
Hendri langsung merapihkan kembali alat solat yang baru selesai mereka gunakan. Sedangkan Reina, ia bergegas melepas alat sholatnya tanpa merapihkan kembali.
"Aku ganti jadi hangat ya sayang."
"Jangan Mas, kurangi saja suhunya. Terus sini, aku mau peluk."
Hendri langsung mengambil remote AC untuk menurunkan suhu ruangan agar tidak terlalu dingin sesuai permintaan sang istri.
Reina langsung memeluk Hendri kuat saat suaminya itu sudah naik keatas ranjang, ikut menyembunyikan tubuhnya dibawah selimut tebal.
"Mau tidur lagi?" Hendri mendaratkan kecupan di puncak kepala Reina, sedangkan tangannya mengusap punggung Reina agar kembali tidur.
"Aku nggak ngantuk Mas." Tangan Reina menyuap kedalam kaos yang digunakan Hendri.
"Hem... Kalau begitu biarkan aku tidur sebentar." Hendri mulai memejamkan mata karena masih ingin tidur lagi. "Sayang." Seketika kedua kelopak mata Hendri terbuka lebar karena tangan Reina dengan nakalnya sudah meremas benda berharga Hendri yang sudah lama tidak bersarang dalam singgasananya. Tentu saja perbuatan Reina tersebut menimbulkan gejolak yang luar biasa.
"Ayo kita jalan-jalan di taman hotel mas. Inget kemarin kata dokter, aku harus jalan pagi buat olahraga tipis-tipis."
"Olahraga ya?" Reina mengangguk. "Hemmm... Bagiamana kalau kita olahraga yang bikin kecanduan, asik, dan pastinya akan banyak menghasilkan keringat."
"Memangnya ada olahraga seperti itu?" Reina dengan wajah polosnya tidak nyambung dengan perkataan Hendri.
"Ada dong. Sayang mau tahu?" Reina langsung mengangguk dengan wajah penasaran.
"Mas." Reina sedikit terkejut saat Hendri berpindah keatas tubuhnya, tapi selanjutnya Reina tentu paham dengan maksud olah raga yang di katakan Hendri. Bibit Pak Yusuf seperti memang selalu pro. (Lalu bagaimana Zen nanti🤭)
"Kamu harus tanggung jawab sayang." Hendri menggerakkan tubuhnya pelan, agar bur*ung dan sangkarnya saking menyapa walau masih terhalang benang.
"Ah ini pertanggung jawaban yang sangat aku inginkan dari semalam." Ucap Reina sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher Hendri.
"Ya Allah, istri ku ini kenapa pro sekali dalam hal seperti ini." Hendri selalu dibuat terkejut dengan respon yang di berikan Reina.
Reina terkekeh pelan. "Apa mas mau aku bersikap polos?"
"Aku sempat berpikir demikian tapi tingkah istri ku yang agresif seperti ini, ternyata lebih menguji adrenalin."
"Mungkin kalau Mas nikahi aku saat usia ku 20 tahun, aku pasti masih polos sesuai perkiraan Mas."
__ADS_1
"Aku jadi menyesal tidak menikahi mu sejak dulu."
Berakhir sudah obrolan panjang mereka berdua karena Reina tidak diberi kesempatan oleh Hendri untuk menanggapi ucapannya tadi.
Reina semakin mencengkram kepala Hendri agar aktivitas panas bibir mereka semakin dalam untuk terus membelit dan saling menyesap.
Tidak ingin berat tubuhnya menekan perut Reina. Hendri menjatuhkan tubuhnya kesamping.
"Buka baju Mas," pinta Reina setelah mendorong tubuh Hendri.
Hendri membantu Reina untuk duduk, lalu melepas daster pendek yang di gunakan Reina. Seketika tubuh Reina polos hanya menggunakan pakaian kecil segitiga yang menempel di pinggulnya.
Hendri langsung memangku Reina setelah melepas pakaiannya sendiri. Tubuh Reina terasa panas dingin seketika, karena sudah lama ia tidak di jamah sejauh ini oleh sang suami, semenjak keluar dari rumah sakit saat itu. Mereka hanya melakukan sentuhan-sentuhan sederhana untuk memuaskan apa yang tidak bisa mereka luapkan.
