Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 152


__ADS_3

Di tengah asyiknya games dan challenged yang sedang di lakukan oleh teman-teman sekelasnya, Tasya justru menarik-narik tangan Arbi. Mengajaknya berjalan menjauh dari mereka semua. Dan sekarang, kedua cipung kecil itu berada di dekat pintu masuk rumah utama.


"Apa sih?! Aku tidak suka di tarik-tarik, tahu!" Ucap Arbi kesal.


"Kamu kenapa tidak mau membuka kado nya? Kenapa tidak sekarang saja buka nya?" Tanya Tasya. Lagi-lagi membicarakan tentang kado itu.


Sebenarnya ada apakah gerangan, kawan? Sampai sebegitu nya Tasya memaksa Arbi. Agar mau membuka kado itu saat ini juga.


"Aku kan, sudah bilang. Aku tidak mau ya tidak mau! Kamu kenapa memaksaku?!" Sergah Arbi menolak.


HAP!


Tiba-tiba saja, Tasya memeluk Arbi. Membuat cipung kecil itu tergelak kaget tak percaya.


"Hei, kenapa kau memelukku? Lepas!" Tukas Arbi tak suka.


Wah, bau-baunya ada yang sedang kasmaran.


Cinta monyet, maksudnya.


Eh.


"Kamu harus buka dulu, kado dari ku." Ujar Tasya memaksa.


"Memangnya ada apaan, sih? Isi di dalam kado itu?" Tanya Arbi kesal.


"Ada sesuatu."


"Ya apa?"


Di saat Arbi mencoba melepaskan dirinya dari jeratan Tasya, Ana tak sengaja melihat kedua anak-anak itu saat ia hendak mencari-cari Arbi. Yang tiba-tiba menghilang dari pesta.


Kedua mata Ana tergelak kaget dan melotot tak percaya. Dengan apa yang ia lihat sekarang. Malaikat kecilnya tengah berpelukan dengan gadis kecil.


'Astaga, Arbi!' Gumam Ana dalam hati terkejut.


Langkah kaki Ana terus berjalan maju mendekati mereka berdua.


"Tasya! Arbi!" Panggil Ana.


Kedua anak itu tampak tergelak kaget juga. Saat mendengar suara panggilan Ana.


"B-Bunda...?" Ucap Arbi takut.


Sementara itu, Tasya terlihat tertunduk malu. Tak berani menatap Ana dari jarak berdekatan seperti biasanya.


"Kalian habis ngapain? Kenapa peluk-peluk begitu? Arbi? Ayo jawab, Bunda." Ujar Ana menginterogasi pada cipung kecilnya.


"Aku juga tidak tahu, Bunda." Tutur Arbi sedu.


Nah, loh?

__ADS_1


"Tidak tahu? Kok, tidak tahu?" Tanya Ana lagi. Perasaan nya mendadak berubah ketar-ketir tidak jelas.


"Tasya tiba-tiba begitu padaku, Nda. Aku tidak tahu harus bagaimana. Tangannya mencengkeram kuat tubuhku. Saat aku mencoba melepaskan nya." Gumam Arbi seraya tertunduk sedu.


Dalam hati, Ana merasa lega. Karena tidak terjadi sesuatu hal yang buruk, ternyata.


Dan sekarang, Ana beralih menatap Tasya.


"Tasya, coba jelaskan pada Bunda Arbi. Kenapa Tasya memeluk Arbi seperti tadi?" Kali ini giliran gadis kecil itu. Yang di interogasi oleh Ana.


"M-maaf... Bunda Ana. Arbi tidak mau membuka kado dari ku. Karena itu aku... memeluknya dengan paksa." Tutur Tasya sambil menundukkan kepala nya ke bawah.


"Bunda hampir saja berpikir yang tidak-tidak. Arbi... hiks... Bunda khawatir sama kamu, sayang." Ucap Ana disertai tangis kecil. Tangannya lalu mendekap Arbi dengan sangat erat.


Tangis Ana luruh di dalam pelukan sang cipung kecil itu.


"Bunda jangan menangis. Kalau Bunda menangis, aku juga jadi menangis. Wu... wu... wu.." tutur Arbi sedu.


"Bunda mencemaskan kamu, sayang. Ingat kan, dengan kata-kata Bunda waktu lalu?" Tanya Ana, merenggangkan pelukannya sambil menatap nanar Arbi.


Anak itu mengangguk pelan.


"Apa yang Bunda katakan waktu itu?"


"Jangan bersentuhan dengan siapa pun. Terkecuali pada Ayah, Bunda, dan adik-adik ku." Jawab Arbi dengan suara kecilnya.


Mendengar itu, senyum Ana mengukir mengembang. Bersamaan dengan kehadiran Bara yang tiba-tiba datang sembari berlarian mendekati mereka bertiga.


"Ana, Arbi?! Aku mencari kalian di dalam sana. Pantas saja tidak ada. Rupanya ada disini." Ujar Bara dengan napas yang terdengar memburu.


Ana lantas menggeleng pelan.


