Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 96


__ADS_3

"Gimana keadaannya, dok? Apa Mamaku baik-baik saja?" Tanya Bara pada dokter yang memeriksa Nyonya Kertajaya.


"Sepertinya Nyonya mengalami serangan jantung ringan. Istirahat yang teratur dan jangan buat ia mendengar sesuatu hal yang membuatnya kaget." Jawab sang dokter.


"Apa? Mamaku terkena serangan jantung?" Bara seakan tak percaya. Belum lama Ayahnya juga meninggal, karena serangan jantung. Kali ini, ia tak akan membiarkan Mamanya juga mengalami hal yang sama. Matanya menatap pada Pak John.


"Cari tahu semuanya!" Perintah Bara.


"Baik, Tuan muda." Pak John menyetujui dan pergi. Tinggalah Bara dan Nyonya Kertajaya yang berada di kamar itu. Dokter yang memeriksanya pun juga ikut pergi. Setelah selesai memberikan resep obatnya.


Bara duduk disamping Ibunya. Menatap wajah Ibunya yang sudah mulai keriput. Matanya masih terpejam kuat. Bara hanya bisa menunggunya sampai ia bangun.


.........


Cat merah maroon terlihat masih basah di antara kuku jari milik Sofie. Tampaknya saat ini, ia sedang berada di sebuah hotel mewah. Yang sudah ia pesan sejak tadi. Mungkinkah ia tidak akan kembali lagi, ke rumah utama Kertajaya?


"Huh! Dasar wanita tua! Begitu saja pingsan! Tidak berguna! Tidak apa, yang penting aku sudah punya tempat tinggal baru sekarang. Ada bagusnya juga aku pergi dari rumah itu. Tidak akan ada yang tahu rencanaku untuk si wanita ******* itu! Ha ha ha!" Ujar Sofie seraya tertawa jahat.


Sementara itu, kembali pada rumah utama. Nyonya Kertajaya sudah sadar dari pingsannya. Bara lega melihatnya. Bergegas para pelayan langsung melayani Nyonya besar mereka. Karena mendengar sang Nyonya besar mereka telah sadar dan pulih.


"Ba-bara? K-kamu disini, Nak?" Tanyanya pada putra semata wayangnya. Bara mengangguk pelan.


"A-aku pikir kamu akan membenci Mama, Nak." Nyonya Kertajaya mengusap lembut wajah Bara. Wajahnya terlihat pucat.


"Mama istirahatlah yang cukup, aku akan kembali ke apartemenku. Ana pasti sudah menungguku disana." Gumam Bara seraya beranjak bangun untuk pergi. Namun, hal itu keburu ditepis oleh sang Ibu.


"Tunggu, Nak! Ada hal penting yang harus Mama beritahu kamu." Bara langsung menghentikan langkahnya.


"Apa itu, Ma?"


"Sofie, dia akan merencanakan sesuatu pada Ana. Sebaiknya kamu harus selalu berada disisinya. Mama tidak bisa banyak membantu. Karena Sofie cukup licik. Dia mengancam Mama dan tidak segan untuk menghancurkan Kertajaya Group. Apa kau tahu? Keluarganya Arsena Group. Yang sejak dulu selalu membantu perusahaan kita. Bahkan hingga besar seperti sekarang ini. Huh, andai saja, Papa-mu masih ada. Pasti ia tak akan berbuat begini."

__ADS_1


"Tapi kemungkinan juga aku tetap akan menikah pada wanita itu. Kalau pun Papa masih hidup. Bukankah itu semua rencana kalian berdua? Aku tiba-tiba dijodohkan padanya?!"


"Ba-bara, a-apa ingatanmu sudah kembali? Bu-bukankah kau amnesia?" Nyonya Kertajaya tampak kaget. Saat mendengar Bara berkata. Ia takut, bila Bara akan kembali membencinya seperti dulu. Saat ia belum kecelakaan dan berubah jadi amnesia.


"Tidak, aku masih lupa. Aku hanya menganalisis semua yang terjadi belakangan ini. Aku kecelakaan, lalu mengalami gagar otak dibagian belakang kepalaku. Dan kalian datang ke rumah sakit, untuk menjemputku pulang ke rumah ini. Tidak lama kemudian, kalian menggelar upacara pertunangan untukku dan Sofie. Bukankah itu semua aneh? Lalu Ana, dia datang bersama teman lelakinya dan satu orang wanita. Mengatakan bahwa Ana ialah Istriku yang sebenarnya. Ana juga mengatakan bahwa ia sedang mengandung bayiku. Apakah itu semua kebetulan? Tidak mungkin bukan, aku tidur dengan orang yang tidak kukenal? Lalu mengapa dua orang temannya juga datang dan membelanya? Bukankah itu semua sudah jelas?" Celoteh Bara berusaha menjelaskan semuanya. Nyonya Kertajaya hanya diam sembari mencerna setiap kata yang diucapkan putranya.


