Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 148


__ADS_3

Jam terus berputar mengelilingi angka-angka nya. Mengingat kejadian ice cream yang ada di mulut Arbi, dan mengenai baju jas milik Bara, tak membuat kemarahan pada lelaki itu.


Setelah kejadian itu, mereka kembali ke hotel penginapan. Walau pun harus ada kejar-kejaran di antara malaikat kecil dengan sang Ayahanda. Bak seperti Tom and Jerry. Dalam serial kartun yang mengisahkan antara kucing dengan tikus.


Tidak terasa, enam hari sudah. Ana dan Bara berada di Paris. Waktu liburan mereka tersisa satu hari lagi. Dan besok adalah hari terakhir.


Ana memilih untuk langsung bersiap keberangkatan menuju Indonesia. Namun, Bara tampaknya masih menikmati masa-masa liburan mereka disini. Sampai tenggat waktu esok sore tiba.


"Kita sudah terlalu lama berada di Paris, dan menghambat kerja kamu pada perusahaan. Sekolah Arbi pun juga jadi tertinggal. Kalau liburnya bertambah satu hari lagi, justru akan semakin tertinggal, sayang." Celoteh Ana begitu mencemaskan segalanya.


SET


Tangan Bara bergelayut manja memeluk Ana dari belakang. Menyentuh perut langsing itu. Lalu mengelusnya dengan lembut. Meskipun sudah tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.


Cup!


Kecupan hangat di daratkan pada tengkuk leher jenjang putih Ana. Bara mengendus setiap lekukan tubuh nya. Menikmati masa berdua mereka. Karena malam ini, Arbi tengah berada di kamar pelayan wanita. Malaikat kecil itu rupanya menghindari Ayahanda nya.


Takut, bila diberikan materi tersulit yang tak mudah ia kerjakan. Padahal sebenarnya Bara tidak benar-benar akan melakukan itu padanya.


"A-aku akan menginap di kamar Mbak pelayan ya, Bunda?" Pinta Arbi, mengingat sebelumnya.


"Menginap?" Tanya Ana kebingungan. Anak itu mengangguk pelan.


"Aku ingin dibacakan dongeng oleh Mbak pelayan. Bunda tidak apa-apa, kan?" Arbi berdalih.


Mau tidak mau, Ana menyetujui permintaan si malaikat kecil. Di tahun-tahun sebelumnya, Arbi memang di besarkan dan tumbuh dirumah utama. Tak ada Ayah atau pun Bunda. Terbiasa tidur ditemani oleh pelayan di dalam kamarnya. Sembari dibacakan dongeng sebelum memasuki alam mimpi nya.


Karena itu, Ana merasa tak berhak untuk melarang nya. Asal Arbi senang, Ana juga ikut senang.


Kembali pada Bara yang tengah bergelut mesra dengan Ana. Seruan napas nya terdengar hangat di telinga Ana.


"Sayang, aku jadi gelisah bila berpisah begini dengan Arbi." Tutur Ana sedu.


SET


Bara mengelus lembut rambut cokelat Ana. Yang terurai panjang ke bawah. Di selipkan ke antara daun telinga Ana. Yang terlihat memerah saat ini.


"Telinga kamu, merah." Balas Bara seraya mengecupnya.


"Arbi baik-baik saja, sayang. Besok pagi kan, bisa bertemu lagi." Lanjut Bara berucap.


"Tapi besok itu masih lama, Bara. Sekarang ini baru pukul 11 malam. Berarti harus menunggu tujuh jam kemudian." Ujar Ana tak sabar menunggu.


"Karena itu, kita juga harus istirahat sekarang. Kalau ditunggu sampai besok pagi, memangnya kamu sanggup? Bergadang untuk Arbi?"


Ana menggeleng pelan.


"Nah, kalau begitu... Istriku sayang harus menurut, ya." Tutur Bara lembut. Sembari menjatuhkan tubuh Ana di atas kasur empuk itu.


