Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 74


__ADS_3

Di kediaman Kertajaya. Tepatnya di halaman belakang. Tuan muda kecil tengah menggambar sesuatu. Di temani juga oleh kedua orang paruh baya. Yang ikut bersantai sambil meminum secangkir teh, di sampingnya.


"Kakek... apakah Ayah dan Bundaku akan datang?" tanya Arbi pada Tuan besar.


Suasana hangat yang tercipta. Antara Arbi, beserta Kakek dan Neneknya. Arbi mungkin belum mengetahui. Bila Kakek dan Neneknya lah. Yang memisahkannya dengan kedua orang tuanya.


Karena itu, Arbi sangat menuruti perkataan dari kedua orang tua Bara. Arbi tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tanggap. Bahkan di sekolah, para guru selalu memujinya.


"Kenapa? Apakah hanya Ayah dan Bundamu saja yang kamu pikirkan? Lalu bagaimana dengan Kakek dan Nenek?" jawab Tuan besar seraya menyeruput teh nya.


"Papa.. jangan di perbesar. Arbi masih kecil." Sambung sang Istri.


Sementara Arbi celingak-celinguk tidak jelas. Menatap keduanya seraya mencerna ucapan dari Kakeknya. Arbi sudah mulai mengerti. Hubungan anak dan orang tua. Ia bahkan sering merasa iri pada teman-teman disekolahnya. Yang selalu di antar jemput oleh Ayah dan Ibu mereka.


Hanya Arbi yang selalu di antar jemput oleh sopir. Dan sudah satu bulan ini, ia belum juga bertemu dengan Ana dan Bara. Karena itulah, ia sering menanyakan pada sang Kakek.


"Kakek dan Nenek selalu baik padaku. Kakek, mengapa kita tidak tinggal saja dengan Ayah dan Bundaku? Kenapa kita tinggalnya terpisah? Aku ingin Ayah dan Bundaku juga ikut tinggal disini. Aku ingin bersama Ayah dan Bunda juga." Ucap Arbi bertanya seraya memohon.


Tangan kecilnya terangkat menyatukan keduanya. Wajah imut dan menggemaskan membuat siapa saja yang melihatnya, pasti akan luluh. Tuan besar kaget mendengar penuturan Arbi barusan. 'Rupanya Arbi sudah pintar sekarang' gumamnya dalam hati.


"Aih, kamu sudah besar ya, sekarang. Sini Kakek pangku!" tutur Tuan besar seraya mengangkat tubuh kecil Arbi. Dan membawanya ke dalam pangkuannya.


"Kakek belum menjawab pertanyaan Arbi." Ujar Arbi.


Si kecil mulai aktif ya, Bund. Eh.


"Baik-baik, Kakek akan jawab. Tapi sebelum itu, Kakek ingin menanyakan satu hal."


"Apa itu?" Arbi mendongakkan kepalanya. Menatap wajah sang Kakek.


"Kenapa Arbi ingin Ayah dan Ibu tinggal disini?" tanya Tuan besar berpura-pura tidak tahu.


"Itu.... hm... Arbi iri melihat teman-teman di sekolah Arbi. Mereka selalu ditemani oleh Ayah dan Bundanya. Mereka juga di antar jemput oleh Ayah dan Bunda mereka. Sementara Arbi, selalu di antar jemput oleh Pak Hans." Jawab Arbi tertunduk sedu.


Pak Hans ialah sopir Arbi.


"Kalau Arbi punya Bunda baru. Lalu akan tinggal disini bersama Arbi. Bagaimana?" ujar Tuan besar.


Dasar tidak berperasaan!


"Mengapa harus Bunda baru? Arbi maunya Bunda Arbi!! Kakek jahat! Arbi benci!!" umpat Arbi berteriak sambil berlarian pergi menjauh dari sang Kakek.

__ADS_1


"Kamu terlalu buru-buru mengatakan semua itu pada Arbi. Dia masih kecil, Pah! Tidak seharusnya berkata demikian padanya." Nyonya besar merasa sikap Suaminya sudah kelewat jauh.


"Kamu tidak lihat? Arbi sekarang sudah pintar. Ia sudah mulai sadar dan berpikir sekarang. Dia bukan lagi Arbi yang berusia satu tahun."


"Aku tahu, tapi bagaimana kalau dia membenci Kakek dan Neneknya?"


"Itu tidak akan terjadi. Kamu tenang saja."


Obrolan keduanya berakhir sambil menyeruput secangkir teh. Yang ada di sisi mereka.