"Aku sangat merindukan momen ini." Hendri membelai seluruh tubuh Reina, menyentuh sensual pada bagian sensitif yang membuat Reina merasa geli.
"Begitu sulit menahan diri, apa lagi saat kita berada di kamar begini Mas." Rengek Reina.
Tidak ingin terus mengobrol, akhirnya keduanya fokus saling menyentuh dan menikmati pagi ini.
Kedua tangan Reina menjadi tiang, menahan beban tubuhnya. Wajahnya naik keatas menatap langit-langit kamar hotel mereka. Memberikan akses bibir Hendri yang kini akan mengukir jejak tanda aktivitas mereka.
Tubuh Reina semakin terasa lembab karena keringat yang mulai mengucur akibat perbuatan mulut dan tangan Hendri secara bersamaan. Des*ah nafasnya semakin kuat dan memburu tubuhnya semakin ingin menggeliat bebas, kedua tangannya sudah terasa lemas tidak kuat menopang beban tubuhnya.
"M-mas ta-tang-an aku lemes Mas." Ucap Reina terbata.
"Peluk aku sayang."
Reina memeluk Hendri kuat. setelah mulut Hendri mengakhiri aktivitasnya dan meninggalkan gigitan kecil disana.
Reina memeluk tubuh Hendri kuat hingga terasa tanpa jarak. Kedua tangannya melilit leher Hendri erat. Namun hal itu tidak membuat aktivitas tangan Hendri berakhir.
Reina semakin kuat memeluk Hendri saat Hendri mempercepat aktivitasnya. Suara des*ah nafas Reina semakin kuat dan sesekali tertahan saat Reina menggigit pundak Hendri yang tidak dirasa sang suami.
Hingga akhirnya tangan Hendri berhenti bergerak disaat ia merasakan adanya lelehan yang menggenang di tangannya.
Tubuh Reina rasanya sudah lemas tak berdaya saat menikmati bagaimana rasa lega kini mendera tubuhnya.
__ADS_1
Hendri mengusap tangannya pada seprai lalu merenggangkan tubuh mereka yang rapat agar bisa saling memandang.
"Bagaimana?" Hendri mengusap wajah Reina yang penuh dengan peluh.
Reina tersenyum dengan tatapan yang sendu. Nafasnya belum kembali teratur. "Rasanya begitu mendebarkan. Terasa lega setelah sekian lama."
Hendri mengecup bibir Reina sejenak. "Nikmatilah dan kumpulkan kembali seluruh tenaga mu, Karena setelah itu giliran mu yang memu*askan ku."
Reina terkekeh, ia lalu mendorong tubuh Hendri agar berbaring. Setelah itu Reina duduk diatas tubuh Hendri. "Mas terlalu meremehkan ku."
Kini giliran Reina yang memberikan sentuhan terbaiknya. Membuat Hendri terus mende*sah menikmati setiap gerakan yang di berikan Reina diatas tubuhnya.
Sesekali Hendri menarik gemas kedua benda kenyal yang bergerak cepat mengikuti pergerakan tubuh Reina. Menatap bagaimana sek*sinya sang istri saat ini.
Ruang kamar hotel itu begitu ramai dengan suara mereka berdua. Hingga pada akhirnya keduanya menge*rang kuat saat sampai pada pelepasan yang begitu indah.
Hendri langsung memiringkan posisi tidurnya saat Reina terkulai lemas diatasnya. Detak jantung mereka masih bekerja sangat cepat dengan nafas yang masih memburu.
"Terimakasih sayang." Ucap Hendri sambil mengusap wajah Reina.
Reina tersenyum menatap Hendri. "Kembali kasih Mas." Reina mengecup bibir Hendri lalu menenggelamkan wajahnya dalam dekapan sang suami.
.
.
.
"Hati-hati sayang jalannya."
"Aku lapar sekali Mas. Lalu kita jalan seperti bekicot gini, kapan sampainya."
"Mas Artha."
Seketika langkah Hendri dan Reina terhenti saat melihat seseorang yang berpapasan dengan Meraka dan tiba-tiba memanggil Hendri.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️