
Sudah dua bulan berlalu, cuti yang diberikan kantor untuk Bara telah habis. Dan kembali bekerja di kantor Arya seperti biasanya. Namun tampaknya mereka berdua kewalahan dalam mengurus bayi. Apalagi Ana juga harus tetap melanjutkan kuliahnya. Mau tidak mau, Arbi harus dititipkan pada baby sitter untuk sementara waktu.
“Kamu yakin sama keputusan ini sayang?” Tanya Bara seraya bersiap berangkat ke kantor pagi ini.
Sementara Ana tengah menggendong Arbi dan menghabiskan masa cuti terakhirnya sampai esok hari.
“Iya sayang. Aku gak mungkin kan terus terusan cuti buat jaga Arbi dalam waktu 24 jam. Untuk sementara sampai aku lulus.” Ucap Ana memohon.
Mau tidak mau Bara pun setuju dengan idenya Ana.
“Fiuh, ya sudah. Buat kamu, apa sih yang enggak?” Tutur Bara sambil mengecup lembut kening Ana.
“Kalau begitu, aku pergi dulu. Kamu baik-baik dirumah sama Arbi. Jangan kemana-mana, dan jangan buka pintu kalau bukan aku yang datang.” Jelas Bara padanya.
Sudah seperti seorang Ibu yang mengoceh pada anaknya bila saat ditinggal pergi keluar. Hiya hiya hiya!
“Iya sayang, aku paham.” Jawab Ana singkat.
“Kok gitu doang sih respons nya?” Memangnya apalagi Sasuke?
“Maksud kamu? Kamu mau aku jawab apa memangnya?” Ana tampak bingung.
“Morning kiss nya mana? Kamu lupa ya?” Tanya Bara. Kapan dia ngomong?
Tanpa basa-basi, Ana langsung mengecup lembut b*b*r Bara. Warna merah merona tiba-tiba muncul di wajahnya yang masih terbilang cute. Bara rasanya tidak tega, harus meninggalkan Ana dan Arbi untuk bekerja. Pikirannya teringat langsung dengan perusahaan raksasa milik keluarganya. Tanpa perlu bekerja lebih keras, ia dapat memiliki banyak fasilitas yang diberikan oleh keluarganya.
“Sayang, kamu melamun? Jadi ke kantor gak?” Ucap Ana menyadarkan Bara dari lamunannya.
“Eh, i-iya sayang. Ini mau berangkat sekarang. Aku pergi dulu.” Jawab Bara seraya mencium Ana dan Arbi.
Bayangan pundak Bara mulai menjauh dari halaman rumah. Ia jalan kaki untuk sampai ke tepi jalan raya. Karena disekitar area perumahan tidak ada angkutan umum yang lewat. Kalau menaiki ojek online, mau tidak mau harus mengeluarkan biaya lagi. Sementara hidupnya sekarang harus lebih ekstra hemat kata Ana.
Selama lima belas menit Bara berjalan untuk sampai ke depan tepi jalan raya. Memang sudah rezekinya, baru saja sampai dan berniat untuk menunggu. Langsung tiba bus yang akan berangkat ke arah tujuannya. Untuk sampai ke kantor Arya, Bara harus menempuh perjalanan selama satu jam tiga puluh menit. Menambah waktu setengah jam perjalanan, tidak seperti saat mereka masih tinggal di kosan waktu lalu.
Bara menaiki bus itu dengan wajah yang gusar. Raganya ada disana namun pikirannya kembali ke rumah. Khawatir yang berlebihan pada Ana dan juga Arbi. Ia takut akan sebentar lagi kebohongannya dengan Ali akan diketahui oleh keluarganya. Apa yang harus aku lakukan? Gumam Bara dalam hati.
...-...
Mobil bus yang melaju ke arah tujuannya telah tiba. Tepat berada di depan kantor Arya. Langkah kakinya berjalan mendekati gedung bertingkat itu.
__ADS_1
Pun sudah ada security yang sedang berjaga dan bertugas di depan pintu masuk. Tanpa basa basi lagi, Bara langsung masuk begitu saja tanpa memedulikan kedua security yang sedang berjaga.
“Dasar karyawan belagu! Belum aja dia dipecat sama Pak Arya, huh!” Umpat salah seorang security itu.
“Husss! Jangan sembarangan ngomong, kalau Pak Arya dengar kita juga bisa dipecat, slur!”
“Halah, Pak Arya juga gak suka sama orang itu. Toh kita juga sudah lama bekerja dikantor ini.”
“Udah, daripada gibah mendingan kita minum kopi.” Sanggah security yang satu lagi, berniat untuk mengakhiri obrolannya dengan sesama teman security nya.
Dasar security gak ada akhlak.
Suasana kantor yang agak berbeda dari sebelumnya. Terlihat lebih ramai akan karyawan yang sedang menjalankan tugasnya. Tunggu, meja kerja siapa yang ada di sebelah meja kerja Bara?
