Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 86


__ADS_3

Hari menjelang senja, Ana dan Bara sudah kembali ke apartemen mereka. Disana juga ada Gladys serta Arka. Yang masih berada di sana.


Gladys tidak lagi menginap dan menemani Ana. Melainkan hanya kembali mengambil barang-barangnya. Lalu mengemasinya, dibantu juga oleh Arka.


"Baru juga menginap beberapa hari, Dys. Kamu udah mau pulang aja." Ujar Ana sembari ikut membantu memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper Gladys.


"He he, iya. Kan sekarang, Bara udah balik lagi kesini. Masa iya, aku masih diam aja. Gak enak dong, tinggal sama pasutri."


Pasangan Suami Istri, Eh.


"Hm, kamu pengertian banget sih, Dys." Ana terkekeh malu.


"Iya dong, kan kalian juga butuh privasi. Gak enak pastinya, kalau ada aku disini. He he he!" Tutur Gladys spontan.


Arka tidak sengaja mendengar obrolan Gladys dengan Ana.


'Gladys makin bar-bar aja nih.' Gumam Arka dalam hati.


Sementara di kamar, Bara sibuk melihat foto-foto yang ada di dalam album. Ia semakin percaya, bahwa Ana benar-benar Istrinya. Foto-foto mereka begitu banyak. Yang telah di masukkan ke dalam album foto. Ada juga foto Arbi, saat sedang bermain ke apartemen ini.


Foto seorang anak laki-laki, yang begitu mirip dengannya. Tapi sayangnya, Bara benar-benar lupa semuanya. Namun pada sentuhan Ana, ia tidak lupa.


Bukan lupa namanya atuh, kecanduan. Eh.


Di luar, Gladys sudah selesai berkemas. Arka juga sudah tidak enak lama-lama di apartemen Ana. Mengingat Bara yang sudah kembali. Seharusnya ini adalah waktu yang tepat. Untuk mempererat kembali hubungan antara keduanya.


Bagi Ana dan juga Bara.


"Kak, kita pamit dulu, ya. Bara dimana?" ujar Arka pamit pada Ana.


"Iya Ka, Bara ada dikamar. Sebentar ya, aku panggilkan dulu." Tutur Ana menjawab.


"Eh, gak perlu Kak. Gak usah, kayaknya dia capek. Butuh istirahat juga, gak enak ganggu jadinya."


"Iya, An. Udah gak apa-apa, kok. Kita pamit, ya. Jaga diri baik-baik. Salam buat, Suami tercinta. He he he." Sambung Gladys terkekeh.


"Aih, bu dokter genit, ih." Kekeh Ana membalas.


"Ha ha ha, gak apa-apa dong. Melawak dikit, boleh kan?" Gladys tertawa renyah.


"Ya udah Kak, kami berdua pamit. Wassalamu'alaikum." Pamit Arka seraya menarik lengan Gladys ke luar apartemen.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ana.


Ana tersenyum sambil menggeleng pelan. Teringat Bara yang ada di dalam kamar. Karena sejak pulang ke apartemen ini. Bara langsung masuk begitu saja ke dalam kamar. Hingga Arka dan Gladys pulang pun, belum juga keluar.


Krek


Ana membuka knop pintu kamar. Terlihat Bara sedang melihat-lihat album foto. Sambil menyenderkan bahunya di tepian ranjang.


Mendengar pintu terbuka, Bara menengok sesaat. Lalu menutup kembali album foto itu. Pandangannya tertuju pada wanita yang berdiri di belakang pintu.


Kakinya beranjak bangun dari tepian kasur. Dan melangkah berjalan mendekati wanitanya. Tatapannya tak beralih sama sekali.


Ia terus menatap ke mata sedu itu.

__ADS_1


Cup


Bara mengecup lembut bibir Ana. Lalu membawanya ke dalam dekapannya. Kehangatan yang begitu menggebu membuatnya di landa candu.


"Ana..." ujar Bara lembut.


"Hm." Jawab Ana berdehem di dalam dada bidang Bara.


"Aku... nyaman... sayang.." ucap Bara terpotong-potong dengan perkataannya.


"Kenapa? Aku gak dengar." Ana berpura-pura seolah tidak mendengarnya.


"Aku.. sayang."


Ana merenggangkan tubuhnya dalam dekapan Bara. Matanya menatap dalam lelaki yang ada di hadapannya saat ini. Alisnya ia naikkan keduanya. Seolah bertanya apa yang ia ucap tadi.


"Aku.." tutur Bara hanya berkata satu kata. Dan langsung mendaratkan kecupan di bibir manis Ana.


