Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 136


__ADS_3

Ana begitu antusias menyambut kedatangan kedua orang tuanya yang datang jauh dari Jawa Timur. Ia bahkan sudah rapi sekarang. Memakai balutan dress panjang bermotif bunga-bunga yang warna nya terbilang soft. Dengan pashmina berwarna ungu muda. Dan menambahkan beberapa sedikit riasan di wajahnya. Menambah aura pada kecantikannya.


“Kamu mau dandan atau pun enggak, tetap cantik.” Puji Bara. Yang berada di belakang Ana. Keduanya saling memandangi satu sama lain lewat sebuah cermin yang ada di depan mereka sekarang ini.


HAP!


Bara memeluk manja Ana dari belakang. Di sandarkan kepalanya pada tengkuk leher Ana yang terlapis baju panjang. Agak lama, Bara berdiam diri disana.


“Sayang...” gumam Ana seraya mengelus lembut wajah tampan Bara.


“Sebentar lagi, sayang. Aku masih betah berada disini.” Bara semakin mengeratkan dekapannya.


“Bapak sama Ibu sedang menunggu kita di luar, sayang.” Balas Ana lembut.


Cup!


Keduanya saling menautkan kecupan lembut satu sama lain. Bara semakin tidak ingin melepaskan ciumannya dari Ana. Dekapannya kian mengerat. Hampir melupakan sesuatu, bahwa kedua orang tua Ana tengah menunggu mereka di ruang tamu.


Tok tok tok


“Tuan muda, Nona muda?”


Suara panggilan dari pelayan, menghentikan aktivitas romantis kedua pasangan itu. Ana tergelak kaget, membulatkan kedua bola matanya. Sementara Bara, terkekeh kecil. Melihat wajah panik Ana yang begitu menggemaskan dimatanya.


“Iya, sebentar!” sahut Bara sedikit berteriak.


“Tuh kan, aku bilang apa.” Gerutu Ana pelan.


“Iya, maaf... sayang.” Tutur Bara sedu.


“Minta maafnya ke Bapak sama Ibu aku.” Balas Ana acuh. Ingin mengerjai Bara, karena ralat untuk bertemu dengan kedua mertuanya.


Ana berjalan lebih dulu. Mencoba meninggalkan Bara sendirian di kamar. Namun sepertinya Bara langsung ikut mengejar Ana. Dan mengekor di belakangnya.


“Sayang... tunggu!” ucap Bara.


Sesampainya di ruang tamu, Bu Ayu dan Pak Ali tampak sedang berbincang sesuatu. Mereka tengah duduk sembari menikmati secangkir teh dan beberapa camilan. Yang di bawakan oleh pelayan di rumah utama.


Wajah wanita paruh baya itu, memandangi anak perempuan satu-satunya. Yang sudah begitu lama terpisah jauh darinya.


Kedua mata Ana tampak berkaca-kaca. Menatap wajah sedu wanita yang ada di hadapannya sekarang. Begitu juga dengan lelaki paruh baya yang ada di sebelahnya.


“Ibu...” panggil Ana sedu.


Bu Ayu mengangguk pelan. Keduanya memeluk satu sama lain. Bara melihat reka adegan haru akan orang tua dan anaknya yang tengah temu rindu itu, merasa tidak enak. Takut akan mengganggu mereka semua.


Namun...


“Nak, Bara?” ujar Pak Ali memanggil Bara. Saat menyadari kehadiran menantunya yang tengah berdiri tidak jauh dari mereka. Memandangi sembari berdiam diri.


“I-iya, Pak.” Sahut Bara gugup.


Ana menatapnya dari jauh. Sembari mengangguk pelan.


Pelan-pelan, Bara berjalan seraya menundukkan sedikit kepalanya. Menghampiri kedua orang tua Ana. Dan memberikan sapaan, dengan menyalami kedua tangan mereka yang sudah berubah keriput.


“Kamu sekarang sudah semakin dewasa ya, Nak. Aura ke Bapak-an nya lebih kelihatan juga.” Puji Pak Ali, sembari mengelus lembut kepala Bara.


“Bapak bagaimana, sih? Ya jelas dewasa. Sudah punya tiga anak loh, Pak.” Sarkas Bu Ayu. Membuat rona wajah Bara agak memerah seketika.


Cie, malu!


Eh.


“Ibu iki, loh. Mulutnya opo ndak iso dijaga? Aih..” sanggah Pak Ali. Merasa tidak enak dengan perkataan Istrinya barusan.


“Pak, sudah.” Tukas Ana sembari menggeleng menatap Pak Ali, dan beralih menatap Bara.


Kelihatannya, Bara mengerti dan memahami sikap Ibu mertuanya. Yang agak sembrono itu.


“Oh iya Nduk, bayimu ada dimana toh? Ibu kepingin lihat mereka. Katamu mereka kembar.” Sambung Bu Ayu. Menanyakan keberadaan baby twins.


“Mereka sedang makan dengan Mbak pelayan, Bu.” Balas Ana.

