
Suara ayam berkokok, menandakan telah terbit waktu fajar. Jam dinding menunjukkan sudah pukul 04.00 pagi. Bara membuka kedua matanya. Dilihatnya seseorang yang masih terlelap di sisinya. Matanya masih terpejam kuat. Dan tangannya masih bergelayut manja memeluk lengan Bara.
"Sayang...." ujar Bara dengan suara khas orang bangun tidur.
Satu kecupan manis ia berikan di kening Ana. Satunya lagi di .....
pembaca pasti tahu, dimana. He he he.
Ana menggeliat, merasakan ada sesuatu yang menyentuh area wajahnya. Tangannya menggerayangi sesuatu di dekatnya. Dada bidang Bara menjadi sasarannya.
Bara terkekeh pelan, melihat tingkah Ana yang masih setengah sadar dari tidurnya. Bukannya bangun, dan melaksanakan ibadah subuh. Tapi Bara malah mengeratkan dekapannya pada Ana.
Hingga Ana merasakan sesak pada pernafasannya.
"Hm.... Aku gak bisa napas!" tutur Ana masih dalam mata yang terpejam.
Bara merenggangkan pelukannya. Ana terbangun, dan membuka kedua matanya.
"Udah bangun? Yuk, mandi!" tanya Bara seraya mengajaknya untuk membersihkan diri.
"Gendong." ujar Ana menjawab.
Tumben, Ana jadi manja. Biasanya bukannya Bara, ya? Eh.
"Morning kiss nya mana dulu?" ucap Bara.
Ana mendekatkan jaraknya pada Bara.
Cup.
Satu kecupan manis, mendarat di bibir Bara. Yang di cium cengar-cengir tidak jelas. Wajahnya memerah bak tomat yang baru saja matang di pohonnya.
"Ih, wajahmu memerah." Ledek Ana pada suaminya.
"Kamu jahil, ya." Bara mencubit pelan hidung Ana.
"Ayuk, katanya mau mandi?!" Ana mengerucutkan bibirnya.
Tahu, nih. Kapan mandinya? Kalau bercanda terus. Eh.
"Yuk, sayang!" ajak Bara seraya menggendong Ana ala bridal style, membawanya ke dalam kamar mandi secara bersamaan.
Satu jam sudah, mereka berada di dalam sana. Melakukan beberapa ritual mandi seperti biasanya. Tak lupa juga melakukan mandi besar. Dan berwudhu di akhir ritual mandinya.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian. Keluarlah Ana lebih dulu. Di susul Bara, yang mengekor di belakangnya. Dengan cepat, mereka menggelar dua sajadah. Ana bersiap memakai mukena. Sementara Bara hanya menggunakan kaos oblong, sarung, serta peci. 😁
Beberapa saat kemudian, setelah melakukan ibadah subuh. Ana mencium punggung tangan Bara. Begitu pun sebaliknya. Bara mengecup lembut kening Ana. Dan begitu juga Ana, melakukan sebaliknya.
Romantisnya, mereka. Eh.
"Sayang, besok-besok kamu sholat subuhnya, di Masjid aja, ya?" ujar Ana, mengeluarkan suara lebih dulu.
"Terus, kamu sendirian dong? Aku gak mau ninggalin kamu disini, sendirian."
"Aku gak apa-apa, kok. Lelaki itu, wajib untuk melakukan ibadah di Masjid. Sementara wanita, tidak diwajibkan."
"Hm... tapi aku gak tega, sama kamu." Bara memasang raut wajah sedu.
"Kan hanya sebentar aja, sayang," ucap Ana lembut seraya memeluk erat Bara.
Bara akhirnya pun, luluh.
"Hm.... ya udah, iya. Aku paham, sekarang," tutur Bara menjawab, sembari mengelus pundak Ana.
"Kamu hari ini ke kantor, gak? Kalau masih capek, di apartemen aja, ya? Aku gak mau kamu kelelahan sewaktu di kantor nanti." ujar Bara. Tangannya menggenggam jemari Ana, dan mengusapnya lembut.
"Tapi aku bosan, kalau di sini sendirian. Kamu pulangnya sore, kan," jawab Ana sedu.
"Iya, jangan. Kasihan Gladys, dia sekarang juga sibuk banget, sama jadwalnya yang padat." Ana memainkan jari jemari Bara.
Seperti Arbi dulu, sewaktu mereka masih tinggal bertiga. Di rumah yang lama.
Arbi sedang apa, ya?
Bara menghela napas panjang. Ia mengernyi sebentar. Memikirkan solusi yang tepat untuk Ana. Seandainya mereka tinggal bersama di rumah utama, Ana mungkin tidak akan kesepian. Banyak para pelayan yang akan menjaganya.
