
Sebenarnya Yusuf, Nissa, dan Zen harus terbang ke Jakarta sejak tadi pagi. Siapa yang sangka, penerbangan harus di tunda karena Reina menginginkan makanan yang di jual di salah satu mall yang ada di kota Malang.
Demi sang anak yang akan memberinya cucu. Agar cucunya nanti tidak encesan saat sudah lahir. Tentu saja, dengan suka cita Yusuf mengganti jadwal penerbangannya.
Ibu hamil itu bahkan sampai melakukan video call saat Adam dan Luna yang pergi ke Mall untuk membeli Aiciro, makanan keinginannya.
Beberapa menu Aiciro kini sudah terhidang di depan Reina. Ibu hamil satu ini dengan lahap menikmati satu persatu makanan yang sangat ia inginkan.
Di samping Reina ada Hendri yang nampak senang melihat istrinya makan sangat lahap. Dan di sebrang meja, ada Zen yang menatap Reina sambil menopang dagu.
"Adek nggak mau?" tawar Reina.
"Zen sudah makan banyak waktu di Malang kak."
"Mas nggak mau?" kini, giliran Hendri yang ditawari.
"Enggak."
"Nggak usah sok ngempet mas. ngiler kapok." Ejeknya sambil memasukkan camilan yang sedang ia nikmati kedalam mulut Hendri.
__ADS_1
"Tadi kan kamu tanyanya 'nggak mau' bener dong jawaban aku?" ucap Hendri nggak jelas sambil mengunyah.
"Ngeles terus mas ini." Ucap Reina sambil menyuapi Hendri lagi. "Cantik ya?" tanya Reina pada Zen sambil memainkan kedua alisnya menjadi naik turun. Sejujurnya ia sangat bingung kenapa adiknya itu menatapnya begitu lekat.
"Iya. Kok tumben sih Kakak cantik? Cantik banget." Puji Zen sambil mengacungkan dua jempol.
Hal langka jika Zen memuji Reina cantik. Karena saat Reina mengatakan dirinya cantik, pasti Zen akan mengatakan kalau Nissa lebih cantik. Nda adalah nomor pertama bagi Zen.
"Uhhh... jadi terharu sudah di bilang cantik. Langka loh ini. Padahal kakak kesini belum mandi, abis bangun tidur lagi."
"Jadi kakak belum mandi?" tanya Zen nggak santai sama sekali.
"Jadi dari tadi Zen dipeluk-peluk, diciumi kakak yang belum mandi?" Reina tentu mengangguk. Sedangkan Hendri malah terkekeh menonton perdebatan didepan mata. "Ihhh... Kakak cantik-cantik jorok."
"Heh cil. Mau kemana?" tanya Reina saat melihat Zen turun dari tempat duduknya.
"Mau mandi. Biar baunya Kak Re hilang dari tubuh Zen."
"Ohhh... dasar kecebong. Nggak mandi gini Kakak wangi loh dek." Ucapnya sambil mengendus bau badannya sendiri. Namun sayangnya, Zen tidak mendengar ucapan Reina. "Wangi kan mas?" Reina menyodorkan tubuhnya pada Hendri.
__ADS_1
Tentu saja Hendri langsung mengendus aroma Reina. Namun perbuatan Hendri justru membuat Reina terkejut. Karena Hendri bukannya mencium wanginya yang menempel pada pakaian, tapi Hendri mencium lehernya beberapa kali.
"Maaasss..." Teriak Reina karena malu.
"Nggak usah teriak-teriak. Aku kan ada di samping mu." Hendri tetap santai sambil melahap makanan didepan mereka.
"Cium juga harus lihat situasi dan kondisi saat ini dong mas. Tuh, ada yang lihat kita tadi." Ucap Reina kesal sambil menunjuk arah jalan ART yang kabur dari sana karena melihat adegan sweet secara langsung.
"Kamu tadi nyodorin diri buat cium aroma tubuh kamu, ya aku cium. Terus salah aku dimana?"
"Salah tempat mas, harusnya kan sini bukan disini." Ucap Reina sambil menunjuk bajunya lalu ke lehernya yang di cium Hendri tadi. "Bikin merinding aja ih." Gerutu ibu hamil sambil melahap Aiciro.
Bersambung...
Yang penasaran sama Aiciro ini aku kasih gambarnya π€ zaman aku masih di Malang, aku beli camilan ini kalau pas healing ke matos π kota Malang itu sejuta kenangan yang selalu bikin rindu π₯°β€οΈ
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