Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 56


__ADS_3

Setelah kedatangan dokter Gladys. Ana sudah kembali sadar dan terbangun. Ada guratan senyuman kecil di wajahnya. Betapa kagetnya, ada kehadiran Bara juga Arka. Yang datang ke rumahnya.


"Dia kelelahan, kurang tidur dan makan tidak teratur. Agak sedikit terganggu juga pada mental psikis nya. Apa sebelumnya dia mengalami suatu.. kejadian?" Tanya dokter Gladys pada Bara.


Rasa bersalah itu kembali muncul. Di waktu yang bersamaan dengan sadarnya Ana.


Kalau saja, dirinya tidak selemah itu. Ana tidak mungkin jadi seperti ini.


"Hm.. iya dok." Jawab Bara seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ya sudah. Obatnya jangan lupa di minum. Kalau sudah baikan, tidak perlu di minum lagi." Ucap dokter Gladys.


Sebenarnya Gladys tahu, dan bisa mengamati permasalahan yang dialami Ana. Sungguh miris hidupnya, rasanya ingin sekali bisa berteman dekat dengan Ana. Karena Gladys cukup pandai mengamati seseorang. Tidak hanya gelar dokter yang ia pelajari selama ini. Ia juga telah banyak belajar mendalami ilmu psikologi.


Makanya, saat memeriksa Ana. Ia sudah paham dengan kondisi yang di alami oleh Ana. Gladys sangat suka membantu orang yang mengalami mental illnes atau juga disorder. Ia sering bertemu dengan orang-orang yang mengidap gangguan mental kesehatan. Berbagai macam permasalahan yang di derita oleh orang-orang itu. Tak jarang kalau Gladys hampir pernah terluka saat menangani mereka.


Ada yang level gangguannya sedang, dan tidak terlalu parah. Ada juga yang sudah di level akut. Ada yang bahkan hanya diam saja, tanpa bicara apa pun. Itu yang susah untuk di pahami. Kebanyakan dari mereka mengalami mental illnes disebabkan karena banyaknya tekanan. Dari orang disekitarnya.


Di antaranya penyebabnya yakni korban dari kasus bullying, korban kekerasan rumah tangga, dan lain sebagainya. Bahkan ada juga yang di sebabkan karena bisa melihat hantu. Dan masih banyak lagi penyebabnya lainnya.


Maka dari itu, selalu berpegang teguh iman dimana pun kita berada. Hidup bila tak di barengi oleh iman, hati tidak akan bisa tenang. Seperti halnya orang yang makan tanpa meminum air. Seperti juga orang yang hidup bertahun-tahun tanpa tahu arah. Kemana dirinya harus pergi melangkah.


.........


Pulihnya kesadaran Ana, membuat Bara lebih semangat dari sebelumnya. Bara tampak melayani Ana dengan sepenuh hati. Menyuapinya makan, membantunya meminumkan obat. Membereskan pakaian serta barang-barang yang di taruh sembarang tempat. Serta hal lainnya yang mungkin bisa disebut sebagai tipe suami idaman bagi kaum hawa.


Tanpa sadar, Ana menitikkan air mata yang tiba-tiba jatuh begitu saja dari sudut matanya. Ia berharap, Bara tidak pergi lagi. Bahkan ia ingin serakah terhadap keinginan yang lainnya. Berkumpul lagi bersama Arbi dan orang yang ia sayangi, suaminya Bara.


Mungkin semua harapan itu sudah pupus. Ana kembali mengingat ancaman perkataan dari Ayahnya Bara. Ia harus pergi dari kehidupan putra dan cucunya. Bagaimana bisa, seorang wanita hidup tanpa anak yang susah payah ia lahirkan ke dunia ini? Bagaimana juga bisa, ia hidup tanpa bersama cintanya?


Dimana hati dan nurani nya sebagai Manusia? Memisahkan anak dari Ibu kandungnya. Dan menyuruh seorang wanita pergi meninggalkan seorang lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya. Aneh, coba saja dia yang begitu. Akankah dia terima? Tentu tidak.


"Kamu kenapa, sayang? Kok melamun sih." Tanya Bara memperhatikan Ana.


Tatapannya kosong. Seperti banyak yang sedang dia pikirkan. Ana tak membalas perkataan Bara. Ia hanya menggeleng pelan.


