
Kepergian Tuan Brama beberapa waktu yang lalu. Membuat goresan di hati sang Istri. Kesedihan Nyonya Kertajaya yang begitu mendalam. Masih tidak percaya dengan kematian Suaminya. Yang begitu datang secara tiba-tiba.
Di dunia ini, tidak ada satu pun yang abadi. Kematian itu pasti akan terjadi. Meski kita tidak pernah tahu kapan datangnya pasti. Karena hanya Tuhan dan takdir yang dapat memahami.
Kematian adalah hal yang menyakitkan, tapi kematian itu pula yang dapat merubah orang lain. Rasa takut pada kematian lebih buruk daripada kematian itu sendiri. Kita terlahir dengan satu cara. Namun kematian menjemput dengan berbagai macam cara.
"Hiks... kenapa kau pergi secepat itu, Brama?! Kalau kau pergi, aku dengan siapa disini?" Ucap Nyonya besar meringis tangis seorang diri di dalam kamarnya. Tangannya mengelus lembut pada bingkai foto milik Tuan Brama.
"Aku tidak percaya, kau sudah lebih dulu dipanggil Tuhan. Semoga kau bahagia di atas sana, Suamiku. Meski cintamu hanya untuk wanita itu. Tapi pengabdianku padamu, takkan pernah pudar hingga saat ini. Bara adalah anugerah yang Tuhan titipkan untuk kita. Terimakasih, karena sudah menerimaku sebagai Istri." Sambungnya lagi seraya menitikkan air mata yang membasahi bingkai foto itu.
...----------------...
Arbi menguletkan tubuhnya, matanya perlahan terbuka lebar. Tangan kecilnya menggoyang-goyangkan wajah Ana. Membuat Ana ikut terbangun.
"Bunda..." panggil Arbi. Ana tersenyum kecil menatap wajah imut itu.
Cup
Satu kecupan manis di daratkan pada kening Arbi.
"Ayah kemana?" tanyanya celingukan mencari sosok Ayah muda itu.
"Ayah? Dibelakang Bunda, sayang." Ana terkekeh menjawabnya. Benar saja, ada satu tangan yang tiba-tiba memeluk Ana dari belakang.
Jadi ceritanya mereka berubah posisi? Wadidaw! Eh.
"Loh, bukannya aku ditengah semalam?" Arbi bergurau.
"Bukan kamu, tapi Bunda yang ada ditengah." Jawab Ana seraya mengelus lembut pucuk kepala Arbi.
"Sayang... bangun." Bisik Ana membangunkan Bara. Namun Bara hanya mengulet sesaat. Tanpa membuka kedua matanya.
Beberapa kecupan mendarat di wajah tampan Bara. Biasanya, Bara baru akan bangun. Bila di hujani kecupan oleh Ana.
"Sayang.. kamu nggak sholat? Udah setengah 5 pagi, loh." Lagi, Ana membisikkan di telinga Bara. Perlahan mata Bara terbuka. Bibirnya tersenyum kecil mengembang menatap Ana.
"Kamu tadi cium aku?" tanya Bara. Ia merasa itu seperti mimpi. Ana mengangguk pelan seraya terkekeh kecil.
Cup
Kini giliran Bara yang mengecup wajah Ana. Keromantisan mereka rupanya sedari tadi diperhatikan oleh Arbi. Ia tampak mengintip kecil dari belakang punggung Ana. Bibirnya tidak berhenti tersenyum lebar seraya menyeringai.
Bara yang menyadari itu sontak langsung bersuara.
"Pria kecil, kamu mengintip ya?" Ucap Bara. Seketika Arbi langsung menutup matanya. Dengan tangan kedua kecilnya.
Ana tertawa kecil, saat mendengar Bara memanggil Arbi dengan sebutan pria kecil. Perlahan Ana membenarkan posisinya. Menjadi duduk sembari meluruskan kedua kakinya. Memberi batasan antara Bara dengan Arbi. Agar keduanya tidak bertengkar dalam memperebutkannya.
Anak dan Ayah memperebutkan satu wanita yang sama. Eh.
"Pria kecil, apa kau mendengarku?!" Ujar Bara lagi pada Arbi.