"Tidak ada, aku baik-baik saja. Kita masuk lagi ke dalam, yuk! Tasya, ayo sayang." Ana berdalih. Seraya mengajak Tasya dan Arbi kembali ke dalam sana.


Bara kebingungan dengan kejadian barusan. Ia tahu, bahwa Ana tengah mengalihkan topik padanya.


'Nanti kucoba tanyakan lagi' gumam Bara berkata dalam hati.


Di sisi lain, Tasya merasa bersalah pada Ana. Karena sudah membuatnya menangis. Gadis itu bingung, Ana tidak memarahinya. Mata kecilnya terus memperhatikan gerak-gerik Ana. Yang sibuk menyuapi kue ke dalam mulut Arbi.


Cipung kecil itu tampaknya begitu menikmati perhatian yang di berikan Ana padanya. Namun, sorot mata kecilnya menyipit. Dan menatap ke arah Tasya, dengan tatapan tajam.


____________


Pesta ulang tahun telah selesai. Para pelayan di rumah utama terlihat sibuk membereskan semuanya. Juga dengan teman-teman sekelas Arbi yang sudah di antarkan kembali ke rumah mereka masing-masing. Sementara itu, Ana dan Bara tampak mengobrol serius di dalam kamar mereka.


Tak ada Arbi maupun kedua bayi kembar di dalam sana. Karena kamar baby twins sudah di pisahkan. Dan di satukan bersama dengan Arbi. Si cipung kecil itu.


"Sayang... tadi kamu kenapa, hm?" Tanya Bara lembut. Tangan nya menyentuh jari jemari Ana.


"Aku takut..." gumam Ana membalas.

__ADS_1


"Takut?"


Spontan, Ana mengangguk pelan.


"Takut kenapa? Arbi melakukan kesalahan?" Ucap Bara bertanya lagi.


"Hampir melakukan kesalahan." Balas Ana sedu. Matanya terlihat berkaca-kaca.


Cup!


Bara mendaratkan sebuah kecupan lembut pada kening Ana.


"Memangnya Arbi melakukan apa? Sampai kamu jadi takut begitu."


"Arbi dan Tasya... mereka berpelukan tadi. Aku takut, kedua anak itu... hiks... aku takut, sayang. Aku tidak mau Arbi mengetahui hal-hal diluar dari usianya." Tutur Ana sedu. Tangisnya terdengar meringis.


"Maksud kamu... Arbi dan Tasya berpelukan layaknya kedua pasangan?" Ujar Bara bertanya, mengulangi ucapan Ana tadi.


Ana lantas mengangguk pelan.


"Aku juga tidak bisa menyalahkan kedua anak itu. Bagaimana pun, mereka juga masih anak-anak. Apalagi Tasya, aku tak bisa memarahinya karena dia yang lebih dulu memeluk Arbi." Celoteh Ana menjelaskan kejadian detail nya.


"Jadi semua itu bermula dari anak itu? Hm..." gumam Bara.


"Aku... takut. Arbi dewasa sebelum waktunya. Dia masih sangat kecil." Lanjut Ana berucap.


"Sayang, don't worries! Aku akan memindahkan sekolah Arbi ke tempat lain. Atau pula, kita pindahkan sekalian ke Aussie? Bagaimana?" Usul Bara.


Mendengar itu, Ana lantas menggeleng cepat.


"Aku tidak setuju, bila Arbi harus mengenyam pendidikannya ke LN di usia dini." Sergah Ana menolak.


"Ya sudah, kalau begitu Arbi kita pindahkan ke sekolah lain saja. Aku juga merasa kalau Tasya ada yang tidak beres dengan dirinya. Kecil-kecil, tapi sudah berani peluk-peluk." Tutur Bara.


"Aku tidak ingin berpikir begitu sebenarnya. Tapi... setelah melihat kejadian tadi jadi agak ragu. Kalau Arbi tidak di pisahkan sekolahnya dari Tasya. Dan kamu tahu? Gadis kecil itu memberikan kado berisikan surat cinta untuk anak kita." Gumam Ana cemas.


"Apa? Surat cinta?"


Ana mengangguk pelan.


"Cinta monyet kali, ah." Lanjut Bara menyeleneh berucap.


"Ih, kamu tuh ya. Yang serius dong, sayang." Gerutu Ana mendengus sebal.


"Ya iya dong, sayang. Anak sekecil itu kalau jatuh cinta, namanya ya cinta monyet. Nah kalau kita, namanya cinta sejati." Ujar Bara berkata. Namun di kalimat terakhir agak lembut mengucapkan kata-katanya.


Cup!


Bara mengecup lembut bibir manis Ana.


"Kalau cinta yang ini... cukup kita berdua saja yang boleh melakukannya. Arbi tidak akan melakukan apa-apa, sayang. Aku janji, akan menjaga Arbi dengan baik." Tutur Bara lembut. Sambil membelai rambut panjang Ana yang tergerai.

__ADS_1


Spontan, Ana mengangguk pelan. Sembari membalas perlakuan Bara tadi. Dengan mengecup lembut wajah tampan nya.


Aw, romantisnya!


__ADS_2