__ADS_1


“Kenapa nggak kamu saja yang suapi? Kok pake pelayan segala sih, Nduk? Opo ndak mahal, bayar mereka?” tanya Bu Ayu lagi.


“Pelayan dirumah ini memang sudah ada sejak lama, Bu. Ana pun, tidak perlu memikirkan masalah biaya untuk membayar mereka. Karena semua itu, saya yang akan mengurusnya.” Sanggah Bara tiba-tiba. Menjawab pertanyaan Ibu mertuanya.


“Ibu iki loh, sudah di bilang in juga. Diam toh, Bu! Jangan bikin Bapak malu. Yang terpenting itu kan, Ana bisa hidup tenang dan damai disini.” Lanjut Pak Ali berucap.


Bu Ayu lantas terdiam. Seraya mengerucutkan bibirnya. Dan menatap sebal pada Pak Ali, Suaminya.


Tidak berapa lama kemudian, dua orang pelayan datang dari arah taman belakang. Sembari mendorong dua keranjang bayi. Mendekati ke arah Ana dan Bara.


“Tuan muda, bayi kembar sudah selesai makan. Apa mau langsung dimandikan saja sekalian?” tanya salah seorang pelayan wanita itu.


“Jangan, biarkan mereka disini sebentar. Kalian berdua kerjakan saja tugas yang lain!” sergah Bara, memberikan perintah pada kedua pelayan itu.


“Baik, Tuan muda.” Jawab mereka serentak. Lalu pergi, tanpa membawa baby twins lagi.


“Ini toh, cucu-cucuku? Ealah, mereka kembar tak seiras, rupanya. Yang satu cantik, satu lagi ganteng.” Puji Bu Ayu, sambil menggendong salah satu dari baby twins.


“Yang ganteng biar Bapak saja yang menggendong nya, Bu!” sergah Pak Ali. Saat Istrinya ingin menggendong bayi lelaki.


Ana tersenyum kecil, terharu melihat kekompakan Bapak dan Ibunya. Yang tidak pernah bertengkar. Dari dulu, bahkan hingga saat ini. Melihat Anak pertamanya sudah menikah dan mempunyai cucu lagi.


Ya—Ana berharap, hubungannya dengan Bara pun bisa bertahan selamanya. Tidak ada yang mengusik. Apalagi memisahkan cinta mereka.


“Oh ya, Nduk. Anakmu yang satu lagi itu kemana toh? Yang waktu bayi itu Ibu gendong ke rumahmu dulu.” Ujar Bu Ayu tiba-tiba bertanya mengenai Arbi.


“Maksud Ibu, Arbi?” sahut Ana berbalik menanyakan.


“Ah, iya! Arbi ya, namanya. Ibu hampir lupa, ya ampun.” Keluh Bu Ayu.


“Ibu memang pikun an orangnya.” Lawak Pak Ali.


“Arbi sedang mengikuti les tambahan, Bu.” Jawab Ana.


“Les? Les apa? Bukannya dia masih sangat kecil? Apa tidak berlebihan, Nduk? Anak sekecil itu sudah punya banyak kegiatan.” Tukas Bu Ayu.


“Tidak, Bu. Justru karena dia masih kecil. Harus punya banyak wawasan akan pengetahuan. Kalau sudah besar, jadi lebih mudah untuk mengelola kecerdasannya.” Balas Bara.


“Tuh, Ibu dengar tidak? Pola pikir orang desa itu beda sama di kota, Bu. Jangan sama kan, anak-anak dulu dan sekarang. Kalau dulu, jamannya Bapak itu susah sekali. Mendapat sekolah gratis saja sudah alhamdulillah. Arbi termasuk kategori beruntung, Bu.” Cerca Pak Ali pada Istrinya.


Bu Ayu lantas mengangguk pelan.


“Iya, ya. Benar juga, kalau Ibu pikir-pikir lagi. Anak-anak sekarang memang sangat beruntung. Berbeda sekali dengan anak-anak dahulu.” Sanggah Bu Ayu.


“Ngomong-ngomong, bayi kembar ini opo ndak di kasih nama, Nduk? Siapa namanya?” ucap Pak Ali tiba-tiba bertanya.


Ana dan Bara saling pandang.


“Belum ada sih, Pak. Masih di pikirkan lagi untuk namanya.” Sahut Bara menjawab.


“Oalah, belum ada namanya toh? Kalau bisa, jangan lama-lama, ya. Karena kalau sudah berumur 3-5 bulan, itu sudah agak terlambat menurut Bapak.” Sambung Pak Ali.


Dalam agama Islam, seseorang yang baru menjadi orang tua dianjurkan untuk segera memberi nama anaknya. Anak bisa diberi nama saat dia lahir, tiga hari setelah ia lahir atau tujuh hari setelah ia lahir.


“Memang kenapa, Pak?” tanya Bara penasaran.


“Ya, nggak bagus saja Nak, Bara. Si bayi ini kan, seharusnya sudah mengenal siapa mereka. Tapi ternyata belum tahu namanya. Jadi, gimana cara memanggilnya? Kan nggak mungkin, toh. Panggil mereka dengan sebutan bayi.” Celoteh Pak Ali menjelaskan. Diakhiri gelak tawa oleh mereka semua.