"Be-benar, yang kamu katakan memang benar. Itu semua salah Mama dan Papamu. Yang membawa Sofie datang ke rumah ini. Maafkan Mama, Nak. Mama sudah egois waktu itu." Ucap Nyonya Kertajaya tertunduk sedu.


"Semua sudah terlambat, Ma. Wanita itu bahkan sekarang jadi berbahaya bagi keselamatan hidup Ana dan calon bayiku." Mendengar kalimat terakhir Bara, Nyonya Kertajaya sontak langsung tercengang kaget.


"Astaga, Nak. Cepat pulang dan temui Ana! Mama takut ia kenapa-kenapa."


"Aku pergi!" Pamit Bara dengan suasana hati yang tidak karuan. Ia benar-benar takut akan terjadi sesuatu hal pada Ana.


.........


Ting!


Suara bel apartemen Ana berbunyi. Kedengarannya seperti ditekan berkali-kali. Ana mengintip dari lubang kecil di belakang pintu itu. Seorang lelaki tengah berdiri di depan pintu apartemen Ana. Dengan wajah paniknya ia sembari celingukan melihat kesana-kesini.


"Sayang..." ucap Bara sembari memeluk Ana erat, tanpa menjawabnya.


"Ada apa sih? Wajahmu kenapa? Kok panik gitu? Coba sini cerita." Ajak Ana menuntunnya untuk masuk ke dalam dan tak lupa mengunci kembali pintu apartemen itu.


Keduanya berjalan ke ruang santai. Sementara Arbi tengah berada di dalam kamar. Yang sedang tertidur pulas di alam bawah sadarnya.


"Kamu.. baik-baik aja, kan? Gak kenapa-kenapa, kan?" Tanya Bara khawatir. Ana mengernyit sebentar.


"Aku.. baik, kok. Memangnya kenapa? Kamu kenapa sih? Bikin aku jadi bingung, tahu." Ana menenggelamkan kepalanya di dada bidang Bara.


"Aku takut terjadi sesuatu sama kamu dan Arbi." Balas Bara seraya mengelus lembut rambut Ana.

__ADS_1


"Sayang... aku gak apa-apa kok. Ada apa sih? Cerita dong."


"Hm.. tadi Mama pingsan." Ujar Bara, Ana langsung terbangun. Wajahnya tercengang kaget mendengar hal itu.


"K-kamu serius? B-bukannya tadi Mama baik-baik aja, ya?!"


"Loh, kok kamu bisa tahu? Memangnya kamu tadi ketemu sama Mamaku?" Bara curiga.


"Eh, i-itu, anu, i-iya." Ana terkekeh kecil dengan canggungnya.


'Duh, Bara bakalan marah nggak, ya? Aku gak jujur sama dia' gumam Ana dalam hati gelisah.


"Jadi tadi, sebelum Mama pingsan, kalian habis bertemu? Kok bisa, kamu gak bilang sama aku dulu?" Bara sepertinya kecewa. Ana menghela napas berat.


"M-maaf, aku takut kamu gak akan mengizinkan aku untuk bertemu Mama." Jawab Ana tertunduk sedu.


"Aih, kok kamu mikirnya gitu? Siapa bilang aku gak setuju? Aku seneng kok, kamu bisa ketemu Mama. Tapi, lain kali kamu harus bilang dulu ke aku. Kan aku bisa sekalian mengantar kamu juga. Apalagi kamu sekarang lagi hamil begini. Duh, sayang." Celoteh Bara mengomel. Ana semakin merasa bersalah dengan tindakannya sebelumnya. Wajah sedunya tak berani menatap Bara. Tampaknya Ana menangis, karena terdengar rintihan kecil yang keluar dari bibirnya.


"Sayang.." Tutur Bara sembari mendekap Ana ke dalam pelukannya. Tangis Ana semakin pecah.


"B-bara... m-maaf... hiks.. hiks.." gumam Ana terbata. Bara mengelus lembut pundak Ana.


Cup


Beberapa kecupan di daratkan pada tubuh Ana. Bara tidak tega melihat Ana menangis.


"Udah yuk, berhenti nangisnya. Kalau kamu nangis, nanti yang di dalam sana juga menangis." Tutur Bara sembari mengelus bagian perut Ana.


"Maaf.. aku gak jujur sama kamu." Ucap Ana seraya mengeratkan pelukannya. Tidak ingin berjauhan dengan Bara.


"Manja, deh."

__ADS_1


"Biarin, wle!"


"Aku makan, nih." Ucap Bara terkekeh. Ana juga ikut terkekeh dengan suasana hangat kala sore itu.


__ADS_2