Dan juga, ada Arbi yang akan selalu berada di sisinya. Senantiasa menemani Bundanya.
Tertiba saja, Bara merindukan bayi kecil itu. Ia rindu akan sentuhan lembut jemari kecil Arbi. Rindu juga, akan suasana rumah yang pernah mereka tempati bersama.
Rindu akan kehamilan Ana juga. Bara merindukan masa-masa itu, lagi. Tak sabar ia menantikan kehamilan Ana yang kedua. Semuanya sudah ia pikirkan dengan matang. Kalau nantinya Ana akan hamil lagi.
Mengenai kuliah Ana, Bara akan mengajukan kuliah daring dari rumah. Dan lagi, Bara sepertinya membutuhkan asisten. Untuk menghandle setiap pekerjaannya. Ia tak ingin terus menerus sibuk dengan kerjaannya. Tapi Bara juga ingin mengutamakan Ana. Dan memberikan perhatian lebih padanya.
Kira-kira siapa, yang akan menjadi asisten Bara kali ini?
..._______________________...
__ADS_1
Sementara di kantor Arya.
Suasana di kantor Arya. Sama seperti biasanya. Tak ada yang berubah dari sana. Bahkan ada dua orang karyawan yang mengundurkan diri. Semenjak keluarnya Bara dari perusahaannya berdiri.
Arya masih belum mengetahui, siapa pendiri dari perusahaan BARNA Corp. Perusahaan yang baru-baru ini terdengar, di dunia perbisnisan. Yang berkembang maju begitu pesat dalam tempo waktu yang cukup singkat. Arya bahkan merasa telah di lampaui jauh oleh perusahaan itu.
"Cari tahu, siapa pendiri dari perusahaan BARNA!" perintah Arya pada asistennya.
"Baik, Tuan."
Di sisi lain, Arya masih belum berhenti melupakan Ana. Perasaannya masih ada, sampai dengan saat ini. Rasa rindunya pada Ana menjadi tak karuan. Hilangnya Ana dan Bara secara bersamaan, membuat Arya semakin khawatir tidak jelas.
Arya bahkan sulit menghubungi Adiknya, Arka. Berniat untuk mencari tahu, informasi mengenai Ana. Karena hanya Arka, yang pandai dalam meretas data. Apalagi mencari tahu keberadaan Ana.
Arka ahlinya dalam hal ini. Makanya, keluarga Buana masih membutuhkan Arka. Meskipun selama ini, kedua orang tua mereka lebih menyayangi Arya. Terutama dalam segi prestasinya. Tapi mereka juga sebenarnya menyayangi putra kedua nya.
Mungkinkah, selama ini Arka yang salah paham, terhadap keluarganya?
Entahlah.
...............
Di kediaman Kertajaya.
Pencarian mengenai Bara terus dilakukan. Meskipun tidak juga membuahkan hasil. Tapi pencarian itu tidak boleh di hentikan. Tuan besar terus mengancam mereka semua, para pengawal beserta asistennya. Kalau juga tidak menemukan Bara, maka hidup keluarga mereka akan hancur berantakan.
Kejamnya!
Mengenai pernikahannya dengan Bara, yang tak juga berhasil. Farah berniat untuk menggoda Tuan besar. Hanya demi mendapatkan harta dan kekayaan dari Kertajaya Group.
Dasar licik!
"Kalau anaknya tidak bisa kudapatkan, setidaknya Ayahnya bisa. Ha ha ha," ucap Farah seraya tertawa jahat.
Farah masih berada di kediaman Kertajaya. Bahkan dirinya enggan untuk pergi dari sana. Beruntung, keluarga itu masih mengizinkannya tinggal di rumah utama. Kalau bukan karena Bara, Tuan besar bahkan tidak sudi, menampung wanita itu disana.
Diantara Tuan besar dengan Farah, keduanya sama-sama ingin mengambil keuntungan.
Tuan besar ingin memanfaatkan pernikahan putranya dengan Farah. Hanya untuk masalah bisnisnya. Sementara Farah, ingin menguasai harta dan kekayaan dari Kertajaya Group.
Mau bagaimana pun rencana mereka. Bara sudah tidak takut dengan ancaman dari keluarganya. Bahkan sekarang, Bara telah mendirikan perusahaannya sendiri. Yang baru saja berdiri beberapa bulan belakangan. BARNA Corp, bahkan telah melonjak maju dan berkembang pesat. Meski hanya dalam waktu yang cukup singkat.
Bersambung...
__ADS_1