Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 131


__ADS_3

Suasana sore ini begitu sejuk. Rerumputan hijau di taman depan rumah utama begitu indah di pandang. Kain putih berukuran segi empat ter gelar lebar di atasnya. Sebuah keluarga kecil tengah piknik di tengah-tengah rumput itu.


“Arbi, jangan terlalu dekat-dekat kolam ikan itu sayang!” Ana memperingati Arbi.


Tangan kecilnya terlihat dimasukkan ke dalam kolam kecil itu. Yang berisikan ikan-ikan hias di dalamnya.


“Tidak apa-apa, sayang. Kolam itu tidak dalam, kok. Biarkan saja dia bermain.” Ujar Bara lembut.


“Yang benar, sayang?”


“Benaran, sayang. Kalau kamu mau periksa, ayo kita cek sekarang.” Ajak Bara.


“Eh, kamu aja deh. Aku disini saja, melihat dari kejauhan.”


“Oke, kamu lihat, ya! Arbi ayo, main sama Ayah!” sanggah Bara seraya mengajak Arbi bermain air di kolam ikan itu.


Arbi lantas menoleh, menatap Ayahnya yang berjalan mendekatinya.


“Ayah, kesini, Yah! Ikan nya ada banyak disini!” teriak Arbi dengan suara kecilnya.


Bara menangkap kedua tangan Arbi. Setelah keduanya berdekatan satu sama lain. Ana menggeleng kecil, melihat tingkah gemas Arbi dan Bara. Gurat senyumnya terukir merekah di bibir manisnya.


“Sayang... makan dulu, kesini! Main airnya sudah dulu. Arbi juga kesini!” panggil Ana pada Ayah dan anak itu. Setelah bermenit-menit kemudian.


Sementara baby twins ada di dalam rumah utama. Yang tengah diasuh oleh para pelayan di sana. Suasana di rumah utama semakin ramai tercipta. Setelah kehadiran kedua bayi kembar itu.


Arbi dan Bara berjalan sembari bergandeng tangan. Menghampiri Ana yang tengah duduk diatas alas rerumputan hijau itu.


“Bunda!” Teriak Arbi sembari berlari ke arah Ana. Tubuh kecilnya menghamburkan ke dalam pelukan sang Bunda.


Cup!


Ana mengecup lembut kening Arbi. Mengelus pucuk kepala kecilnya. Dan menduduki anak itu di sebelahnya. Bara pun juga ikutan duduk. Namun...


“Kyaaa! Baraaaa! Jangan pangku aku, ih!” Ana terkejut saat Bara mengangkat tubuhnya. Dan memangku nya di atas pangkuannya.


“Sssttt, nanti yang lain dengar... sayang.” Bisik Bara lembut.


“Ini masih diluar loh, sayang. Arbi disini sama kita.” Ucap Ana berbisik.


Pandangan Bara sontak beralih menatap Arbi. Rupanya anak kecil itu tengah sibuk memakan pancake. Mulutnya berlepotan dengan lumuran cream di bagian bibir kecilnya.


“Tuh, Arbi saja sedang sibuk sendiri sama pancake nya. Kita juga, dong.” Gumam Bara pelan.


Suaranya terdengar merinding di telinga Ana.


Cup!


Diam-diam, Bara mendaratkan beberapa kecupan di wajah dan kening Ana. Lalu menyandarkan kepalanya di tengkuk leher Ana yang tertutup hijab. Bara mendekap Ana dengan sangat erat. Hingga tak membuat jarak sedikit pun dari Ana.


“Sayang... Arbi masih disini, loh.” Ujar Ana lembut berbisik.

__ADS_1


“Gak apa-apa, Arbi kan lagi sibuk makan pancake. Bentar lagi, dia bakalan main ikan-ikan kecil itu lagi, sayang.”


“Iya, tapi aku nggak enak kalau dilihat sama Arbi nantinya.”


“Harusnya dia senang, dong. Kalau Ayah dan Bundanya bahagia.” Bara berucap seraya mengendus tengkuk punggung Ana.