“Meja kerja siapa ini?” Gumam Bara dalam hati sembari memperhatikan.
Seperti meja kerja karyawan wanita. Sejak kapan Arya memindahkan meja kerja itu ke sebelah Bara?
“Kenapa? Kaget ya?” Tanya Arya yang tertiba datang. Bara menatap tajam Arya.
Rencana apa lagi yang akan dia lakukan?
Safira? Siapa dia?
“Safira gak suka dengan kata ‘tidak’. Jadi, jangan buat dia marah.” Bisik Arya sembari pergi menepuk pelan pundak Bara dan pergi memasuki lift untuk kembali ke ruang kerjanya.
Apa maksud dari perkataannya tadi?
Bara tak peduli dengan ucapan Arya. Ia justru langsung mengerjakan laporan keuangan yang menumpuk di meja kerjanya. Berharap agar cepat selesai agar bisa pulang tepat waktu.
Di tengah kesibukannya Bara, mengerjakan tugas laporan yang diberikan oleh kantor. Tiba-tiba datang seorang wanita muda menghampiri meja kerjanya Bara.
Tak sadar akan kehadiran seorang wanita muda dan cantik yang sedari tadi memperhatikannya bekerja.
“Hm..... rajin banget ya, kamu.” Ucap wanita itu. Bara sadar akan suara itu.
Sontak ia melihat ke arah sumber suara.
Tak ada jawaban yang di lontarkan oleh Bara padanya. Hanya tatapan tajam penuh makna dari sorotan matanya menatap wanita itu.
__ADS_1
“Jutek banget sih! Kamu gak kenal siapa aku? Bukannya Arya sudah memberitahumu kalau aku akan jadi asistenmu mulai saat ini. Hm....” Tuturnya sembari duduk di kursi meja kerjanya. Yang berjarak hanya beberapa sentimeter dari meja kerjanya Bara.
Jadi dia, yang namanya Safira.
Bara menduga alasan Arya mengirimkan wanita itu untuk jadi asistennya agar bisa menggoda dan mendekatinya. Dengan begitu, ia jadi lupa akan tanggung jawabnya sebagai Suami Ana. Dan Arya dengan sok pahlawannya datang memberikan semangat serta bantuan pada Ana. Agar Ana bisa memilihnya dan meninggalkan Bara.
Dasar licik.
“Bara.. kok diam aja sih? Perlu bantuan gak? Aku bantu ya?” Tanya Safira dengan nada manja nya.
Hening tak ada suara tanggapan lagi dari Bara.
Emosi karena tak di tanggapi oleh Bara, Safira mengambil inisiatif untuk menghampirinya langsung. Berniat untuk menggoda dan memberikan pijatan kecil pada Bara.
“Bara.... kamu pasti capek ya? Aku pijat-in ya?” Ucapnya sembari bergelayut manja di pundak Bara. Dasar pelakor, perebut laki orang.
Seketika Bara teringat kata-kata Arya tadi pagi. Arya mengatakan “Safira gak suka dengan kata ‘tidak’. Jadi, jangan buat dia marah.”
Apa maksud dari perkataannya itu?
“Pergi!” Usir Bara pada Safira.
“Kamu usir aku? Ayolah, aku Cuma mau main-main aja. Kamu juga gak akan menolak bukan?”
“Gua bilang pergi ya pergi! Lo punya kuping gak?!” Bentak Bara menggertak padanya. Safira terlonjak kaget mendengar penolakan dari Bara yang berani membentak dirinya.
“Oke!” Balasnya singkat dan berlalu lalang pergi meninggalkan Bara seorang diri.
“Lihat saja, aku akan buat kamu tergila-gila padaku! Juga menghancurkan pernikahanmu dengan Istrimu, Ana. Ha ha ha!” Gumam Safira dalam hati dengan rencana jahatnya.
.........
Di Aussie sana, penyamaran Ali sebagai Bara mulai di curigai oleh Farah. Begitu pun dengan Tn. Kertajaya yang juga mencurigainya. Tak pernah sebelumnya putranya diam-diam mengambil keuangan kantor perusahaan. Apalagi Bara yang ia ketahui sejak menikah dengan Farah, tak pernah bekerja pada perusahaan. Kecurigaannya terhadap Bara semakin besar tertanam.
Mungkinkah udah saatnya Bara kembali pada perusahaan raksasa milik Kertajaya? Bagaimana dengan Ana dan juga Arbi? Bagaimana jika kedua orang tua Bara mengetahui kalau putranya telah memiliki seorang anak?
Apakah mereka akan menerima Ana dan juga Arbi? Atau justru hanya menerima Arbi sebagai penerus bagi perusahaan Kertajaya.
Lantas bagaimana dengan Ana?
__ADS_1
Bersambung...