"Dengar, Ayah!" Teriak Arbi dengan suara imutnya.
"Sayang, sudah dong. Dia tidak sengaja juga, kan. Benar kan, sayang?" Sambung Ana sembari menatap ke mata Arbi. Untuk meminta jawaban. Sontak hal itu membuat Arbi menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Coba kesini, Ayah mau lihat." Arbi berjalan merangkak diatas kaki Ana. Untuk mendekati sang Ayah. Wajah kecilnya tertunduk sedu. Tak berani menatap ke wajah Bara.
"Kamu tuh nakal, ya." Tutur Bara seraya mengelitik perut Arbi.
"Aha ha ha ha, Bunda... to-tolong aku! Ha ha ha ha! Bunda..." Arbi tak bisa menahan tawa.
__ADS_1
"Sayang, cukup! Kasihan Arbi, kamu juga, ayo bangun!" Ana mencoba menghentikan keduanya. Raut wajah Bara berubah sedu.
"Iya, maaf." Balas Bara.
Ana beranjak bangun dari ranjang. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Diikuti Bara yang juga mengekor dibelakangnya. Namun, rupanya Arbi juga tak mau kalah. Diam-diam pria kecil itu ikut mengekor dibelakang Bara.
Sesampainya Ana di dalam toilet. Ia hendak membuka pakaiannya. Namun, matanya tak sengaja melihat anak kecil yang ada dibelakang Bara.
"Arbi?" Panggil Ana. Bara tergelak kaget saat Ana menyebut Arbi. Dengan cepat, Bara menoleh ke belakangnya.
Benar saja, Arbi tengah berdiri dengan menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Pria kecil, apa kau masih belum kapok juga? Apa Ayah mengajarimu untuk mengintip orang?" Bara menghadangnya.
"Ti-tidak, Ayah!" Jawab Arbi.
"Lalu, mengapa kau mengikuti kami ke dalam sini?" Bara terus mengintrogasi.
"Aku.. aku juga ingin mandi. Apa aku tidak boleh ikut?"
"Tidak, kamu mandinya nanti saja." Ujar Bara menolak permintaan pria kecil ini.
"Kenapa? Ayah boleh, lalu kenapa aku tidak boleh?" Wajah Ana dan Bara berubah gugup.
"Eh, i-ini karena Ayah dan Bunda sudah dewasa. Sementara kamu masih sangat kecil." Balas Bara seraya mengusap rambut tipis Arbi.
"Apa hanya orang dewasa? Yang boleh mandi bersama? Apa anak kecil tidak boleh?" Arbi terus bertanya.
"Siapa bilang tidak boleh? Arbi boleh, kok. Ikut mandi bersama Bunda." Sambung Ana. Sontak wajah Bara beringsut melas.
"Loh, kok? Kamu membolehkan sih, sayang?" Bara tidak terima. Ana menatapnya dengan tatapan melotot.
Aduh, sereeeemmm! Eh.
"Hei, kamu jangan senang dulu! Masih ada aku disini!" Bara menjewer telinga Arbi.
"Bara!" Bentak Ana.
"Aku hanya menjewer biasa kok, sayang. Nggak bikin dia sakit juga."
Detik berikutnya...
"Huwaaaa! Huwaaa! Wuwuuuu.. Bunda... Ayah jahat!" Arbi berakting nangis. Seakan Bara benar-benar menjewernya dengan keras.
"Kamu tuh ya!" Ana menatap Bara dengan tatapan tajam.
"Aku nggak apa-apakan dia, sayang. Pria kecil, apa kau sedang berakting?" Bara berusaha menegurnya. Namun, Ana langsung menarik Arbi ke dalam pelukannya.
"Sayangnya Bunda, udah dong nangisnya. Arbi mau mandi, kan?" Ana membujuk Arbi agar tidak menangis lagi. Anak itu mengangguk cepat. Bara yang melihatnya tampak tidak senang. Karena dirinya telah dimainkan oleh seorang anak berusia 4 tahuh.
'Awas kamu ya, pria kecil! Beraninya kamu mengambil perhatian Ana!' Geram Bara dalam hatinya.