Tak ada senyuman, tak ada ekspresi di wajahnya.


Bara semakin khawatir dengan psikis Ana.


"Sayang... kamu kenapa? Ngomong dong. Aku jadi khawatir sama kamu." Sambung Bara bertanya lagi, dengan suara sedu. Seraya memeluk erat Ana.


Ana masih diam tak bergeming. Ia hanya mengelus lembut punggung tangan Bara.


Sebenarnya Ana kenapa? Pikir Bara.


"Kamu tunggu sebentar. Aku mau ke bawah dulu." Ucap Bara sembari menyelimuti Ana dengan selimut tebal.


Bara pergi meninggalkan Ana seorang diri di kamar. Ia turun ke bawah untuk mencari Arka. Tampaknya Arka sedang asyik mengobrol dengan sang dokter. Rupanya dokter Gladys belum juga pulang.


"Betah banget dia, ngobrol sama Arka." Gumam Bara dalam hati.


"Ehem!"


Deheman Bara menghentikan orbrolan mereka. Arka sepertinya mulai akrab dengan Gladys.


"Eh, Bar. Gimana Kak Ana?" Tanya Arka melepas canggung.


"Panasnya sih udah turun. Udah mau makan juga. Tapi masih diam aja, gak mau ngomong apa-apa." Jawab Bara bimbang.


"Mungkin dia masih butuh waktu buat menyendiri." Sanggah Gladys yang ikut dalam obrolan Arka dan Bara.


"Tapi sampai kapan? Udah berhari-hari dia bahkan menghabiskan waktunya sendirian. Terus sekarang? Masa harus sendirian lagi." Tutur Bara tak sabar.


"Dia tinggal sendiri?" Tanya Gladys pada Arka.

__ADS_1


"Iya." Jawab Arka sedu.


Jangan tanya lagi mengenai Bara. Ia pun tak kalah bimbang dan sedih. Perasaannya benar-benar kacau dan penuh dengan tekanan. Akibat perbuatan dari Ayahnya yang memisahkannya dari Ana.


"Bodoh, gak berguna banget lo Bar jadi suami. Ana udah banyak menderita karena Lo sialan!" Gumam Bara memaki dirinya sendiri dalam hati.


Gladys tampak iba dengan kondisi Ana. Tiba-tiba ia punya solusi. Agar Ana tinggal bersamanya di rumahnya.


"Hm, kasihan juga sih. Di rumahku ada satu kamar yang masih kosong. Kalau mau, dia bisa tinggal dirumahku. Ya, anggap aja sebagai teman ngobrol buat dirumah. He he." Ucap Gladys tiba-tiba memberi usul.


Arka sebenarnya senang dengan usulan dari Gladys. Karena ia tahu kalau Gladys tinggal dirumahnya memang sendirian. Ia tinggal terpisah oleh Ibunya. Masing-masing punya rumah sendiri. Makanya, Gladys tak banyak berpikir untuk mengajak Ana tinggal dirumahnya. Tidak tahu dengan Bara, mungkin saja dia berat dengan usulan itu.


"Kalau Gue sih tergantung Bara. Dia kan suaminya." Jawab Arka.


Bara tampak berpikir sesaat. Sepertinya ia memang berat dengan keputusan itu. Rumah ini kan memang untuk Ana. Lalu kenapa juga dia harus merelakan Ana tinggal dirumahnya Gladys? Tapi kalau pun Ana disini, dia juga sendirian. Sementara dirinya harus balik lagi kerumah utama bersama Arbi.


"Gimana, Bara? Kamu keberatan kah?" Tanya Gladys meyakinkan.


"Hm, agak berat buat Gua sebagai suaminya. Gua tanya Ana dulu. Mungkin aja udah mau bicara lagi." Jawab Bara.


Bara dan Gladys mengangguk paham. Bara pun izin kembali untuk ke kamar. Menemui Ana sekaligus menanyakan hal itu pada Ana. Siapa tahu mungkin memang Ana butuh teman curhat.


Saat memasuki kembali ke dalam kamar. Ana seperti orang yang tengah melamun. Namun pandangannya benar-benar kosong. Melihat istrinya yang begitu lemah. Bara menjadi yakin, dengan keputusan Gladys. Ia tak ingin Ana terus menerus seperti itu.


