Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 109


__ADS_3

Musim telah berganti, dan waktu semakin berlalu. Daun-daun berguguran di sepanjang jalan. Lima bulan sudah lamanya. Pernikahan Gladys dan Arka berjalan. Dan kehamilan Ana, semakin membesar.


Mungkin sekarang sudah memasuki bulan ke delapan. Karena hamil kembar, membuat perut Ana lebih besar dari pada usia kehamilan pertama. Saat hamil Arbi pada waktu lalu.


Di apartemen Ana & Bara. Kedua pasangan itu sepertinya tengah bersih-bersih. Lebih tepatnya hanya Bara seorang diri. Sementara Ana hanya melihat dan memperhatikan.


“Sayang, hati-hati!” ujar Ana pada Bara. Yang sedang menggeser lemari.


“Iya, kamu tenang aja, sayang. Aku kuat, kok.” Jawab Bara sok kuat.


Beberapa lemari kecil lainnya sudah kembali di tempatkan seperti semula. Dan dalam keadaan bersih tak berdebu. Namun, ada satu lemari lagi. Yang ukurannya lebih besar. Juga tak mudah untuk di pindahkan.


Bara tampaknya begitu kesulitan, saat memindahkannya lagi. Ana sangat khawatir, bila sesuatu terjadi pada Suaminya itu. Meski sudah diperingatkan, bukan berarti tidak akan terjadi, bukan?


“Sayang awas!!” teriak Ana pada Bara dengan panik.


BRAK!


Bara terjatuh tertindih oleh lemari besar itu. Ana berjalan cepat sembari memegangi perut besarnya. Dengan kepanikan tinggi, menghampiri Bara yang tergeletak di bawah lantai. Sepertinya benda besar tadi mengenai kepala Bara. Hingga menyebabkan benturan kecil di dahinya.


Dahi Bara mengeluarkan sedikit cairan berwarna merah. Ana terkejut bukan main.


“Sayang!!” tutur Ana langsung memangku Bara di pangkuannya. Tapi kelihatannya lelaki itu justru malah cengengesan tidak jelas.


Aih! Apa dia mengalami gegar otak lagi?


“Kamu kok malah ketawa, sih? Aku panik, tahu! Kalau kamu kenapa-kenapa, gimana? Aku sama siapa, Bara?! Kamu tuh, ya?!” celoteh Ana mengomel dengan wajah sedunya. Air mata luruh di sudut mata Ana.


“Aku nggak apa-apa, sayang. Eh, kamu menangis? Duh, aku jadi merasa berdosa.” Sambung Bara sambil mengusap air mata Ana.


“Kamu tuh, sukanya bikin orang khawatir. Kalau kamu kayak waktu itu lagi gimana? A-aku juga yang s-sedih. Hiks... jahat kamu, tuh!” balas Ana sesenggukan. Bara tercengang seketika. Kedua alisnya terangkat menatap Ana dari bawah. Dan langsung berubah posisi menjadi duduk.


“Kayak waktu itu? Memangnya aku kenapa?” tanya Bara kepo.


Kepo, dalam artian kepingin tahu. Eh!


“Kamu kecelakaan. Gara-gara itu, kamu hampir menikah lagi dengan Sofie. Gimana kalau seandainya itu terjadi, aku jadi menjanda. Tapi untungnya Arka selalu ada buat aku.” Jelas Ana. Mendengar itu, Bara tampaknya kebingungan. Tidak mengerti apa yang diucapkan Ana. Namun pada kata-kata terakhirnya, ia agak kesal mendengarnya.


“Aku masih belum paham. Aku kecelakaan? Hampir menikah lagi? Sofie? Siapa itu Sofie? Aku nggak kenal, sayang. Dan lagi, Arka selalu ada buat kamu? Aku minta maaf, kalau aku banyak salah dan sering nyakitin kamu. Terlebih lagi, pada saat kamu hamil Arbi. Aku justru malah pergi ke Aussie. Maaf, aku belum bisa jadi Suami yang baik dan sempurna untuk kamu.” Balas Bara tertunduk sedu. Tak berani menatap Ana karena rasa penyesalannya.


