk aku dulu."


Reina memilih keluar dari kamar, akan sia-sia walau Reina memaksa memejamkan kedua matanya.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2