Melepas kecanggungan diantara menantu dengan mertua.


Bara akhirnya memagut-magutkan kepalanya. Paham akan nasihat yang diberikan Ayah mertuanya. Tindakan apa yang harus ia lakukan setelah ini.


“Bagusnya tidak boleh lebih dari 7 hari. Mulai sekarang, harus di pikirkan nama untuk mereka.” Sanggah Bu Ayu.


.


.


Hari semakin siang, dan sekarang sudah menunjukkan pukul 2 siang. Bu Ayu dan Pak Ali memilih untuk beristirahat di halaman belakang. Merasa tidak enak bagi mereka. Bila tidur di kamar tamu. Karena rumah ini, cukup mewah dan berbeda dari rumah pertama yang mereka datangi waktu lalu. Rumah yang dihadiahkan Bara untuk Ana. Namun sekarang sudah laku terjual. Dan berganti pada apartemen. Menggantikan rumah masa kelam Ana, dulu.


Yang membuat dirinya mengalami banyak hal bersama Bara.


Terlebih lagi, rumah ini adalah rumah keluarga Bara. Pak Ali tidak ingin merepotkan menantunya. Baginya, Ana diterima keluarga ini pun sudah lebih dari cukup. Daripada memikirkan kedatangannya kesini yang hanya sementara.

__ADS_1


“Sayang... kalau Bapak dan Ibuku menginap disini satu malam, boleh tidak?” tanya Ana pada Bara. Keduanya sudah berada di dalam kamar mereka. Sementara bayi kembar, juga tengah tertidur pulas. Di keranjang tidur mereka.


Bara terlihat sedang melakukan pekerjaannya. Pandangannya terfokus dan serius menatap layar monitor laptop miliknya.


“Boleh, memang nya kenapa?” sahut Bara.


Ana mendekati dan duduk di sebelahnya.


“Tapi... aku tidak enak dengan Mama.” Sambung Ana. Sembari bersandar di bahu Bara.


Cup!


Bara menoleh, dan mendaratkan kecupan manis di bibir Ana.


“Nanti biar aku saja yang mengatakannya langsung pada Mama. Don’t worry, darling!” gumam Bara. Sambil mengetik sesuatu pada kerjaan di keyboard laptop miliknya.


Ana lantas mengangguk pelan.


“Kerjaan kamu masih banyak, ya? Tanya Ana. Pandangannya beralih memperhatikan layar monitor yang ada di depan Bara.


“Iya, karena aku sering absen juga. Jadi harus sekalian mengerjakannya.” Ujar Bara membalas.


“Maaf... ini semua pasti karena aku, kan? Kamu jadi kerja dari rumah begini.” Tutur Ana sedu.


“It’s okay, sayang. Aku malah senang, kok. Kalau kerjanya dari rumah. Bisa ditemani kamu terus setiap detik.”


“Sayang kamu..” gumam Ana lembut.


“Sayang aja, atau sayang banget.” Tanya Bara.


Menurutmu?


“Kamu maunya berapa?”


“1 T %”


“Yah, berarti aku nggak masuk kriteria kamu dong?” ucap Ana.


“Sayang kamu tidak sebesar itu, ya?” tanya Bara sedu.


Ana lantas menggeleng pelan.


“Terus?” Bara mengharapkan jawaban dari Ana.


“Sayangku ke kamu itu... tidak terhitung jumlahnya, sayang. Tak terhingga, berarti banyak. Masuk dalam kategori jenis noun uncountable.” Jawab Ana.


“Sudah seperti belajar toefl aja nih, sayangku ini.” Ucap Bara lembut. Seraya mengecupi wajah cantik Ana. Yang tidak memakai hijab tuk menutupi rambutnya.


“Itu kan, memang materi untuk toefl... sayang.” Lanjut Ana berujar.


“Kamu lagi belajar toefl?” tanya Bara tiba-tiba.


“Enggak, itu dulu. Sewaktu aku ikut kegiatan belajar toefl. Waktu mau masuk universitas.” Sambung Ana.


“Selain sayang sama aku, kamu juga suka belajar, ya? Jadi semakin sayang deh, aku.” Puji Bara.


"Gombal, ah."


"Aku nggak gombal, sayang." Tukas Bara.


"Itu kan, kata-kata gombalan."


"Bukan, itu kata-kata dari hatiku yang terdalam."


"Itu bukannya lirik lagu, ya? Yang di populerkan oleh Noah." Ujar Ana tiba-tiba menyambung ke topik lain.


"Yang terdalam, sayang." Ujar Bara lembut. Seraya mengecup lembut kening Ana.


Kemesraan mereka berakhir, saat Arbi datang. Dan mengetuk-ngetuk pintu dengan keras.


"AYAH!" teriak Arbi sembari menggedor-gedor pintu kamar Bara.


Nah kan, pria kecil sudah datang.

__ADS_1


Akankah Arbi mengamuk lagi pada Ayahnya?


Eh.


__ADS_2