Ana menyentuh wajah Bara lembut, sambil menatapnya dalam-dalam.


“Sayang... kamu benar nggak ingat apa pun?” tutur Ana berbalik tanya. Bara mendongak, dan mengangguk pelan. Ana sontak langsung memeluknya erat.

__ADS_1


“Sayang, memangnya aku kenapa? Kok kamu tanya nya gitu melulu, sih?” tanya Bara dalam dekapan Ana.


Ana menyadari perubahan Bara saat ini. Mungkinkah, ingatannya telah kembali?


“Kita ke rumah sakit, ya?! Sekalian, aku mau USG bayi kita. Terakhir USG itu waktu awal-awal kehamilan. Belum berbentuk bayi, tapi sekarang sudah membesar. Aku jadi penasaran, deh.” Ujar Ana setelah melepas pelukannya. Mengajak Bara untuk pergi ke rumah sakit. Sembari mengelus lembut perut besarnya. Bara tersenyum kecil, dan ikut mengelus perut Ana.


“Aku juga, mau lihat baby twins kita yang gemas.” Balas Bara seraya mengecup lembut perut besar Ana.


Cup!


Ana mengelus lembut rambut Bara.


“Iya, sayang. Eh, kamu... ingat?” Ana lagi-lagi mengetes ingatan Bara.


“Ingat? Maksud kamu, baby twins? Iya dong, kan aku sendiri, yang menyuruh perawat di rumah sakit waktu itu. Yang mengecek kondisi perut kamu. Kalau nggak ada aku, pasti dokter lelaki itu yang bakal USG perut kamu. Huh, untungnya aku disana. Dia nggak bisa ambil kesempatan itu, deh.” Celoteh Bara.


Ana terkekeh kecil mendengarnya.


Untuk beberapa saat, Ana menikmati cerita Bara. Sambil sesekali mengelus lembut wajah tampannya. Hatinya terenyuh, saat menyadari perubahan perilaku Bara. Setelah tertimpa lemari pada beberapa menit sebelumnya.


‘Bara, akhirnya ingatan kamu kembali’ gumam Ana dalam hati.


.........


Alasannya karena sang Nenek kesepian, dan rindu pada sang cucu. Dan hubungan Arbi juga lebih membaik dan lebih dekat dengan Neneknya. Tiap kali pulang ke apartemen, Arbi selalu menceritakan kegiatannya dengan Nyonya Kertajaya. Yang sering mengunjungi tempat-tempat wahana permainan, juga kuliner-an bersama sang Nenek.


“Sayang, kamu melamun?” suara Bara menghentikan lamunan Ana. Saat ia mengingat-ingat cerita Arbi.


“Eh, i-iya, sayang. Tiba-tiba aku kangen Arbi. Kita jarang menghabiskan waktu dengannya.” Tutur Ana sedu.


“Arbi juga mengerti kok, sayang. Bundanya sedang hamil Adik bayi. Yang penting kan, hubungan kita berdua terus intim dan nggak merenggang, bukan?” ucap Bara seraya mengedipkan sebelah matanya. Akhirnya gombalan maut pun datang lagi.


Iya, sepertinya ingatan raja gombal sudah pulih. Antara senang atau kesal. Yang pasti, penulisnya juga ikutan senang. Eh!


“Sayang... kamu tuh, nggak tahu tempat, ih!” bisik Ana sembari mencubit kecil lengan Bara.


“Awh, sakit sayang!” keluh Bara memasang wajah melas.


“Kamu nakal, sih.”


“Kan, nakalnya sama kamu doang. Gimana sih, sayangku ini.” Ujar Bara berbisik sembari mengelus lembut perut Ana. Sementara wajahnya ia senderkan pada bahu Ana. Dan keduanya duduk sambil menunggu antrean nomor rumah sakit.