“Sayang...” keluh Ana manja.


“Kenapa... sayang?”


“AYAH!!!”


Tiba-tiba terdengar suara teriakan Arbi yang menggema. Ana langsung tergelak kaget seketika. Wajahnya terlihat panik, bak seperti orang yang tengah kepergok berbuat dosa. Namun Bara, tampaknya masih santai dan justru malah menyengir tidak jelas.


“Ayah kenapa cium-cium, Bunda? Itu Bundaku! Ini Bunda milikku, Ayah!!” Arbi berkacak pinggang dengan wajah masam, serta bibir yang mengerucut ke depan.


“Arbi, nggak boleh begitu sama Ayah, sayang.” Ujar Ana berusaha menenangkan putra kecilnya. Serata mengelus lembut pucuk kepala kecil Arbi.


“Tadi Bunda di cium-cium sama Ayah.” Gerutu Arbi lagi.


Bara terlihat terkekeh sendiri sembari menahan tawa.


“Wajar, dong. Kalau Ayah cium-cium Bunda. Kan, Ayah sayang dan cinta sama Bunda Ana. Memangnya kenapa? Arbi juga mau? Di cium sama Ayah.” Sambung Bara.


Mata Arbi tiba-tiba berkaca-kaca menatap Ana.


“Bunda sudah tidak sayang aku lagi, ya?” tanya Arbi sedu. Ana sontak kaget tak menyangka.


Wajah imut Arbi begitu imut, meski sedang menangis tersedu-sedu karena rasa cemburunya pada Ayahnya sendiri.


“Tadi, Ayah bilang, Ayah cinta dan sayang sama Bunda. Berarti, Bunda sudah tidak sayang Arbi lagi, kan? Bunda sayangnya hanya sama Ayah saja, kan?” tutur Arbi sedu, bertanya lagi tuk memastikan.


“Sayang... Bunda juga itu sayang sama Ayah, karena Ayah adalah Suaminya Bunda. Udah ya, nangis nya. Nanti Bunda ikutan menangis nih, kalau Arbi nya sedih gitu.” Ana berusaha menenangkan Arbi. Memeluk dan menciumnya lembut.


“Arbi, kan Ayah pernah bilang, waktu itu. Ayah ini Suaminya Bunda kamu. Dan kamu adalah anak kandung Ayah. Masa, kamu cemburu sih? Bunda dan Ayah sayang-sayang an begitu.” Tukas Bara.


“Tapi aku tidak suka! Wuwuu... Ayah tidak boleh cium-cium Bunda lagi!” gerutu Arbi.


“Ya sudah, Ayah nggak mau ajak Arbi makan ice cream lagi.” Ancam Bara.


Aih! Anak adan Ayah ini, benar-benar, ya.


Arbi tiba-tiba berubah terdiam seketika. Wajah sedunya mendadak cemberut. Merasa tidak terima dengan kata-kata Ayahnya tadi.


“Apa? Tidak mau mengajakku makan ice cream lagi?” Arbi mengulangi pernyataan Bara.


“Iya, kalau Arbi tidak setuju Ayah mencium Bunda. Arbi tahu, tidak? Apa arti dari ciuman Ayah ini?” tanya Bara seraya mengecup lembut kening Ana.


Arbi lantas menggeleng, meski wajahnya lagi-lagi berubah masam.


Sedikit pengetahuan, ciuman di kening bukan semata karena dorongan nafsu birahi. Sebaliknya, ciuman di kening adalah tanda kasih sayang yang apabila dilakukan secara rutin akan membangun keakraban di antara suami dan istri.

__ADS_1


“Ayah ingin setiap harinya cinta dan sayang sama Bunda Ana. Makanya, Ayah selalu cium Bunda. Arbi lahir ke dunia ini, itu juga karena Ayah sering cium Bunda.” Celetuk Bara tanpa sadar.


“Sayang...” ucap Ana seraya menggeleng pelan menatap Bara.