"Bunda, Ayah melotot ke arahku!" Arbi mengadu pada Ana.
"Bara!"
"Apa? Aku nggak melotot ke matanya, kok. Bocah kecil, beraninya kamu menuduhku? Aku Ayahmu hei!"
Arbi malah menjulurkan lidahnya keluar. Seakan meledek Bara karena telah kalah darinya.
Bara berkomat-kamit tidak jelas tanpa bersuara. Seraya mendelik tajam menatap Arbi. Tapi lagi-lagi Arbi mengadu.
__ADS_1
Gitu aja terus, sampe siang. Eh.
.........
Acara mandi-mandian nya sudah selesai. Meskipun mandi dengan perasaan kesal. Antara Arbi dengan sang Ayah, Bara. Ana kelihatannya sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair dryer.
Tiba-tiba...
Ting!
Suara ponsel Ana berbunyi. Tampaknya ada sebuah notifikasi untuknya. Dengan cepat Ana melihat pada layar ponselnya.
[Ana, apa kau bisa menemuiku di restaurant A hari ini? Ada sesuatu hal penting yang ingin aku bicarakan.] -Ibu Mertua
Ana tergelak kaget, saat mendapat sebuah pesan dari Ibu mertuanya. Jarang sekali ia dihubungi olehnya. Mungkin ini adalah pertama kalinya, bagi Ana mendapat pesan dari Nyonya Kertajaya.
"Sayang, siapa yang mengirimkan pesan?" Tanya Bara penasaran.
"Eh, ti-tidak ada. Ini hanya dari operator, kok." Jawab Ana berbohong. Bara justru semakin curiga.
"Benaran?" Tanyanya lagi memastikan.
"Iya, benar. Gak ada apa-apa, kok. Kamu.. nggak ke kantor?" Ana langsung beralih topik.
"Ini mau berangkat, kamu dirumah berdua dengan si kecil itu, tidak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa, kok. Kan ada Arbi, dan juga bayi kita." Balas Ana seraya mengelus lembut perutnya.
Bara terenyuh menatapnya. Ia mendekati ke arah Ana.
Cup
"Kalau kamu begini, aku jadi nggak ingin kemana-mana." Ujar Bara seraya mengecup lembut kening Ana.
Sementara di meja belajar sana, Arbi tengah asyik menggambar sesuatu. Sejak selesai mandi, Bara membuat pria kecil itu untuk menyibukkan dirinya. Merasa khawatir bila Arbi terus-terusan memperhatikan keromantisannya dengan Ana.
"Bunda.. lihatlah, aku sudah selesai menggambar sesuatu." Ucap Arbi sembari mengibarkan selembar kertas gambar yang ada di tangannya pada Ana. Dan turun dari kursi meja belajarnya. Lalu berjalan menghampiri Ayah dan Bundanya.
"Apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?" Sambung Bara pada Arbi. Pria kecil itu mengangguk cepat.
"Apa yang kamu gambar?" Ana tampak begitu penasaran. Arbi memperlihatkan gambarnya.
Terlihat ada sebuah keluarga yang ia gambar. Mungkinkah itu Ana, Bara, Arbi, dan.. siapa yang satu lagi?
"Yang ini, siapa?" Tanya Ana lagi.
"Ini adalah Adik bayi, kan Bunda sedang hamil. Berarti sebentar lagi, Arbi akan punya Adik bayi. Benar, kan Bunda?" Ana tersentuh mendengar penuturan Arbi. Ia langsung memeluknya.
"Bunda sayang Arbi." Ujar Ana.
"Arbi juga sayang Bunda." Balasnya.
Bara tersenyum kecil melihat momen itu. Tak mau kalah, Bara juga ikut memeluk Ana dengan sangat erat. Hingga menyebabkan Ana kesulitan bernapas.
"Sa-sayang.. to-tolong lepas se-sebentar!" Ucap Ana terbata.
"Eh, maaf, kamu nggak bisa napas ya?"
"Sudah tahu, bertanya." Sambung Arbi sembari mendorong Bara agar menjauh dari Ana.
'Anak kecil, awas kamu ya!' Gumam Bara dalam hati.
__ADS_1
Dasar Bara! Eh.