Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 99


__ADS_3

Arka langsung merebut ponsel itu dari Bara. Menekan tombol hijau, dan mengaktifkan speaker pada panggilannya.


"Dimana Ana?!!!" Tanya Arka langsung, tanpa berbasa-basi. Terdengar suara Sofie yang tertawa renyah disana.


[Panik banget, sih? Dia baik-baik aja, kok. Mana Bara? Aku mau ngomong sama dia] -Sofie


"Lo sentuh Ana sehelai rambut pun, Arsena Group bakalan anjlok sahamnya! Lo tahu siapa Buana Group?" Ancam Arka pada Sofie.


Tak ada jawaban dari Sofie. Tiba-tiba sambungan telepon diputuskan olehnya. Beruntung Arka cerdik, ia langsung melacak lokasi Ana terbaru. Saat terhubung telepon dengan Sofie tadi.


Lokasi nya terletak di pinggiran kota ini. Di sebuah gedung tua, yang sudah tak berpenghuni. Arka langsung menelepon orang-orangnya. Mengirimnya untuk langsung datang ke lokasi lebih dulu.


Arka kembali membereskan barang-barangnya. Dan memasukkan nya ke dalam tas. Lalu ia beranjak diri dan pergi. Ke lokasi tempat dimana Ana dan Arbi di sekap.


"Tunggu!" Ucap Bara menghentikan langkah Arka. Dengan malas, Arka menoleh ke arah nya.


"Thanks, udah peduli pada Ana." Tutur Bara.


"Sudah keharusan Gue, buat melindungi Kak Ana." Jawab Arka singkat. Lalu pergi menjauh dari pandangan Bara.


Setelah perginya Arka, Bara langsung mendapat kabar dari Pak John. Mengenai lokasi terbaru Ana. Mungkin itu berkat panggilan tadi. Arka bahkan lebih dulu melacak nya.


Bara berjalan turun ke lantai dasar apartemen. Menunggu mobil Pak John datang bersama para pengawal yang sudah di atur olehnya.


Dua puluh menit kemudian, sebuah mobil hitam datang. Beserta tiga mobil lainnya. Mobil itu berhenti tepat di depan Bara.


"Tuan muda!" Pak John membuka kaca mobilnya. Menyuruh Bara masuk ke dalam.


.........


Di sebuah gedung tua, yang terletak di pinggiran Ibu Kota. Tempat yang terkesan kumuh dan cukup kotor. Di kelilingi oleh perairan sungai kali yang juga keruh. Akibat bekas dari pembuangan sisa limbah pabrik.


Ana terkurung bersama Arbi di dalam sana. Tangan kecil itu mencekeram Ana dengan erat. Memeluk nya dengan tubuh yang gemetar. Menunggu ada nya bala bantuan yang datang.


"Harusnya kalian berdua ku biarkan mati disini! Harusnya kalian berdua tidak ku biarkan Bara tahu! Hah, karena kalian, aku gagal menikah dengan Bara!! Dasar wanita ja*lang!!!" Umpat Sofie memaki Ana.


Ana sedari tadi tak bersuara. Tak ingin membalas apa pun yang dikatakan Sofie. Tubuhnya tak dibiarkan berjauhan dari pria kecil yang terus mendekapnya.

__ADS_1


"Hey, kalian! Sentuh wanita itu! Kalau dia kotor, Bara juga tidak akan menyentuhnya lagi. HA HA HA!" Perintah Sofie pada orang suruhannya.


Ana tergelak kaget, matanya melotot tajam menatap wanita ular itu.


"Berani menyentuhku, akan ku bakar gedung tua ini!" Ana berusaha membela diri. Arbi menangis sembari mengeratkan pelukannya.


"Hiks... Bunda... aku takut.." rintih Arbi. Ana mengelus lembut pucuk kepalanya. Mencium wajah imut itu. Berusaha memberikan ketenangan pada pria kecil yang terus merintih ketakutan.


"Mau saya apakan wanita ini, Nona?" Tanya orang suruhan Sofie. Lelaki bertubuh tegap dan tinggi. Kulitnya berwarna sawo matang. Memandangi Ana dengan tatapan seolah tak sabar ingin memakannya.


"Terserah, mau di sentuh yang mana dulu, itu urusanmu!" Tutur Sofie nyeleneh. Arbi mendengar hal itu sontak berontak.


"TIDAK! KALIAN TIDAK BOLEH MENYENTUH BUNDAKU! BUNDAKU MILIKKU!" Teriak Arbi menghadang lelaki itu. Yang berusaha untuk mendekati Ana.


Ana menggelengkan kepalanya seolah mengisyaratkan untuk jangan menyentuhnya. Air matanya luruh dengan wajah tegang disertai ketakutan. Pria kecil itu menatap ke sekeliling. Lalu pergi berlarian menjauh dari sisi Ana. Entah apa yang ingin dia lakukan.