“Memang begitu, Bunda?” tanya Arbi penasaran.


“Eh, i-iya, sayang. Kamu lahir ke dunia ini, karena berkah dari Tuhan.” Tutur Ana.


“Lalu, kata Ayah tadi? Aku lahir setelah Ayah mencium Bunda. Berarti kalau Ayah cium Bunda lagi, Bunda akan hamil lagi?” Arbi bertanya lagi.


Ana agak ragu menjawabnya. Sikap seperti itu, memang masih banyak yang dilakukan orang tua pada anaknya. Karena nya, pendidikan **** di Indonesia masih dianggap menjadi satu hal yang tabu untuk diberikan kepada anak-anak dan remaja.


Orang tua dan orang dewasa merasa risih dan enggan saat anak-anak dan remaja menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan ****. Dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan atau mengatakan pada mereka jika mereka akan tahu dengan sendirinya saat dewasa.


Dengan tidak memberikan jawaban tentang **** secara baik, benar dan jelas kepada anak-anak dan remaja. Hal ini akan menimbulkan masalah baru di masyarakat. Perubahan fisik dan hormonal pada remaja saat peralihan dari anak-anak menjadi remaja, membuat mereka merasa ingin tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan tubuh mereka.


Remaja yang dipenuhi dengan rasa ingin tahu, akhirnya akan mencari tahu sendiri atau bertanya ke teman yang tidak sedikit memberikan pengetahuan yang salah kepada mereka mengenai ****. Akibatnya, mereka pun terjerat pada pergaulan bebas. Karena ketidaktahuan nya mengenai hal-hal yang dianggap negatif, menjadi hal yang lumrah untuk mereka pelajari.


“Arbi sayang... Arbi tidak boleh melakukan seperti itu, ya? Mencium wanita, apalagi menyentuhnya. Karena, hal-hal seperti itu hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa. Dan lagi, yang berstatus sebagai Suami dan Istri.” Jelas Ana, memberikan sedikit pengetahuan pada Arbi.


“Seperti Ayah dan Bunda?” gumam Arbi bertanya.


“Iya, kalau Ayah dan Bunda kan, Suami Istri. Jadi, boleh.” Sanggah Ana.


“Kalau bukan?”


“Tidak boleh, harus menikah dulu. Dan usia yang cukup untuk menikah, minimal sekali 20 tahun. Tapi, Arbi harus sekolah dulu yang rajin. Menikah nya nanti saja, kalau Arbi sudah mempunyai banyak ilmu.” Celoteh Ana menjelaskan.


Arbi terlihat memagut-magutkan kepalanya.


“Ilmu yang Bunda maksud itu seperti pelajaran di sekolah Arbi, kan?” tanya Arbi lagi.


“Iya, tapi lebih jauh dari itu. Seperti ilmu agama, ilmu akademik, ilmu sosial dan ilmu-ilmu ainnya. Yang masih terus harus Arbi pelajari.” Jelas Ana lagi.


“Iya, Arbi. Kamu paham tidak, sekarang?” sambung Bara tiba-tiba.


“Paham dong, Ayah. Tapi... ice cream nya bagaimana?” Jawab Arbi dan kembali mengingatkan ice cream pada Bara.


“Kamu pikirannya makanan terus, ya.” Tukas Bara seraya mencium lembut pucuk kepala kecil Arbi.


“Ice cream tetap Ayah belikan. Kalau bisa satu toko nya pun, Ayah belikan juga. Pabrik-pabriknya sekalian, deh. Biar Arbi senang.” Ujar Bara.


Mata Arbi berbinar seketika.


“Benaran, Yah?”


“Iya, Arbi kecil. Eh, kamu sekarang kan, sudah jadi Kakak.” Sarkas Bara.


“Kakak? Aku akan dipanggil Kakak? Yeay!!”


Tadi cemberut karena cemburu, sekarang kesenangan hanya karena sebutan baru sebagai ‘Kaka’.

__ADS_1


Aih, Arbi... Arbi!


__ADS_2