Bara mendekapnya dengan penuh kelembutan, serta kasih sayang. Menatap dalam mata indah itu. Yang hitam pekat tanpa riasan wajah sedikit pun.


Cup!


Beberapa kecupan di daratkan Bara pada wajah cantik Ana. Yang saat ini tengah berhadap-hadapan dengan nya. Meringkuk miring seraya memperhatikan Ana dengan seksama.


"Kamu kenapa, sih? Ngelihatin nya begitu banget." Ucap Ana sebal.


Bara tersenyum meringai menatapnya.


"Habisnya kamu cantik banget sih, sayang. Aku tidak bosan melihatnya. Kamu terlalu sempurna untukku, Ana." Gumam Bara.

__ADS_1


"Kamu selalu saja begitu. Mengatakan hal yang sama secara berulang kali." Ucap Ana lembut. Seraya mengelus wajah tampan Bara.


Keduanya saling memiring dan berhadapan. Tiduran diatas kasur empuk itu.


"Di liburan kedua nanti, bagaimana kalau kita berdua saja yang pergi?" Ujar Bara bertanya.


"Berdua? Lalu Arbi? Ara dan Arez?" Balas Ana berbalik tanya.


"Mereka ditinggal saja di rumah utama. Mereka kan, masih sangat kecil. Dan aku juga ingin menikmati liburan kedua nanti hanya berdua denganmu." Celoteh Bara seraya mengecup bibir Ana lembut.


Cup!


"Aku ingin bebas berdua bersamamu sambil menikmati liburan yang menyenangkan." Lanjut Bara berucap.


"Tapi Arb..." ucap Ana terpotong. Dengan sentuhan Bara yang menghentikan perkataan nya.


"Sssttt! Kamu terlalu mengkhawatirkan anak-anak. Aku kan, juga butuh perhatianmu." Bisik Bara lembut.


"Kamu mau aku perhatikan bagaimana, sayang?" Tanya Ana lembut. Sembari mengecup lembut wajah tampan Bara.


"Lagi..." pinta nya lagi.


"Sudah larut malam, sayang. Yuk, tidur!" Ucap Ana.


Kedua mata Ana mulai berubah meremang. Sampai terpejam dengan sendirinya.


Gurat senyum Bara mengukir mengembang menatap dalam Ana. Tangan terangkat mengelus lembut wajah putih cantiknya.


Cup!


Bara mengecupi keseluruhan wajah Ana.


"Selamat tidur, sayang. Mimpi yang indah tentangku, ya." Gumam Bara pelan. Sembari mengeratkan dekapnnya memeluk Ana.


Ana.


__________


Pagi nya Ayahanda Bara, terbangun mendahului Ana. Samar-samar matanya terbuka. Memandangi wanita yang terlihat tertidur di sebelahnya. Tangan lalu terangkat membelai lembut wajah cantik Ana.


Cup!


Bara mengecup lembut kening Ana. Sebagai ucapan selamat pagi untuk wanitanya. Tubuhnya lalu beranjak bangun menuruni ranjang tinggi itu. Langkah kaki Bara berjalan memasuki diri ke dalam toilet. Untuk melakukan ritual mandi paginya.


Beberapa menit kemudian...


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu kamar diketuk berulang kali. Diringi suara teriakan anak kecil yang terdengar begitu melengking di balik pintu itu. Tepat dengan keluarnya Bara yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya dari dalam kamar mandi.


Bara keluar hanya mengenakan handuk putih yang melilit pada pinggang nya. Perut sixpack nya terlihat seksi. Berbentuk menyerupai roti sobek. Tanpa ia sadari, seseorang baru saja bangun dari mimpi indahnya.


KRIEK!


Bara membuka pintu kamar hotel itu. Terlihat sesosok malaikat kecilnya yang sudah rapi mengenakan pakaian baru. Wajah mungilnya tampak sedikit putih. Seperti memakai baby powder yang di poles pada wajah halus nya.