Sementara Arbi pergi berlari ke kamarnya.


"Ayah.. Bunda.. aku tidak mau punya Bunda baru! Kakek sungguh jahat sekarang! Dia ingin memisahkan aku dengan Bunda." Arbi mengumpat ke dalam kolong tempat tidurnya.


Menangis sesenggukan karena rasa rindu yang tidak dapat tertahan. Pada wanita yang sangat ia sayang.


Ana, Ibunya.


...***...


Sementara di apartemen Ana dan Bara.


PRANG!


"Sayang.. kamu kenapa?" tanya Bara khawatir.


"Aku... Arbi..." jawab Ana tidak jelas.


Bara membawanya ke dalam kamar. Sesampainya di kamar, ia menduduki Ana ke tepian kasur.


"Ada apa? Kamu kenapa tadi? Coba cerita." Tutur Bara bertanya.


"Aku tiba-tiba teringat Arbi. Aku takut Arbi kenapa-kenapa sekarang." Jawab Ana dengan suara bergetar.


Badannya seketika melemah dan...


Tes..


Air matanya luruh tak terbendung. Tangis Ana pecah, tubuhnya menghamburkan ke dalam dekapannya Bara. Sementara Bara bingung harus melakukan apa.


Tanngan Bara terangkat mengelus lembut pundak Ana. Memeluknya dengan sangat erat. Ia takut Ana kembali sakit seperti waktu lalu.

__ADS_1


"Sayang.. Arbi gak apa-apa, kok. Mungkin kamu terlalu berpikir banyak mengenai Arbi. Kamu tahu? Kakek dan Neneknya sangat menyayanginya. Ia sekarang tumbuh jadi anak yang cerdas dan tanggap. Sama sepertimu, Ibunya yang cantik." Jelas Bara.


Ana tidak memberikan respons apa-apa terhadapnya. Pikirannya lagi-lagi mengarah pada Arbi. Mungkin ini yang dinamakan ikatan batin. Terjadi antara hubungan anak dengan sang Bunda.


Cup


Bara mengecup lembut kening Ana. Memberikan rasa aman dan nyaman padanya. Agar Ana kembali tenang dan tidak lagi terpuruk, memikirkan Arbi.


"Aku ingin bertemu Arbi." Ucap Ana tiba-tiba.


"Besok kita pasti ketemu Arbi. Sekarang kamu istirahat dulu. Kalau kamunya sedih gitu, nanti Arbinya juga ikutan sedih." Ujar Bara menenangkan.


Ana mengangguk paham.


Bara mengambil ponselnya, mencari nama Arka. Dan mulai mengetik sesuatu di layar ponselnya.


[Ka, menurut Lo, kalau orang tiba-tiba sedih karena sesuatu, itu kenapa?] -Bara


Memang dasarnya bocil ya bocil, ya. Gitu aja pake nanya ke Arka. Aih!


Eh.


Beberapa menit kemudian...


[Memangnya kenapa? Kak Ana sedih lagi? Lo apakan dia, idiot?! Awas aja kalau sampai terjadi sesuatu. Habis Lo, kam*pret sama Gue!] -Arka


Tahu aja nih, Babang tampan. Eh.


[Eh.. e-enggak. Tenang aja, Ana baik-baik aja. Gua cuma tanya doang, Bambang!] -Bara


[Heh, nama Gue Arka. Bukannya Bambang!] -Arka


[Iya, iya sorry. Gimana menurut Lo? Sama pertanyaan Gua tadi.] -Bara


[Biasa itu terjadi karena memang ada sesuatu. Seperti adanya kontak batin.] -Arka


'Mungkinkah Arbi memang terjadi sesuatu disana?' gumam Bara dalam hati.


Bara tak lagi membalas pesan Arka. Ia menatap ke arah Ana. Yang kini tengah tertidur di sampingnya.


'Maafkan aku, An. Disaat begini, aku tidak bisa bantu apa-apa. Percayalah, sebentar lagi kita akan bersama Arbi.'

__ADS_1


BARNA Corp yang sekarang sudah melonjak naik. Bahkan sahamnya sudah hampir menyaingi saham Kertajaya Group. Itu semua juga berkat kerja keras Arka. Yang ikut mengelola perusahaan Bara dan Ana.


Sudah saatnya untuk BARNA Corp maju. Dan tidak lagi menjadi perusahaan kecil dimata para pebisnis lama. Juga sudah saatnya, untuk Bara mengambil Arbi kembali. Dari tangan kedua orang tuanya.


__ADS_2