"Arbi, jangan pergi, Nak!!" Teriak Ana menahan Arbi. Tapi anak itu tak mendengarnya.


Lelaki breng*sek itu terus mendekati Ana. Wajahnya menyeringai menatap nya. Ana mendekap tubuhnya erat-erat. Tak membiarkan siapa pun berani menyentuhnya, kecuali Suaminya.


'Tubuh ini hanya milik Bara, bukan dia, atau siapa pun!' Gumam Ana dalam hati.


BRUK!


"Argh!" Teriaknya langsung terjatuh.


"ARBI!" Panggil Ana melihat buah hatinya kembali. Rupanya Arbi berlari mencari sesuatu benda. Yang bisa ia gunakan untuk dijadikan pengaman.


Arbi memukul kepala lelaki itu. Hingga membuat ia terjatuh ke tanah. Tapi sayangnya, Arbi lalai karena tidak melihat Sofie yang berjalan mendekatinya.


"Lepaskan aku wanita jahat! Lepaskan aku!!" Ujar Arbi memberontak, saat Sofie berhasil menangkapnya.


"Anak nakal! Berhenti melawanku!" Bentak Sofie. Membuat Arbi berkaca-kaca.


'Wanita jahat! Bundaku saja tidak pernah membentakku! Berani nya kamu berkata kasar padaku!' Gerutu Arbi dalam hati. Kaki kecilnya ia gerakkan untuk menendang ke wajah Sofie. Dan...


"Sialan! Dasar anak setan! Berani nya kamu!!" Umpat Sofie sembari membersihkan wajahnya yang kotor. Berkat ulah sepatu kotor Arbi. Yang ia daratkan ke wajah nya.

__ADS_1


Arbi berhasil lolos dari jeratan Sofie. Pria kecil itu berlari menghampiri Ana.


"Bunda!!!" Ucap Arbi memanggil Ana. Mata Ana berkaca-kaca, melihat cerdik nya Arbi. Yang sudah bersusah payah memberikan perlawanan. Kali ini Ana tidak tinggal diam lagi.


"Arbi sayang, berikan kayu nya pada Bunda." Arbi mengangguk cepat. Ana mengambil Alih kayu besar yang ada di genggaman Arbi.


Sofie datang lagi, namun tidak sendirian. Ia bersama orang suruhan nya yang lain. Mereka bertambah banyak, serta dengan satu lelaki tadi yang hampir menyentuh Ana. Sayangnya ia terjatuh pingsan. Akibat benturan yang disebabkan Arbi memukul kepala nya dengan sangat keras.


"Berani mendekat, a-aku akan pukul kalian satu persatu!" Tutur Ana berusaha membela diri.


"Hah? Ha ha ha ha! Lihat, dia pikir bisa menang. Melawan orang sebanyak ini. Hanya mengandalkan satu kayu dan anak kecil? Ha ha ha ha!"


"Ha ha ha ha! Maju!"


Arbi mengeluarkan jurus kecil nya. Kaki kecil nya aktif menendang mereka satu persatu. Sayangnya anak itu tak bisa lolos. Arbi malah tertangkap dan di tahan oleh mereka.


"Arbi!! Kalian sentuh Anakku, ku buat kalian semua seperti lelaki ini!" Gertak Ana mengancam.


"Bunda tenang saja, Arbi baik-baik saja disini!" Ujar Arbi berteriak.


Tiba-tiba...


DOR... DOR... DOR...


Suara peluru yang berhasil di tembakkan. Terdengar dari luar gedung tua ini. Sofie dan orang-orang suruhannya panik. Semua nya berpencar, dan Arbi di lepaskan begitu saja. Ini kesempatan bagi Ana untuk membawa Arbi kabur dan keluar dari gedung tua ini.


"Sayang... kita haru segera pergi dari tempat ini!" Ucap Ana pada Arbi.


Namun...


"Mati saja kalian berdua di dalam gedung ini, HA HA HA!" Sofie tiba-tiba melemparkan sebuah korek api ke arah tumpukan kardus bekas. Mengakibatkan ruangan itu terbakar dengan kobaran api yang menyala. Membuat Ana serta Arbi terjebak di dalam sana.


Sementara Sofie lebih dulu keluar dan kabur bersama orang-orang suruhannya.


"Bunda... Arbi takut... hiks... hiks... Arbi nggak mau mati disini Bunda... hiks... hiks..." rintih Arbi sedu. Ana pun tidak tahu lagi harus berbuat apa.


Mereka berdua terjebak di dalam kobaran api yang besar. Tersentuh sedikit, akan terbakar.

__ADS_1


'Ya Allah.. selamatkanlah kami' gumam Ana berdoa dalam hati.


__ADS_2