
Tak... tik... tak...
Suara ketukan sendok Arbi begitu menggema terdengar di ruang makan malam ini. Sekaligus melepas kecanggungan yang terjadi antara Pak Ali, Bu Ayu dan Nyonya Kertajaya. Sementara Bara tampaknya tenang-tenang saja. Makan sembari menggenggam tangan Ana di bawah sana. Tanpa ada yang mengetahuinya.
“Arbi suka sekali mengetuk-ngetuk sendok saat makan.” Ucap Nyonya Kertajaya tiba-tiba.
“Aku suka. Karena sendok ini bisa bersuara, Nek. Oh, Grandma.” Balas Arbi.
Nyonya Kertajaya tersenyum kecil menatap Arbi. Lalu kembali melanjutkan makan nya.
“Terima masih untuk makan malamnya, Bu. Semuanya enak-enak sekali.” Ujar Pak Ali.
“Pak...” bisik Bu Ayu.
“Opo toh, Bu?” Sahut Pak Ali berbisik di telinga Istrinya.
“Sama-sama. Di lanjutkan saja makannya. Saya sudah selesai.” Jawab Nyonya Kertajaya ramah. Sembari beranjak bangun dari kursi yang ia duduki itu.
“Eh, Grandma sudah selesai?” tanya Arbi.
“Sudah, kamu mau ikut Grandma tidur?” sahutnya.
Arbi lantas menggeleng pelan.
“Aku mau tidur dengan Ayah dan Bunda!”
Ana dan Bara seketika saling menatap satu sama lain.
“Eh... Arbi tidur dengan Grandma saja, bagaimana?” sergah Bara terang-terangan menolak permintaan anaknya.
“Em... em.. em.. em! Aku tetap ingin tidur di tengah Ayah dan Bunda.” Arbi menggeleng dengan tingkah lucu nya.
Ana terkekeh kecil memperhatikan Arbi yang begitu imut di mata nya. Dalam hati, Ana luluh pada anak itu. Tapi sepertinya Bara berat menerima permintaan Arbi.
“Ma...” rengek Bara pada Nyonya Kertajaya.
Seperti sudah memahami putranya. Nyonya Kertajaya mengangguk pelan.
“Arbi mau jalan-jalan ke wahana lagi tidak? Besok sepulang sekolah, bagaimana kalau kita pergi kesana lagi? Lihat aquarium ikan yang besar-besar. Lalu pulangnya makan ice cream dan burger.” Celoteh Nyonya Kertajaya tiba-tiba memancing emosional Arbi.
Kedua mata Arbi seketika berbinar kegirangan. Tanpa berpikir lagi, anak itu langsung mengangguk cepat. Gurat senyumnya terukir begitu lebar.
“Benarkah? Aku mau!!!” sahut Arbi bersemangat.
“Tapi ada syaratnya.” Tukas Nyonya besar.
“Ada syaratnya?” tanya Arbi, mengulangi perkataan Grandma nya.
Nyonya Kertajaya mengangguk pelan.
“Malam ini, Arbi harus tidur bersama Grandma.” Pinta Nyonya besar.
__ADS_1
Wajah Arbi berubah cemberut. Bibirnya lantas mengerucut ke depan. Melihat ekspresi Arbi yang masam, Bara turun tangan membujuknya.
“Besok kan, hari pertama di sekolah yang baru. Jadi, kamu juga harus banyak mendengarkan nasihat dari Grandma.” Sanggah Bara.
“Memangnya kenapa, Yah?” tanya Arbi serius.
“Karena Grandma yang sudah lebih tahu mengenai sekolah baru kamu. Sementara Ayah dan Bunda belum tahu.” Ujar Bara.
“Tapi aku tetap mau tidur dengan Bunda!” kukuh Arbi. Tak ingin menerima sogokan dari Neneknya.
Ana lantas mengangguk pelan menatap Bara. Tak ingin membiarkan Arbi begitu kesulitan karena penolakan dari Ayahnya.
“Tapi sayang...” gumam Bara sedu.
“Hanya satu malam, sayang.” Ucap Ana berbisik.
“Boleh kan, Bunda?” pinta Arbi dengan mata berkaca-kaca.
“Iya, boleh.” Jawab Ana tanpa berpikir lagi.
“Yeay!” Tutur Arbi bersemangat. Seraya mengangkat kedua tangan kecilnya ke atas. Bersorak ria atas kemenangan nya. Setelah memenangkan perdebatan dengan sang Ayah. Yang saat ini memasang wajah masam. Sementara Arbi, terlihat senyum menyeringai menatap Ayahnya.
‘bukankah dia malaikat kecil yang licik?’ gumam Bara menggerutu.
Pak Ali dan Bu Ayu hanya bisa tersenyum senang. Melihat keakraban antara Ana dengan besan nya. Yang ternyata baik menerima putri mereka di rumah ini.
Setelah menyelesaikan makan malam, semuanya kembali ke kamar masing-masing. Pak Ali dan Bu Ayu pergi ke kamar tamu. Sementara Nyonya Kertajaya menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Lalu Ana dan Bara, berjalan seraya menuntun Arbi masuk ke dalam kamarnya. Yang terletak di lantai dasar.