Beberapa saat kemudian...

__ADS_1


“Pasien bernama Ana!” panggil sang perawat.


Bara langsung beranjak bangun dan membantu Ana berdiri. Keduanya kini berjalan memasuki ruangan yang penuh dengan alat medis. Juga tak jauh dari bau obat-obatan serta alkohol. Bara tak melepaskan genggaman tangannya dari jari jemari Ana.


Sang perawat tampaknya menyadari, kebucinan pasangan Suami Istri itu. Hingga membuatnya tersenyum kecil menahan tawa. Entah apa yang dipikirkan perawat wanita tadi. Yang jelas, Bara tak peduli.


Karena baginya, kebahagiaannya hanya tertuju pada Ana. Untuk apa juga, peduli pada perhatian orang lain? Kalau dirasa senang, mengapa harus risih?


“Selamat sore, Ibu Ana. Bagaimana kabarnya? Sudah lama sekali, ya. Baru datang memeriksa lagi.” Ujar sang dokter itu pada Ana.


Dokter yang sama, dan tidak berubah.


“Selamat sore, dok. Iya, sudah berbulan-bulan, ya.” Jawab Ana ramah. Tapi salah seorang di sebelahnya merasa kesal. Dengan sambutan hangat itu.


Iya, Bara cemburu. Sebab dokternya lelaki dan juga, tampan. Eh!


“Langsung ke intinya saja, dok!” sanggah Bara.


“Hm, baik. Mau periksa kehamilan dulu atau cek kondisi kesehatan Suaminya ya, Ibu Ana?” tanya dokter tampan itu.


“Periksa kesehatan Suami dulu saja, dok. Soalnya aku agak khawatir juga.” Balas Ana. Bara yang awalnya menatap tajam sang dokter langsung beralih menatap Ana. Disertai getaran hati yang berdebar dengan senyum kecil di bibirnya.


‘Ana khawatir, sama aku? Ah, sayangku.’ Gumam Bara dalam hati.


“Baik, kalau begitu kita mulai sekarang, ya. Maaf, Mas nya boleh pindah ke ranjang sana? Sembari menunggu pemeriksaan dari saya, Mas Bara akan di cek tensi darahnya oleh suster Emma.” Lanjut dokter berkata. Anehnya, Bara menurut saja.


“Ayo sayang, kita pindah kesana!” tutur Ana mengajak Bara. Lelaki itu pun mengangguk pelan.


Bara duduk di atas ranjang rumah sakit itu. Ditemani Ana di sisinya. Detik kemudian, suster Emma datang menghampiri keduanya. Sembari membawa alat tensi darah ditangannya.


“Sayang, kok aku dipanggil Mas, sih?” Gerutu Bara dengan suara pelan. Hal itu membuat Ana terkekeh kecil seraya mengusap lembut wajah Bara.


“Soalnya wajah kamu nggak cocok disebut, Bapak-bapak.” Jawab Ana disertai tawa kecil.


“Iya juga, ya. Tapi kan, kamu dipanggil Ibu. Harusnya panggil aku Ayah si bayi at...” di saat Bara bertanya lagi, suster Emma langsung memotong obrolan keduanya.


“Maaf, pengecekan tensi darahnya bisa dilakukan sekarang?” tutur suster Emma ketus.


“Bisa, sus.” Balas Ana yang menjawabnya.


Entah ada apa dengan sang suster itu. Wajahnya sangat tidak ramah. Apalagi setelah Ana menjawab ucapannya.


Suster Emma mulai memasang alat tensi darah di lengan Bara. Dari pandangannya, suster itu tampaknya menyukai Bara. Ana bisa melihat dari raut wajah suster Emma. Tapi Bara tak menyadari itu. Karena wajahnya tak beralih ke arah lain. Melainkan terus menatap dan memperhatikan ke wajah sang Istri dengan senyumnya yang menyeringai.

__ADS_1


Dasar, Bara! Eh.


__ADS_2