Lama-lama kecupan itu berubah menjadi lum*atan. Wajah cantik Ana di hujani ciuman Bara. Tapi tiba-tiba...


"Sayang stop..." Ana menutup bibir itu dengan kedua tangannya.


"Kamu.. panggil aku sayang?" Bara terpaku mendengarnya. Ana mengangguk malu.


"Terus kenapa menyuruh aku buat berhenti?" tanya Bara bingung.


"Aku.. b-belum ganti baju." Jawab Ana seraya menyeringai.


Pandangan Bara beralih memperhatikan pakaian Ana. Memakai baju gamis panjang dan hijab pashmina berwarna putih. Meski tertutup, masih begitu terlihat cantik.


"Cantik." Ucap Bara seraya tersenyum manis memandang Ana.


Cup


Satu kecupan manis Ana daratkan pada hidung Bara yang bangir. Lalu ia melangkah pergi menjauh dari hadapan Bara. Namun tangannya di tepis olehnya.


"Mau kemana?" tanya Bara. Tangannya bergelayut memeluk Ana dari belakang. Sementara Kepalanya ada di bahu Ana menciumi wajahnya.


"M-mau g-gan.. ah.. sayang.. geli. Eh.. a-aku mau ganti baju." Jawab Ana gerogi.


Aduh buset srepet.. tet.. tet.. tet.


Jomblo minyak. Eh, nyimak maksudnya.


"Disini aja, gantinya." Bara menolak Ana pergi.


"Ng-nggak bisa, bajunya ada di kamar mandi."


"Oh, oke. Aku tunggu di sana." Bara menunjuk ke arah ranjang. Ana mengangguk paham.


Cup


Bara mengecup wajah kanan Ana. Sambil melenggang pergi mendekati ranjang.


"Jangan lama-lama, ya." Ujar Bara lagi.

__ADS_1


"I-iya.. iya." Ana gugup.


'Duh, kenapa jadi gugup begini sih? Bukannya sebelumnya juga udah sering, ya? Aku kenapa, sih?!' Gumam Ana dalam hati.


Eh.


Ana berjalan memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamar apartemennya. Sesampainya di dalam sana, ia mengambil satu baju tidur tipis berwarna merah. Baju tidur sejenisingerie. Yang tergantung disana, baju pembelian Bara.


Iya, dibelinya sampai berlusin-lusin. Buat apa, coba?


Ini bajunya.



Bagus sih, buat di dalam rumah. Iya di dalam rumah aja, An, pakainya.


Eh.


"Duh.. Bara bakalan suka gak, ya?! Aku pakai baju ini. Tapi kan dia juga, yang beli ini. Hufftt!" Gumam Ana.


Beberapa menit kemudian...


Krek


Ana memutar knop pintu kamar mandi. Dengan tampilan beda dari yang tadi. Ia memakai baju lingerie merah. Dengan rambut tergerai berwarna cokelat keemasan.


Bara terpesona melihatnya, ia bahkan tak berhenti mengalihkan pandangannya menatap Ana.


'Itu... Ana?' gumam Bara bertanya dalam hati.


Ya iya atuh, masa mba inces. Eh.


"K-kamu.. kenapa? Aku.. aneh, ya?" tanya Ana gugup. Bara hanya menggeleng tanpa mengedipkan mata.


Dasar biawak! Eh.


Ana berjalan selangkah demi langkah. Mendekati tepian ranjang dengan perasaan di campur aduk. Bagaikan air yang diaduk-aduk pake sirup dan es batu.


Segerrrr! Eh.


Dan sampailah ia menduduki kasur itu. Duduk bersebelahan dengan lelakinya, Bara.


"Kamu.. kok melamun?" tanya Ana bingung.


"Eh.. a-aku? ng-nggak, aku nggak melamun kok, he he." Kekeh Bara gelagapan.


Kenapa? Kaget ya? Ana cantik kalau gak pakai hijab. Eh.


"Hm.. aku.. mau tidur." Tutur Ana seraya menarik selimut tebal yang ada di dekatnya.


"Eh.. k-kamu.. udah mau tidur? Udah ngantuk, ya?" Bara seolah tidak menginginkan Ana tidur.


Ana hanya mengangguk, lalu merebahkan kepalanya di bantal empuk itu. Bara menjadi salah tingkah melihatnya.


'Hah? Ini malam pertamanya gak jadi?' Gumam Bara kecewa.

__ADS_1


Aduh buset srepet.. tet.. tet.. tet.


Bersambung...


__ADS_2