Kamar Bara memang berbeda sendiri. Sejak kecil, kamarnya berada di lantai bawah. Karena pernah ada sedikit trauma dengan tangga. Ya—Bara pernah terjatuh di tangga rumah utama. Semenjak kejadian itu, Tuan Brama memindahkan kamar putranya berada di lantai dasar ini.
“Kamu senang, Ayah sengsara.” Gerutu Bara.
“Sayang...” bisik Ana sembari menggeleng pelan.
“Maaf..”
Ketiganya memasuki kamar mereka. Dengan suasana hati yang berbeda-beda. Arbi senang riang menaiki kasur empuk milik kedua orang tuanya. Tubuh kecilnya berguling-guling diatas sana.
“Arbi...” panggil Ana, mengisyaratkan Arbi untuk menghentikan aksi nya.
“Maaf, Bunda.” Sahut Arbi tertunduk sedu.
“Kamu temani Arbi dulu, aku mau ganti baju.” Pinta Ana pada Bara. Lelaki itu mengangguk pelan seraya mengecup kening Ana lembut.
Beberapa menit kemudian, Ana berjalan menghampiri Suami dan anaknya yang tampak tenang. Tak ada suara, antara Arbi maupun Bara. Hal itu membuat Ana cemas seketika.
“Sayang, ka...” ucap Ana terpotong.
“Sssttt... Arbi sudah tidur, sayang.” Bisik Bara pelan.
Ana mengangguk, dan menaiki ranjang king size itu. Pandangannya menatap dalam Arbi. Sosok malaikat kecilnya yang pertama. Di kecupnya berulang kali kening dan wajah mungil itu oleh Ana. Dan berakhir mendapat kecupan lain dari Bara.
__ADS_1
“Aku sengaja menidurkan Arbi. Supaya aku dan kamu...” bisik Bara yang terdengar ambigu.
Wajah Ana merona seketika. Gurat senyumnya terukir kecil. Tampak malu-malu dengan ucapan Baru barusan.
.
.
.
Pagi yang penuh dengan warna. Ana dan Bara bangun lebih dulu dibandingkan Arbi. Ingin menyambut kepulangan Pak Ali serta Bu Ayu. Yang akan kembali ke Jawa Timur pagi ini. Mereka berangkat pukul 5 pagi dari rumah utama. Tak lupa keduanya di antar oleh Pak John sampai ke stasiun kota.
“Maaf Bu, Pak. Saya tidak bisa mengantar sampai ke kampung halaman.” Ucap Bara meminta maaf pada kedua mertuanya.
“Tidak apa, Nak Bara. Ini pun kami sudah sangat berterima kasih sekali. Karena kamu dan keluargamu begitu baik menerima Ana di rumah ini. Kami pamit, yo. Jaga Ana baik-baik disini. Bapak menitipkan Ana padamu, loh.” Jawab Pak Ali. Seraya menepuk pundak Bara.
“Jaga dirimu baik-baik ya, Nduk. Ibu pulang ke kampung.” Sanggah Bu Ayu pada Ana.
Ana mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca.
“Pokoknya dalam keadaan apa pun, kalian harus tetap bersama.” Tutur Bu Ayu mengatakan pada Ana juga Bara.
“Pasti, Bu. Saya akan selalu bersama dengan Ana.” Jawab Bara yakin.
Mereka pun saling bersalaman. Sebagai bentuk perpisahan. Antara orang tua dengan anak. Lalu menantu dengan mertua.
Bara dan Ana memperhatikan mereka sampai jauh dari pandangan mata. Menatap kepergian Pak Ali serta Bu Ayu. Yang sudah memasuki diri ke dalam mobil.
“Yuk, sayang!” ajak Bara pada Ana.
Ana beralih menatap Bara. Ana lantas mengangguk pelan. Dengan lembut, Bara merangkul Ana. Mengajaknya kembali ke dalam kamar mereka. Membangunkan Arbi yang akan bersekolah di pagi. Dan membangunkan kedua malaikat kecil mereka. Ara serta Arez.
“Morning kiss nya? Sebelum mereka bangun.” Pinta Bara berucap manja pada Ana.
Cup!
Ana mendaratkan satu kecupan di bibir Bara.
“Bukan di kecup, sayang.” Keluh Bara.
“Sama aja, kan?”
“Ya beda dong, sayang. Seperti ini, maksud aku..” bisik Bara. Seraya mengecup lembut bibir Ana. Dengan beberapa ******* kecil pada benda kenyal itu.
Sampai tak sadar, seorang malaikat kecil telah terbangun dari tidur panjangnya. Sembari mengucek-ngucek kedua matanya yang masih meremang. Menatap ke arah Ana dan Bara.
“Ayah... Bunda? Kalian sedang apa?”
Mendengar suara Arbi, Ana langsung tergelak kaget. Menjauhkan dirinya dari Bara. Sementara Bara menepuk pelan jidatnya.
Aih, gagal maning bermesraan dengan Istri.
__ADS_1
Bara... Bara...
Eh.