Untuk sementara waktu, memang baiknya Ana tinggal bersama Gladys. Sembari memikirkan rencana selanjutnya. Untuk kehidupan kedepannya, masa depannya dengan Ana dan juga Arbi. Bara tak ingin sepanjang waktu bergantung pada Ayahnya. Pun juga ia sudah muak dengan segala peraturan dan kekangannya.


Kalau terus begitu, hidupnya tentu tidak akan bahagia.


"Sayang.." Panggil Bara sedu.


Bara duduk di sisi Ana sembari mengelus lembut tangannya.


"Ana jadi lemah begini karena Gua yang gak becus jadi suami. Dasar gak berguna Lo, Bar!" Umpat Bara memaki dalam hati.


"Sayang... kamu ngomong dong? Jangan buat aku khawatir kayak begini. Aku rindu.. kamu yang dulu." Tutur Bara sedu.


Ana masih diam tak bergeming. Bahkan terlihat enggan menatap Bara.


Bara berulang kali mengecup lembut wajahnya. Pipinya, matanya yang sembab. Ia bahkan memeluknya erat. Tak ingin melepaskan pelukan itu. Kalau perlu, selamanya dia ingin begitu. Sekalipun Ayahnya datang lagi bersama para pengawalnya. Bara tidak ingin pergi lagi.


Sudah cukup untuk semuanya. Ia ingin hidup tenang bahagia bersama Ana.


"Maaf..." Ucap Bara meminta maaf.


"Maaf saja masih belum cukup, Bar. Aku sakit. Benar-benar sakit. Kita bahkan seharusnya, sejak awal tidak bisa bersama. Aku begitu berat menanggung ini semua." Gumam Ana dalam hati.


Air mata yang sudah kering. Entah mengapa bisa kembali luruh. Dari sudut mata Ana. Tangisnya tak bersua. Namun sesaknya sampai ke hati Bara.


Bara mendengar detak jantung Ana yang begitu cepat. Sontak Bara melepaskan dekapannya. Ia menatap nanar wajah Ana.


"Ana menangis.." Gumam Bara dalam hati.


Ana tak berani menatap kedua mata Bara. Pandangannya pun masih menatap lurus ke depan.


"Ana! Tatap mataku, An! Ngomong! Kamu jangan diam aja, An! Aku udah disini kamu tetap aja gak mau ngomong sepatah kata pun. Mau kamu tuh apa sih?! Aku udah datang kesini hanya demi ketemu kamu! Ini kah balasanmu?" Bentak Bara pada Ana.


Tangis Ana semakin deras. Ia bahkan semakin sesegukan. Dadanya terasa sesak.


Wajahnya pun ia tutupi dengan kedua telapak tangannya. Ana tak ingin menatap wajah Bara. Meskipun ia begitu merindu. Yang ada dipikirannya saat ini adalah


perpisahan dengan Bara adalah hal yang tepat.


Suara Bara terdengar sampai ke bawah. Arka dan Gladys tak tinggal diam begitu saja. Mereka berdua menghampiri ke lantai atas. Arka yang tiba-tiba masuk ke kamar langsung memberikan satu pukulan di wajah Bara.


"Kurang ajar Lo! Brengsek Lo sialan! Lo lihat! Kak Ana lagi dalam keadaan lemah. Lo pikir dia mau kayak gitu hah?! Mikir!! Dia begitu karena siapa?! KARENA SIAPA?!!" Umpat Arka memaki Bara.

__ADS_1


"Asal Lo tahu! Bokap Lo menyuruh Kak Ana buat pisah sama Lo! Bokap Lo juga yang ambil Arbi darinya. Sia-sia aja Gue jemput Lo buat ajak kesini." Sambung Arka.


Bara diam dan memikirkan semua perkataan Arka.


Benar yang dibilang Arka. Tidak seharusnya dia memaksa Ana untuk bicara. Ana pasti butuh waktu untuk menerima itu semua.


"Gladys, bawa Ana ke rumah Lo sekarang. Gak ada kata tapi-tapian." Perintah Arka pada Gladys.


"I.. iya, Ka." Jawab Gladys gugup.


Gladys rupanya masih agak shock juga. Karena melihat Arka yang tiba-tiba langsung memberikan perlawanan terhadap Bara. Memukulnya secara tiba-tiba tanpa sebab. Meskipun Bara salah, menurut pandangannya tidak seharusnya Arka sampai begitu terbawa emosi.