"A-Ayah?" Ucap Arbi gugup. Khawatir bila Ayahanda membalas mengenai kecelakaan ice cream semalam.


"Menurutmu, pria kecil?" Balas Bara seraya mengangkat tubuh kecil Arbi. Menggendong serta membawanya masuk ke dalam kamar.


Arbi kelihatannya begitu senang. Bara tidak lagi mengingat kejadian semalam. Juga tak memarahinya. Apalagi mengungkit materi soal tersulit.

__ADS_1


"Wangi! Kamu sudah mandi, ya?" Tanya Bara, mencium aroma tubuh malaikat kecil nya. Yang sudah harum seperti wangi tubuh bayi. Sembari berjalan mendekati ranjang.


HAP!


Bara menaruh Arbi diatas kasur empuk itu dengan hati-hati. Melihat Ana yang masih lelap dalam tidurnya, tangan kecil Arbi sedikit jahil menyentuh wajah Ana.


"Bunda... ini aku! Bunda kenapa belum bangun? Hari ini kita pulang ke Indonesia kan, Bunda?" Gumam Arbi berbisik di telinga Ana.


Ana terlihat sedikit menggeliat. Mendengar ada suara yang berbicara di telinga nya. Kedua matanya terbuka secara perlahan.


"Arbi? Ini Arbi kan?" Tanya Ana. Suaranya terdengar lemah.


Arbi kecil mengangguk cepat.


"Benar, ini aku, Bunda!" Jawab Arbi bersemangat.


"Ah, sayang! Bunda rindu sekali, tahu." Lanjut Ana berucap. Sambil membenarkan posisi nya menjadi duduk.


Cup!


Ana mengecup lembut kening Arbi. Hidung nya menghirup aroma wangi bayi pada wajah serta tubuh kecil nya.


"Sayang, kamu sudah mandi ya?" Ujar Ana bertanya lagi.


"Sudah, Bunda." Sahutnya.


"Kamu juga mandi, sayang. Atau mau aku mandikan sekalian?" Sanggah Bara tiba-tiba. Dalam keadaan sudah berbalut pakaian santai.


"Mandikan? Bunda mau di mandikan sama Ayah? Bunda kan, sudah besar. Kok harus di mandikan begitu, sih?" Celoteh Arbi mulai bertanya yang aneh-aneh.


Ini semua gara-gara Bara!


Eh.


"Ah, i-itu... t-tidak seperti yang Arbi pikirkan, sayang. Ngomong-ngomong, Arbi mau sarapan pagi bersama Bunda, tidak?" Tukas Ana berdalih.


"Mau! Mau! Mau!" Jawab Arbi bersemangat.


Tangan Ana terangkat mengelus lembut wajah mungil Arbi.


"Bunda pikir, Arbi mau sarapan pagi bersama Mbak pelayan." Tutur Ana sedu.


Arbi lantas menggeleng pelan.


"Tidak, Bunda. Aku akan tetap bersama dengan Bunda. Semalam itu... aku hanya menghindar dari Ayah." Sambung Arbi membalas ucapan Ana. Dan diakhiri bisikan kecil di telinga nya.


Kedua mata Ana berubah berbinar. Dari yang sedu menjadi senang. Mendengar Arbi berkata yang sebenarnya padanya. Makna nya, Arbi begitu mempercayai Ana.


Sementara itu, Bara justru terkekeh sendirian. Melihat ekspresi wajah panik Ana. Yang tampak kesulitan menjawab pertanyaan dari Arbi tadi.


Kudanil jantan tidak ada kapok-kapoknya, ya!


Eh.




Biarkan cinta itu tumbuh, seperti hijau nya tumbuhan. Dan mengalir mengiringi alur pada kisah yang akan datang. Di kehidupan selanjutnya. Seperti aliran sungai Nil. Kisah cintaku yang hidup bersamamu, Ana.


__ADS_1


\-Bara


__ADS_2