Gladys mengajak Ana turun ke bawah untuk segera memasuki ke dalam mobilnya. Arka tampak melengos sebentar. Ia tak berani melihat keadaan Ana yang tidak memakai hijab. Dan hanya memakai baju tidur singlet yang berukuran tipis.


"Tutupi badannya, Dys. Jangan biarkan dia dilihat oleh orang lain dalam keadaan begitu." Ucap Arka pada Gladys.


"Iya, tenang aja. Kaca mobil Gue juga gelap kok. Eh, di luar juga sepi juga. Gak ada orang-orang yang lewat depan rumah kan?!" Jawab Gladys seraya mengajak Ana pergi dari sana.


Bara tampak menyesal dengan perbuatannya.


Dasar egois!


"Gue kecewa sama Lo, Bar!" Tutur Arka seraya ikut pergi juga.


Meninggalkan Bara yang masih diam tak bergeming.


Arka turun ke bawah menuju ke arah dapur. Ia kembali membereskan semua belanjaan yang sudah ia susun rapi. Semuanya ia turunkan dan ia masukkan kembali ke dalam papper bag. Berpikir kalau untuk membawa semua bahan-bahan makanan itu semua ke rumah Gladys. Karena Ana akan tinggal disana.


Rasanya sia-sia juga ia bereskan tadi. Seharusnya ia diamkan saja kalau begitu.


-


Sesudah memasukkan semuanya ke dalam papper bag. Arka membawanya ke dalam bagasi mobilnya. Semuanya menjadi empat tumpukkan papper bag. Setelah selesai memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Arka masuk lagi ke dalam rumah Ana.


Mobil Gladys pun juga sudah lebih dulu pergi sejak tadi. Berikut Ana yang sudah ikut bersamanya.


"WOY! Lo mau pulang atau enggak?! Kalau enggak Gue tinggal Lo disini." Teriak Arka dari bawah memanggil Bara yang masih ada di atas.


Tak berapa lama, Bara turun. Berjalan menghampiri Arka yang menatap tajam dirinya. Tapi Arka masih bisa mengontrol emosinya. Ia tak ingin bertengkar lagi pada sahabatnya. Sebisa mungkin Arka menahan segala amarahnya.


Lalu Arka masuk ke dalam mobilnya. Diikuti Bara yang sedang mengunci pintu rumah Ana. Setelah selesai menutup dan mengunci pintu. Bara ikut masuk ke mobil Arka.


Arka tak ingin memulai obrolan dengannya. Ia masih kecewa dengan sikapnya Bara tadi. Tidak habis pikir, dengan apa yang dia lakukan pada Ana.


Selama di perjalanan, Arka terus fokus menyetir mobilnya. Tujuan selanjutnya adalah rumah Gladys. Mungkin saja Gladys sudah lebih dulu sampai.


Bara juga hanya diam tak berkata apa pun pada Arka. Mungkin saja ia menyesal dengan perbuatannya.


"Baguslah, kalau Lo merenungi perbuatan Lo." Gumam Arka dalam hati.


.........


Di sisi lain, Ana dan Gladys sudah menempuh perjalanan selama tiga puluh menitan. Mungkin sebentar lagi akan tiba di rumahnya Gladys.


Sepanjang perjalanan, Ana masih diam saja. Walau sebenarnya Gladys sudah berulang kali mengajaknya berbicara. Mungkin Ana masih butuh waktu dengan semua itu.


Gladys paham, dengan kondisi yang dialami Ana. Tidak semua orang dapat menerima permasalahan dalam hidupnya dengan mudahnya. Ana bukan dirinya yang kuat dan tegar. Harusnya ia memahami karakter Ana yang lemah dan mudah terbawa suasana hatinya.


"Hm, Ana. Kamu gak perlu ragu buat cerita apa pun sama aku. Aku bisa berpegang teguh pada janji maupun rahasiamu. Kalau hanya di pendam dan termenung sepanjang waktu, itu gak akan bisa menyelesaikan masalah. Kamu gak kasihan, sama bayimu? Kata Arka, kamu punya anak yang masih bayi. Kalau gak salah baru berusia dua bulanan. Benar?"


Ana mengangguk paham.


"Syukurlah, kamu sudah mau menanggapi. Senyum dong, An. Lemas banget deh kamu. He he he." Sambung Gladys terkekeh.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2